Senin, 14 Desember 2009

SEBONGKAH LUKA

Oleh: Zhie Al-gility, XII IPS 1

Aku tak lagi ingin mengingatmu. Yang pada akhirnyamenuntutku untuk menyelami sakit. Sakit yang aku ciptakan sendiri , untuk membuatmu tak lagi mengingatku. Maafkan atas segala sandiwaraku demi kebaikanmu. Maafkan aku yang terllu egois demi memperhatikanmu. Maafkan aku yang tak mengerti kamu demi kebahagiaanmu. Aku pikir, dengan cara itu, aku telah menciptakan kebahagiaan dalam hidupmu. Tapi nyatanya aku salah. aku tak pernah mau tahu inginmu. Egoisku telah menancapkan duri dalam hatimu, yang pada akhirnya menjatuhkanku pada luka, karena lukamu, lukaku.
Ku baru menyadari, saat kabar itu datang membangunkanku darialam persinggahan. Kamu benar-benar mencintaiku, tapi aku yang terlalu buta menilai cintamu. Memang ini yang harus ku lakukan, melepasmu adalah sebuah tuntutan bagiku. Karena dia, gadis yang telah diilihkan orang tuamu lebih untukmu. Aku memang harus mengakhiri semua ini, karena aku tak lagi punya hak untuk bersamamu. Maafkan aku, bukan aku tak ingin mengerti kamu. Tapi situasinya sekarang berbeda. Kamu bukanlah Alfa yang bebas kumiliki seperti dulu. Ada dia yang lebih berhak atasmu.
“Ran, aku tahu kamu masih mencintaiku, ku mohon jangan akhiri semua ini hanya karena orang tak pernah aku inginkan, aku mohon Kiran!” ratapmu kala itu, saat vonis perpisahan aku jatuhkan untukmu. Aku tak bergeming. Aku tak sanggup untuk sekedar menatap matamu yang sayu. Jujur, aku memang masih mencintaimu, tapi cinta ini terlarang untuk kita. Kamu tak lagi sendiri dan seminggu lagi, ijab kabul itu benar-benar akan mengharamkanku atasmu. Aku seorang perempuan yang juga mengerti perasaan dia jika tahu kamu masih menaruh rasa untukku. Aku tidak ingin mengkhianati hakikatku sebagai perempuan. Aku tak ingin menyakiti dia yang terlahir dengan hakikat yang sama denganku sebagai seorang perempuan. Bisa melepasmu, merupakan suatu kebanggaan buatku. Karena aku telah merelakan kebahagiaanku demi kaumku. Untuk dia, aku rela melepasmu.

@@@

3 tahun sudah kisah kita berlalu. Aku tak ingin lagi mengusikmu. Apalagi mengingat rasa itu. karena kita telah melampaui jalan yang berbeda. Kita telah sama-sama menemukan cinta dan kehidupan yang berbeda. Aku cukup bahagia saat ini. Karena mas Ilham telah mengenalkanku pada cinta yang baru. Cinta yang benar-benar ku inginkan lewat bahtera rumah tangga. Dia adalah lelaki yang telah mampu mengobati sebongkah luka masa laluku. Dia adalah lelaki yang mengankat derajatku sebagai seorang isteri. Dan dia adalah lelaki, yang 2 ulan lagi kan merubah statusku menjadi seorang ibu. Ya, janin yng ada dalam kandunganku ini adalah hadiah Yang Maha Pengasih untuk kami. Mas Ilham tak pernah berhenti merperhatikanku, apalagi kondisiku yang saat ini sering sensitif, mungkin memang bawaan dari bayi ini. Dari lelaki inilah aku belajar kesabaran, aku mulai mengenal ketegaran, dan aku mulai mendapatkan pencerahan hidup.
3 bulan sudah, Tuhan menbalikkan kebahagiaanku yang semula bahagia kini penuh duka. Aku mulai kehilangan pegangan hidup.aku tak lagi punya ketegaran, apalagi kesabaran. Tuhan telah merenggutnya dariku. Lelaki itu telah pergi, dan takkan pernah kembali. Dia meninggalkanku dan seorang pangeran yang menggantikan posisinya sebagai lelaki dihidupku. Dia pergi, tepat kalahiran putra kami. Dia pergi saat kebahagiaan sekejab menyapaku. Lalu kepergiannya telah merubah cinta menjadi duka. Aku tak tahu lgi kepada siapakah aku akan bersandar. Jika orang yang selama ini ku jadikn sandaran telah tiada. Kutatap anakku dengan tatapan sendu. Dia tak sempat melihat wjah ayahnya yang rupawan. Dia tak sempat tahu bahw dia mempunyai seorang ayah yang sangat hebat. Dia tak sempat merasakan kasih sayangnya. Tapi aku janji. Aku akan menjadi ibu yang hebat untu Rangga, anakku. Aku harus bangkit demi dia. Karena hanya dialah satu-satunya lasan aku hidup. Walaupun rembuln selamanya takkan lagi purnama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar