Rabu, 23 Desember 2009

KUTEMUKAN CINTA SENIMAN DI DALAM BUS

Oleh: Dede’ Lia, X IPS 4

Sudah satu jam aku memandangi orang-orang yang berlalu-lalang di depanku. Tapi bus jurusan Kota Bogor belum juga datang. Kalau tidak karena ada kabar bahwa Ibu sakit, tak mungkin aku masih berdiam diri di tempat ramai dan berdesak-desakan seperti ini.
Satu jam lewat dua puluh menit, akhirnya bus yang kutunggu-tunggu datang juga. Segera kuambil ransel cokelat di sampingku dan kujatuhkan ke atas pundakku. Kemudian aku berjalan di tengah-tengah kerumunan banyak orang. Sesampainya dalam bus, aku memilih tempat duduk di temgah samping kiri. Setelah kurebahkan tubuhku di atas tempat duduk dekat jendela, penat yang kurasakan sedikit berkurang. Kembali ku teringat tentang Ibu sang pelita hati. Ibu adalah segalanya bagiku. Meski Ibu tak pernah memanjakanku, Ibu memberikan kasih sayangnya sepenuh hati padaku. Kasih sayang yang tak pernah kudapatkan dari orang lain tak terkecuali Ayahku. Karena beliau sudah tiada saat aku masih dalam kandungan. Ibulah yang menjadi Ayahku. Menjadi tulang punggung keluargaku.
“Maaf, boleh saya duduk di sini?” Sebuah suara lembut membuyarkan lamunanku. Aku menoleh pada sumber suara itu. Seorang laki-laki dengan tubuh jangkung berdiri di dekatku. Mungkin seorang seniman. Karena dia membawa berbagai alat lukis. “Maaf nona, boleh saya duduk di sini?” kembali laki-laki itu melontarkan pertanyaan yang sama. Aku hanya mengangguk. Kembali pada posisi semula. Dia duduk di sampingku. Kemudian dia membuka jaket hitamnya. Dan hanya kaos merah yang melekat di tubuh atletisnya.
Suara mesin yang berputar menimbulkan kebisingan dan menjadi semakin kencang. Kurasakan getaran yang disusul gertakan sesaat. Pertanda bahwa bus sudah melaju.
Aku menyibukkan diri dengan membolak-balikkan majalah yang kubeli di toko dekat terminal. Hampir satu jam aku melakukannya tanpa ingin membacanya. Hanya sekedar melihat gambar di dalamnya.
Seorang pengamen yang berdiri di tengah-tengah penumpang membuatku menutup majalah dan mendengarkan tuaian lagunya dengan gitar yang mengiringi liriknya. Seusai menyanyikan Penjaga Hati ciptaan Ari Lasso, pengamen tersebut menadahkan topi hitamnya dan mengahampiri setiap penumpang bus. Dengan suka rela para penumpang melempar uangnya ke dalam topi tersebut. Aku mengambil dompet di saku celanaku dan kukeluarkan uang lima ribuan. Saat topi hitam sang pengamen berada di depanku, kuulurkan tanganku, dan dengan bersamaan laki-laki di sampingku mengulurkan tangannya sehingga tangan kami bersentuhan. Aku menoleh padanya. Kami beradu pandang. Meski hanya sekejap, aku bisa merasakan sesuatu yang memikat yang membuat jantungku berdetak keras. Suara jantungku yang tak beraturan membuat aliran darahku terganggu. Dia tersenyum padaku. Tapi aku tidak mampu untuk membalas senyumnya. Segera kupalingkan muka dan kusandarkan kepalaku ke sandaran kursi. Perlahan kutarik nafasku. Berusaha untuk menenangkan organ yang bernama jantung. Aku juga tidak paham mengapa jadi cepat sekali berdetaknya. Kupejamkan mata berusaha sesantai mungkin. Sampai akhirnya kau melayang ke dalam mimpi.
“Neng, neng bangun! Sudah sampai.” Suara kernet bus terdengar di telinga berusaha membangunkanku. Perlahan kubuka mata yang terasa berat. Aku tersentak ketika tahu aku satu-satunya penumpang yang masih ada dalam bus. Segera kuberanjak dari tempat duduk dan kupakai ransel cokelatku. Saat hendak melangkah pergi, kusempatkan untuk menoleh pada tempat duduk seniman muda. Matakuk menemukan sebuah lukisan di sama. Lukisan yang mirip wajahku. Atau memang wajahku sendiri? Kubaca tulisan yang tertulis di dalamnya.

Teruntuk
Cantik yang tak kukenal

Sikap dinginmu membuatmu seolah angkuh dan melekat pada sebuah sikap yang amat tenang. Ketenangan yang menyatu dalam wajah ayumu mampu membuat jari-jemariku menari-nari membentuk wajah indahmu.

Dieas


Setelah membacanya kulipat dengan rapi kertas putih itu. Kembali kulangkahkan kaki keluar bus dengan sebuah senyum yang tercipta karena seorang yang tak kukenal.
Bus tempat aku menemukan cinta di dalamnya melaju pergi meninggalkanku bersama rasa yang membuatku melayang bersama bayangan seniman muda.
Semoga waktu masih memihakku menemukannya kembali dengan rasa yang sama. Dan membangun cinta seutuhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar