Senin, 14 Desember 2009

Sebuah Kebencian

Oleh:defa of dergi*

Suara itu merobek-robek hatiku
Mencampakkan aku dalam kesendirian
Menatapku dalam skenario kebencian
Menatapku hingga tatapan itu menangis
aku bangun dengan kesakitan
aku diam dengan penyesalan
Aku tertawa dengan sifat kebencian dan
Aku menangis karena aku adalah orang yang terlempar

*nama ini akan selalu ku kenang di lubuk hatiku yang paling dalam

Kau bukan segalanya bagiku

Oleh: nadzirah el lailah, xii ips

Jangan kau lemahkan aku
Dengan ketiadaanmu
Jangan kau hancurkan hidupku
Dengan kepergianmu
Jangan kuasai jiwaku
Dengan kehadiran ragamu
Meski adaku adalah adamu
Namun ketiadaanmu bukanlah ketiadaanku
Engkau bukanlah segalaku
Ku akan tetap hidup dan
Selalu ada

SEBONGKAH LUKA

Oleh: Zhie Al-gility, XII IPS 1

Aku tak lagi ingin mengingatmu. Yang pada akhirnyamenuntutku untuk menyelami sakit. Sakit yang aku ciptakan sendiri , untuk membuatmu tak lagi mengingatku. Maafkan atas segala sandiwaraku demi kebaikanmu. Maafkan aku yang terllu egois demi memperhatikanmu. Maafkan aku yang tak mengerti kamu demi kebahagiaanmu. Aku pikir, dengan cara itu, aku telah menciptakan kebahagiaan dalam hidupmu. Tapi nyatanya aku salah. aku tak pernah mau tahu inginmu. Egoisku telah menancapkan duri dalam hatimu, yang pada akhirnya menjatuhkanku pada luka, karena lukamu, lukaku.
Ku baru menyadari, saat kabar itu datang membangunkanku darialam persinggahan. Kamu benar-benar mencintaiku, tapi aku yang terlalu buta menilai cintamu. Memang ini yang harus ku lakukan, melepasmu adalah sebuah tuntutan bagiku. Karena dia, gadis yang telah diilihkan orang tuamu lebih untukmu. Aku memang harus mengakhiri semua ini, karena aku tak lagi punya hak untuk bersamamu. Maafkan aku, bukan aku tak ingin mengerti kamu. Tapi situasinya sekarang berbeda. Kamu bukanlah Alfa yang bebas kumiliki seperti dulu. Ada dia yang lebih berhak atasmu.
“Ran, aku tahu kamu masih mencintaiku, ku mohon jangan akhiri semua ini hanya karena orang tak pernah aku inginkan, aku mohon Kiran!” ratapmu kala itu, saat vonis perpisahan aku jatuhkan untukmu. Aku tak bergeming. Aku tak sanggup untuk sekedar menatap matamu yang sayu. Jujur, aku memang masih mencintaimu, tapi cinta ini terlarang untuk kita. Kamu tak lagi sendiri dan seminggu lagi, ijab kabul itu benar-benar akan mengharamkanku atasmu. Aku seorang perempuan yang juga mengerti perasaan dia jika tahu kamu masih menaruh rasa untukku. Aku tidak ingin mengkhianati hakikatku sebagai perempuan. Aku tak ingin menyakiti dia yang terlahir dengan hakikat yang sama denganku sebagai seorang perempuan. Bisa melepasmu, merupakan suatu kebanggaan buatku. Karena aku telah merelakan kebahagiaanku demi kaumku. Untuk dia, aku rela melepasmu.

@@@

3 tahun sudah kisah kita berlalu. Aku tak ingin lagi mengusikmu. Apalagi mengingat rasa itu. karena kita telah melampaui jalan yang berbeda. Kita telah sama-sama menemukan cinta dan kehidupan yang berbeda. Aku cukup bahagia saat ini. Karena mas Ilham telah mengenalkanku pada cinta yang baru. Cinta yang benar-benar ku inginkan lewat bahtera rumah tangga. Dia adalah lelaki yang telah mampu mengobati sebongkah luka masa laluku. Dia adalah lelaki yang mengankat derajatku sebagai seorang isteri. Dan dia adalah lelaki, yang 2 ulan lagi kan merubah statusku menjadi seorang ibu. Ya, janin yng ada dalam kandunganku ini adalah hadiah Yang Maha Pengasih untuk kami. Mas Ilham tak pernah berhenti merperhatikanku, apalagi kondisiku yang saat ini sering sensitif, mungkin memang bawaan dari bayi ini. Dari lelaki inilah aku belajar kesabaran, aku mulai mengenal ketegaran, dan aku mulai mendapatkan pencerahan hidup.
3 bulan sudah, Tuhan menbalikkan kebahagiaanku yang semula bahagia kini penuh duka. Aku mulai kehilangan pegangan hidup.aku tak lagi punya ketegaran, apalagi kesabaran. Tuhan telah merenggutnya dariku. Lelaki itu telah pergi, dan takkan pernah kembali. Dia meninggalkanku dan seorang pangeran yang menggantikan posisinya sebagai lelaki dihidupku. Dia pergi, tepat kalahiran putra kami. Dia pergi saat kebahagiaan sekejab menyapaku. Lalu kepergiannya telah merubah cinta menjadi duka. Aku tak tahu lgi kepada siapakah aku akan bersandar. Jika orang yang selama ini ku jadikn sandaran telah tiada. Kutatap anakku dengan tatapan sendu. Dia tak sempat melihat wjah ayahnya yang rupawan. Dia tak sempat tahu bahw dia mempunyai seorang ayah yang sangat hebat. Dia tak sempat merasakan kasih sayangnya. Tapi aku janji. Aku akan menjadi ibu yang hebat untu Rangga, anakku. Aku harus bangkit demi dia. Karena hanya dialah satu-satunya lasan aku hidup. Walaupun rembuln selamanya takkan lagi purnama.

Minggu, 13 Desember 2009

MENUTUP AKHIR DENGAN SEMANGAT

(Ahad/13 Desember 2009-kemarin), awak Inspirasi masa bakti 2009-2010 mengahiri pembekalannya dengan baik dan 'lega'. Acara yang berlangsung selama tiga hari, 10, 12-13 tersebut memberikan banyak pemahaman baru tentang jurnalistik, "Alhamdulillah, acara kita ini tidak sia-sia. Ilmu tentang pers meluap-luap, banyak sekali ilmu baru. Lega sekali rasanya" ungkap Eva, sapaan akrab Kifayatul Aghniyah, pimred Inspirasi sambil mengelus dadanya. Ia juga menuturkan bahwa acara ini sukses berkat semangat peserta yang didukung dengan 'profesional' nara sumber. Pernyataan senada juga disampaikan oleh Afiyatun, peserta, reperter majalah Inspirasi," sajiannya bagus, menarik, teman-teman menjadi semangat". Eva juga berharap semangat yang menggebu tersebut terus tetap dipertahankan demi lancarnya pelaksanaan kerja, kekompakan tim, dalam proses penerbitan majalah Inspirasi, majalah kebanggaan MA 1 A Pi, sebagaimana yang disampaikan oleh Ahmad Khotib, nara sumber," semangat kalian adalah tonggak mercusuar dalam peradaban informasi dan harga diri sekolah ini, bekerjalah dengan bekal semangat kalian, saya yakin kalian pasti bisa, percayalah!" ungkapnya dengan penuh semangat dan yakin.(Redpel inspirasi)

MATA DIBALIK LAZUARDI

oleh: zhie Al-gility, XII IPS 1

Lewat benam mata hasrat
Terpancar sebuah kagum
Menggeliat beku nafasku
Menggoncang jantung jiwaku
Dari bola mata dibalik lazuardi
Terbias lambaian-lambaian damba
Mengibarkan panji-panji cinta
Menebarkan robekan-robekan duka
Sepasang mata dibalik lazuardi
Memancar indah
Mendendangkan bait-bait asmara
Menembangkan lagu-lagu mesra
Mata yang tertutup awan putih
Melambangkan inovasi jiwa
Nampak begitu indah
Karena disan tak ada luka
Dibalik kejora cinta
Terpancar sepasang mata dewa
Menjanjikan sejuta kedamaian
Menjadikan kebahagiaan abadi
Pada kejora cinta
Kucoba kalai jiwa
Ternyata bukan sebuah sandiwara
Melainkan lukisan cinta
Buat kejora hatiku
Salam manis berbalut cinta
Semoga kita selalu berjumpa
Dan hasratku bukanlah angan belaka
Kejora hati permata jiwaku
Jadilah untaian nada serunai cinta
Jadikanlah langkahku indah
Dalam bias kejoramu
Rengkuh hasratku dalam nyatamu.

Aku Meminta

Oleh: Rara Zarary, XI IPS 3

Ajari aku mengeja bahasa
Biar ku cerdas memilih kata
Lalu ku tuangkan rasa lewat cerita
Dengan namamu yang ‘kan ku bawa

Ini aku yang merindukanmu
Yang memujamu lewat desau angin sore ini
Agar kau semakin paham tentang rasa ini
Rasa yang ku tuangkan dalam hati, penikmat rasa

Wahai kau pemuja cinta
Ingat aku dalam dzikirmu
Bahwa aku dalam perjalananmu
Agar aku termasuk wanita yang menikmati rasa
Seperti wanita yang lain

Lalu jika aku sudah kau cinta
Sentuh hatiku
Tatap mataku
Agar kau dan aku benar-benar bersatu
Dalam rasa yang syahdu

Sabtu, 12 Desember 2009

1001 DALAM SATU MEMORY

oleh: Zhie Al-gility, XII IPS 1

Aku dalam teraan
Lukisan
Dan puisimu
Dalam teraanmu kau menudingku
Memaksa kuncup bungamu yang terkatup
Agar mekar mengembangkan aroma asmara
Dalam lukisanmu kau taburi nuraniku dengan canda misterimu
Aku gersang dalam diarymu
Kau semburkan kidung-kidung syahdu
Dilema antara keterpaksaan dan cinta
Antara kehormatan jiwa
Sementara aku kau biarkan terus menunggumu
Dalam 1001 memory yang tak bertepi
Aku dalam puisimu
Seperti kejora hati
Lukisan penduduk sorgawi
Satu matamu tak dapat kau dustai
Menjadi saksi perjalanan kita
Dalam 1001 memory serta sepasang merpati
Yang kau tera dalam memorymu
Adalah bukti hati mana yang kau pilih
Walau 1001 memory berubah menjadi percikan api
Asap itu tak mungkin bisa dipungkiri
Puisimu adalah gerak nuranimu
Dan cinta yang kau gubah menjadi benci
Adalah sandiwara yang tak bisa kau tutupi
Satu mata dalam 1001 memory
Tak mungkin kau gubah menjadi 1001 mata dalam satu memory
Karena mata itu kesaksian hakiki