Jumat, 07 Agustus 2009

MEMULUNG SAMPAH SEBAGAI ALTERNATIF

Oleh: Farihah Zurni, XI IPA

Matahari belum sempurna menyemburkan sinarnya pada cakrawala, ketika tangan keriputnya mengais-ngais tumpukan sampah yang ada di gerobak Jari-jarinya kokoh memegang ranting kering yang diayunkan kesana-kemari, seolah-olah tak ingin ranting itu lepas. Tangan kirinya menenteng kantong plastik bewarna hitam yang penuh sampah. Kakinya terlapis sandal Skyway yang terpijak ke tanah. Berdirinya tak lagi tegak, digerus usia yang semakin renta. Kurang lebih 75 tahun yang lalu dia terlahir ke dunia ini.
”Ibu sudah tak dapat mendengar dengan jelas, nak!” serunya saat aku menyapanya. Wajah keriputnya terangkat. Matanya menyipit mencoba memperjelas tatapannya yang mulai rabun. Tangannya berhenti mengais.
”Nama ibu, Ena. Ibu punya anak satu, namanya Sey!”katanya, saat aku menayakan namanya. Tangannya lihai mengais-ngais sampah dan memasukkannya ke kantong plastik. Bu Ena bekerja menjadi pemulung sampah sudah kurang lebih dua tahun. Dia menjadi pemulung karena dia sudah tak mapu lagi bertani. Sebagai alternatif dia memilih menjadi pemulung sampah di sekitar pondok pesantren Annuqayah, karena rumahnya juga dekat dengan pondok pesantren Annuqayah.
”Ibu tidak hanya mencari sampah disini, tapi juga di santri putra”tambahnya. Tangannya semakin cepat mengais-ngais sampah yang baru dituangkan oleh seorang santri putri. Dia mulai bercerita bahwa pada awal-awal mencari sampah dua kali sampah yang dia kumpulkan berakhir di tempat pembakaran karena tidak ada pembeli sampah yang berkeliling. Namun dia tidak putus asa; dia tetap mencari sampah lagi hingga sekarang dia sekarang mempunyai pembeli tetap yang datang kurang lebih satu minggu sekali. Sampah yang didapat setiap hari dikumpulkan dan dijemur sebelum dijual pada pembelinya. Setelah datang pembeli, biasanya sampah yang sudah dikumpulkan itu ditimbang, kalau sampahnya terdiri dari kertas biasanya dibeli dengan harga Rp. 1.500 /Kg.
”Lumayan buat pendapatan, agar tidak numpang terus pada anak!”imbuhnya sambil tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar