Selasa, 15 Desember 2009

Merajut Mimpi Bunda

oleh: Musyarrofah, XII IPS 1

Sudah bebrapa kali aku memergoki ayah menelepon dengan suara amat pelan, seakan khawatir aku mendengarnya. Dari suara yang sempat ku tangkap aku yakin orang di seberang telepon itu seorang wanita. Perasaan tak rela itu kembali muncul. Ya, sejak kehilangan ‘Nda delapan tahun yang lalu, selalu ada perasaan tak rela melihat ayah bebrbicara akrab dengan wanita yang tak ku kenal. Aku masih tak rela jika harus melihat ayah bersanding dengan wanita selain ‘Nda. Mungkin ini memang tak adil untuk ayah tapi luka itu masih terlalu perih untuk menerima semuanya.
Itulah yang memaksaku meminta penjelasan pada ayah.
“Yah, akhir-akhir ini Nan lihat ayah sering menelpon seseorang, urusan pekerjan ya, Yah?” tanyaku suatu siang saat kami sedang bersama di ruang tamu
“Eh..ehm ya itu relasi kerja ayah.” Jawab ayah sambil buru-buru mengambil teh yang telah ku sediakan. Kenapa ayah terlihat gugup? Aku semakin penasaran.
“Kalau Nan boleh tahu, siapa namanya, Yah?.”Aku terus berusaha mendapat jawaban yang pasti.
“Sudahlah Nan, hal itu tak penting untukmu. Lebih baik sekarang kau istirahat.” Jawab ayah sambil beranjak menuju kamarnya.
Kenapa sepertinya ayah tak mau menjawab pertanyaanku? benarkah dugaanku bahwa ayah tengah mencari pendamping hidup pengganti ‘Nda? Tidak! Ayah tidak mungkin melakukan hal itu, aku sangat tahu ayah sangat mencintai ‘Nda dan memang hanya ‘Nda yang pantas menjadi pemdamping ayah, bukan wanita lain, siapa pun dia. Aku yakin itu.

@@@
Malam itu ku dengar Hp ayah berbunyi, di layar terlihat sebuah nomor baru. Karena tak ada ayah maka ku angkat saja.
“Halo, assalamu’alaikum” sapaku.
Tut..tut.. lho kok dimatiin??
“Siapa Nan?” tiba-tiba ayah sudah ada di belakangku.
“Tahu ni Yah, setelah Nan angkat malah dimatiin.” Sahutku kesal
“Coba ayah lihat nomornya” ku serahkan Hp itu pada ayah. Sekilas sempat ku lihat ayah tertegun melihat nomor itu.
“Siapa Yah?” tanyaku penasaran.
“Bukan siapa-siapa, sudah malam kau masih tak ingin tidur?”
“Aku masih ingin bersama ayah” ucapku sambil menatap mata ayah.
“Sini sayang ke pelukan ayah!” ucap ayah sambil merentangkan tangannya, siap merengkuhku dalam pelukan hangatnya.
“Ayah..” panggilku pelan.
“ya?”sahut ayah tanpa melepas pelukannya.
“Ayah tak ingin menikah lagi, kan?” ku tatap mata ayah, berusaha menangkap sinar kejujuran di sana.
“Kenapa?” tanya ayah sambil melepas pelukannya.
“Nan belum rela.” Aku tak tahu kenapa aku sampai hati mengatakan kalimat itu. Ayah hanya menatapku kemudian merengkuhku kembali dalam pelukannya.
@@@

Tepukan lembut itu membuatku terbangun.
“Nan…Nanda..” ku dengar suara ayah membangunkanku.
“Ada apa Yah, Nan masih ngantuk” sahutku malas
“Bangun sayang, ada tamu nungguin kamu, mandi dulu sana?”
“Tamu?” tumben ada tamu mencariku biasanya kalau teman-temanku langsung masuk sendiri ke kamar.
“Sudahlah, nanti kau juga tahu. Sekarang mandi!” suruh ayah sambil melangkah keluar kamar.
Setelah mandi dan berdandan seperlunya aku melangkah ke ruang tamu.
“ ‘Nda….” Aku terpekik kaget melihat seseorang yang…..Allah , ‘Ndakah itu??
“Nan…”tiba-tiba ayah sudah merengkuh bahuku dan membimbingku duduk.
Aku masih tak percaya dengan apa yang ku lihat. Sosok wanita di depanku benar-benar mirip ‘Nda. Bentuk wajahnya, hidungnya, matanya bahkan caranya memandangku sama seperti ‘Nda, teduh.
“Lho, kok bengong Nan?” sebuah suara lembut membuatku sadar bahwa ada orang lain di samping wanita itu.
“Bu Ratna..” ku cium takdzim tangan beliau. Bu Ratna adalah sahabat dekat ‘Nda. Semenjak kepergian Bunda kepada beliaulah aku banyak bercerita tentang kerinduanku pada ‘Nda. Karena itulah kami sangat dekat.
“Ini, Dek Hayna, sepupu ibu” Ratna? Allah, dia memang bukan ‘Nda…
Pertemuan itu berakhir dengan meninggalkan kerinduanku yang amat sangat pada ‘Nda…
@@@
‘Nda…Nan marah pada ayah. Nan melihat ayah sedang bersama tante Hayna di sebuah restoran. Mereka terlihat akrab bahkan sangat akrab. Nan tak rela ‘Nda ……Nan tak ingin ayah melupakan ‘Nda. ‘Nda ngerti Nan kan??
“Nan, boleh ayah masuk?” ku dengar ayah mengetuk pintu kamarku.
“Tidak dikunci” sahutku ketus sambil menutupi wajahku dengan bantal. Aku tak ingin berbicara dengan ayah.
“Nan, ayah mau ngomong sesuatu” ucap ayah lirih. Aku tak bersuara.
“Nan, ayah mau menjelaskan semuanya”
“Apa yang akan ayah jelaskan? Bahwa ayah telah melupakan Bunda dan akan menikah dengan tante Heyna, begitu?” aku mulai tak bisa mengontrol emosi.
“Nan!!” ayah membentakku.
“Ayah membentak Nan? Sejak kapan ayah bisa membentak Nan?” mataku mulai berkaca-kaca.
“Maaf” terlihat sorot mata ayah penuh penyesalan.
“Nan benar-benar nggak nyangka secepat itu ayah bisa melupakan ‘Nda, dulu ayah sering bilang sama Nan bahkan kepada semua keluarga kita, bahwa ayah sudah merasa cukup dengan kehadiran Nan bahwa merawat Nan adalah kebahagiaan bagi ayah. Bukankah itu yang sering ayah bilang??” tangisku pecah.
Ayah keluar dari kamarku.
‘Nda, Nan merasa sendiri…..

@@@
Sudah tiga hari aku tak bercanda dengan ayah. Jujur aku rindu, tapi perasaan tak rela itu selalu muncul. Hingga suatu malam saat aku terbangun aku mendengar suara ayah. Eantah apa yang menyeret langkahku menuju kamar ayah yang tepat berada di samping kamarku.
Ku lihat ayah tengah tenggelam dalam sujud panjangnya. Lirih, beliau berdoa…
“ Allahu Rabbi yang maha pengasih, berilah hamba kekuatan dan ketabahan untuk membahagiakan puteri hamba. Biarlah hamba berjuang sendirian jika semua ini bisa membuat Nanda bahagia, dialah kebahagiaan hamba….”
“Ayah…” tanpa sadar aku bersuara.
“Nanda, kenapa kamu ada di sini?’” ayah menoleh herah ke arahku
“Maafin Nanda, Yah” ku perlu ayah, erat.
“Maaf untuk apa, Nan?”
“Nanda sudah nyakitin hati ayah, Nanda sudah membuat ayah sedih” terbata aku menjawab.
“Nan, dengar, ayah tak pernah merasa tersakiti karena kaum. Bunda dan kamu adalah kebahagiaan bagi ayah” Ucap ayah sambil mengusap air mata yang maulai mengalir di lekukan wajahku.
Ku tatap ayah penuh penyesalan.
“Ayah tahu, kau belum rela jika harus melihat ayah bersanding dengan wanita selain Bunda. Kau tahu, tiga bulan yang lalu Bu Ratna menawarkan seseorang untuk menjadi pendamping ayah. Tapi ayah telah menolaknya”
“Kenapa” entah kenapa pertanyan itu yang keluar dari mulutku. Persaan tak rela itu seakan lenyap begitu saja.
“Karena ayah tidak akan tega melihat puteri ayah tersakiti”
“Aku? Kenapa hanya aku? Bukankah Bunda juga kan merasa tersakiti?” ku tatap ayah meminta penjelasan.
“Nan. Bundamu adalah wanita terbaik yang pernha ayah temui, bahkan terlalu baik untuk seorang suami seperti ayah. Dia selalu ingin memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang disayanginya, termasuk kita. Kau tahu, setelah dia tahu bahwa dia mengidap penyakit kanker dia segera menyiapkan semuanya bahkan….pendamping untuk ayah…”Ayah tak mampu meneruskan kata-katanya. Dan baru kali ini aku melihat air mata membasahi wajah ayah. Bahkan ketika Bunda meninggal pun ayah tak menangis.
“Siapa orang itu, Yah?” aku masih berusaha kuat mendengar semuanya.
“Heyna” ayah menjawab lirih”tapi sudahlah, sekarang seorang pendamping bukanlah hal penting bagi ayah tapi kamu, kamu adalah yang terpenting bagi ayah. Membahagiakanmu adalah cita-cita terbesar ayah.”
Ku selusupkan kepalaku dalam rengkuhan ayah.
“Nda.....kau mendengar semua ini?
@@@
Alunan nasyid meramikan suasana di rumahku. Para tamu bergiliran memberikan ucapan selamat kepada ayah dan tante Heyna. Ya, hari ini adalah resepsi pernikahan ayah dengan tante Heyna. Aku telah bisa menerima semuanya, bukan karena wajah tante Heyna mirip dengan ‘Nda, tapi karena aku percaya pada pilihan BUNda dan satu hal yang menjadi alasan utamaku, AKU TAK INGIN MELIHAT AIR MATA DI WAJAH AYAH.
“Kakak..” sebuah suara cadel memanggilku. Ku lihat Azzam, putera tante Heyna berlari meghampiriku. Ku rengkuh dia dalam peluikanku” Sekarang, kau adikku sayang” bisikku lirih di telinganya.
“Kakak, dicali ayah” ucapnya lucu
“Ayo kita pergi ke ayah” ajakku sambil melepas pelukanku dan menggandengnya.
Ayah terlihat sedang menerima ucapan selamat dari tamu terakhirnya. Dan tentu saja beliai bersanding dengan tante Heyna.
“Nan…” ayah melambaikan tangan, memanggilku.
“Ayo salaman sama tante Heyna” ucap ayah penuh harap.
“ Ibu..bolehkah Nan panggil Tante Heyna seprti itu?”
“Tentu puteriku, kau adalah anakku, sama seperti Azzam”. Beliau mengusap kepalku.
Aku memang bisa menerima Tante Heya sebagi Ibu tapi panggilan ‘Bunda’ hanya untuk ‘Nda.
“Nan…”Ayah merengkuh kami bertida dalam pelukan hangatnya. Ada sesuatu yang menetes hangat di punggungku. Ayah menangis.
“Hapus air mata itu, ayah. Semua yang ku lakukan karena aku ingin melihat ayah tersenyum. Jadi, Nan mohon jangan menangis.” Pintaku sambil melepas pelukan ayah.
“Jangan menangis, Ajjam jadi cedih”suara cadel Azzam membuat kami tertawa.
“Ya sayang, kita akan berjuang bersama merajut kebahagiaan”Ucap ayah sambil merengkuh kami kembali.
‘Nda… inikah yang kau harapkan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar