Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Januari 2012

SANGSAI DI UJUNG SENJA



Ummul khaier el-shaf*

Rangkaian kisahku dalam selembar luka[1]
Senja kembali menari di mataku.Melahirkan malam dan mendung yang tak berkesudahan.
On August 7th, 2011 07:45 WIB
            Pagi itu, aku masih mampu mendengar suaranya.Suara yang selalu ciptakan kerinduan di hatiku.Suara yang sudah tak asing lagi ku dengar. Suara itu. Suaranya yang ku puja. Suara lelaki yang mengaku dirinya matahari, dan memang matahari bagiku. Tapi semua itu dulu, sebelum akhirnya ia datang membawa senja kehadapanku, dan menyatakan sempurna tenggelam pagi itu. Semua masih segar dalam ingatanku, dan terekam jelas dalam memoryku.
            “Angel, maafkan aku, mungkin hubungan kita cukup sampai disini”. Deg… dadaku sesak! Terasa sangat perih… kata-katanya begitu tajam dan meruntuhkan sendi-sendi kekuatanku. Aku tak mengerti mengapa tiba-tiba ia berkata pedas padaku. Entah syetan apa yang telah membiusnya hingga kata yang tak ku inginkan ia lafalkan begitu sempurna.
            “Maksud kamu apa?” tanyaku bingung.
            “Ya, aku takut menyakitimu lebih dari ini, karena rasa itu baru hadir”
            “Aku benar-benar nggak ngerti, tolong jangan buat aku bingung seperti ini, tolong katakan padaku kau hanya bercanda saja”
            “Nggak! Sekarang aku serius, aku takut menyakitimu lebih dalam lagi”
            “Sudah!Katakan padaku apa yang sesungguhnya, jangan membuatku bingung seperti ini” kataku serius.
            “Dulu, sebelum kita memperbaiki semuanya, aku mengenal sahabatmu. Dan aku mulai menaruh rasa padanya, entah itu rasa apa, namun, setelah kita menjalani semuanya, aku baru menyadari, bahwa sebenarnya aku mulai menyukainya. Jadi, lebih baik aku jujur sama kamu, dari pada aku semakin membuatmu sakit lebih dari pada ini,.Aku benar-benar minta maaf, aku tak mampu menafikan perasaan ini, dan akupun tak sanggup membohongi rasaku sendiri.Dan sekarang semuanya terserah kamu”.
            Hujan deras tiba-tiba membanjiri pipiku, tubuhku menggigil gemetar, ada sakit dan perih yang menusuk-nusuk jantungku.Racun menjalar keseluruh tubuhku.Awalnya ku kira semua ini hanya mimpi di siang bolong, hingga kupukul-pukul diriku sendiri tuk memestikan ini benar reaalita atau bukan.Namun ternyata ku salah, semua ini memang benar adanya.Kini matahariku telah menjelma senja yang sebelumnya selalu menjadi fajar untukku.
            “Allah…” bibirku bergeming dan memminta kekukatan pada-Nya.Dan akhirnya aku merasa lebih kuat dari sebelumnya.Setelah hujan menjadi gerimis di mataku, aku dengan lirih mencoba berkata padanya.
            “Jika boleh tahu, siapa wanita beruntung itu?”
             “Sudahlah… tanpa ku katakan hal itu kuyakin kau sudah mengerti siapa yang ku maksud”
            “Apriel kah?” tanyaku ragu.
            “hem… iya, maafkan aku, bukan maksudku untuk menyakitimu seperti ini,  dan tolong jangan membencinya sebab aku mencintainya”.
            Tuhan… dia mencintai sahabatku, orang yang sebelumnya kupercaya menjadi tempat curahan hatiku tentangku dan mentari.Namun aku mencoba tegar menerima realita yang tak sesuai harapan, walau pada nyatanya hati menjerit perih… mengapa haruslah dia?... sahabatku sendiri. Sahabatku satu-satunya.
            “Ya, aku tak mengapa meski kau mencintanya, dan telah melupakan aku yang mencintamu. Tak perlu kau katakan maaf, sebab ini bukan kesalahanmu , bukan salahku, dan bukan salahnya pula. Ini bukan salah siapa-siapa.Ini sudah takdir Tuhan, dan Tuhanlah yang menganugerahkan rasa dihatimu untuknya, bukan untukku.Kita hanyalah wayang dan Tuhanlah dalangnya.Dan tak perlu khawatir akanku membencinya, sebab itu tak mungkin kulakukan”.
            “ Terimakasih, dan maaf aku harus pergi dari hidupmu”. Ia berlalu dari hadapanku, tanpa kata selamat tinggal, atau hanya sekedar melambaikan tangan tuk isyarat perpisahan. Ia tetap dengan sikapnya yang easy going, dan tak pernah mengerti akan luka baru yang ia torehkan di lubuk hatiku yang terdalam. Luka yang membuat mala di jantungku kembali menganga, perih….
Khaier el-syaf
Tanggal yang sama, 11:23
            Mentari mulai merangkak, sinarnya mulai terasa menyengat di tubuhku.Sementara serbuan angin di atas sepeda yang ku bawa membelai tubuhku mesra.Ya, saat ini aku sedang menuju rumah Apriel untuk sekedar basa-basi seperti biasa. Dan mungkin… nanti aku akan sedikit menyinggung tentang semua luka itu padanya. Tanpa terasa aku telah sampai di depan rumah yang sudah tak asing lagi ku pijaki. Ya, ku sudah tiba di rumah Apriel saat ini.Tampak dari arah tempat parkir sepedaku ibu Apriel tengah asyik bergurau dengan anak kecil, mungkin itu cucunya, anak dari kakak Apriel yang baru lahir sebulan yang lalu.
            “Assalamualaikum…”
            “Waalaikum salam…” jawab ibu Apriel dengan senyum di bibirnya sebab kedatanganku.Segera aku menghampiri beliau dan mencium kedua tangannya.
            “Langsung kedalam saja, Apriel ada di dalam, dia tak keluar rumah sama sekali dari tadi, mungkin tidur di kamarnya”.
            “Ya, bu. Makasih” segera aku menuju kamar Apriel. Dan… tok….tok…tok…
            “Apriel…” panggilku sambil mendekatkan telinga ke daun pintu.
            “Kamu ngel? Ayo masuk…!
            “Ia nich…. Ku borring di rumah, sendiri lagi.Jadinya kesini dech”.
            “Priel, ku mau ngomong serius nich sama kamu” dengan wajahku yang serius.
            “Tumben nich mau ngomong serius? Biasanya juaga cengar-cengir melulu”
            “Ya, untuk kali ini aku  benar –benar serius!” aku menatap matanya dalam-dalam. “ Kapan matahari mengatakan perasaannya padamu? sudah… tak usah kaget begitu, aku tak mengapa kok, aku hanya ingin dengar pernyataan kejujuran itu darimu, kau ini sahabatku, aku mengenalmu jauh sebelum aku mengenalnya. Aku tak mengapa, katakan saja”
            “A.. a.. a.. apa maksud kamu?”
            “Sudahlah… katakan padaku yang sejujurnya, aku setuju jika pada akhirnya kau memang bersama dengannya.”
            “3 hari yang lalu ngel.Maafkan aku, bukan maksudku untuk merebutnya darimu, aku juga tak mengerti mengapa dia mengatakan hal itu padaku, kau tenang saja, aku tidak mungkin bersamanya, kau ini sahabatku, jadi sangat tidak mungkin aku bersamanya”.
            “Priel… kamu apa-apaan sich..? udahlah… mungkin dia memang belum jodohku, santai aja lagi, selamanya kau tetap sahabatku, aku tak mau hanya karena hal yang tidak penting ini kita renggang. Sudahlah… aku setuju kok jika kau bersamanya. Dia lelaki yamg cerdas lo”
            “Ngel… kau terlalu baik untuk dia sakiti…”
            “Agh… sudahlah… ya udah, ku pulang dulu ya”.
            Aku berlalu dari hadapannya begitu saja, membawa sejuta rasa kecewa dan luka yang begitu mendalam, “3 hari yang lalu ngel” kata itu selalu terulang di benakku.3 hari yang lalu! Itu berarti matahari telah mengatakan persaannya terlebih dahulu pada Apriel sebelum akhirnya jujur padaku. Huh… aku telah lelah dengan semua ini, entah ini luka dan kecewa yang keberapa kali yang ia cipta di jantungku. Aku telah lelah Tuhan….
Khaier el-syaf
On August, 15th 2011, 14:30
I always needed time on my own, I never though I’d
Need you there when I cry And the days feel like years when I’m alone
And the bad when you lie is made up on your side
When you walk a way I count the steps that you tajt
Do you see how much I need you right now
When you’re gone the peaces of my heart are missing you
When you’re gone the face I came to know is missing too
When you’re gone the word I need to hear,
to always get me trough the day…  and make it ok….
I miss you….2
1 message recceived, > sun’s elder brother> open>
Mungkin ini kabar kelabu bagimu diek, maafkan atas segala luka yang ia cipta di hatimu, kau tahu? Mereka telah telah resmi bertunangan hari ini. Kau yang sabar saja, selamanya aku tetap kakakmu meski kau sudah tidak bersama adiekku lagi. Tetap tegar.Dan jadilah karang.
            Lagi –lagi aku tak mampu membendung hujan yang mengalir di pipiku. Dan mengapa mereka begitu tega melakukan hal ini padaku?, aku sakit… perih… luka itu semakin membengkak di jantungku, dan sekarang mereka telah menyirami lukaku dengan air cuka… agh…. Tapi sudahlah… aku harus belajar menerima luka saat realita tak sesuai dengan harapanku, dan benar memang kata guru menulisku,”hidup adalah belajar menerima dan selalu terluka”. Dan aku harus menerima akan luka itu dan selalu tersenyum saat kenyataan tak sesuai harapan.
Khaier el-syaf
On September,27th 2011, 15:45
Untuk kalian    : orang yang sempat berarti di hidupku
Dariku             :yang begitu terluka

Untukmu matahariku,
Terima kasih kau telah menanam bunga di rumahku, walau pada akhirnya musim gugur memusnahkannya.
Terimakasih telah mencipta sejarah meski tak sempat terbenah keseluruhan.
Dan terimakasih atas semua penghianatan ini, kau telah mengajariku luka dan penghianatan.
Semoga kau tak mengulangi hal terbodoh ini padanya (sahabatku), karena ku tahu dia kini benar-benar mencintaimu seutuhnya.
Untukmu sahabatku,
Terimakasih kau menerimanya sebagai kekasihmu meski sebenarnya kau telah tahu bahwa aku sangat mencintainya,
Terimakasih kau telah menjadi sahabatku meski hanya sesaat,
Terimakasih kau telah membahagiakan dia yang ku cinta, semoga esok menoleh padaku saat ada perempuan lain yang ingin membahagiakan orang yang kau cinta,
Selamanya kau tetap sahabatku, walau keadaannya telah berbeda dari sebelumnya. Ku tahu kau mencintainya, bahkan sangat… jadi, tak perlu hiraukan aku sebab peristiwa lalu,
Selamat! Kau adalah orang pertama yang menyakitiku begitu mendalam.
Kututup dokumen kecil ditanganku, setelah aku benar-benar merasa lega dari sebelumnya.
THE END



Guluk-guluk, on september, 27th 2011
Perempuan yang terluka, sebab matahari menjelma senja
Aktivis komunitas PERSI dan Sanggar Sareyang MASA Putri


[1] Oretan Zaraifi

Minggu, 09 Mei 2010

Bukan Aku, Tuhan!

“Roni dan Faza jadian”, serasa tersambar petir saat ku dengar kabar itu.awalnya aku tak percaya tapi aku berusaha mencerna kata-kata sahabatku yang memang fakta adanya. Kabar yang tak pernah ku duga sebelumnya. Detik berikutnya aku tak mengerti mengapa air mata ini mengalir?” tak ada yng hak aku menangisi semua ini karena ku sadr roni bukan siapa-siapa, dia hanya sebatas kakak tanpa hubungan keluarga.
Ingatanku kembali pada masa lalu, masa di mana baru pertam aku mengenal Roni, entah bagaiman cara dia mengenalku yang ku tahu dia adalah sahabat kakak sepupuku, sebenarnya aku tak ingin mengenalnya karena watak kedua orang tuaku yang selalu menentang hubungan dengan seorang laki-laki. Sebelumnya aku tak pernah tahu seperti apa wajahnya, tanpa menunda waktu ia datang ke rumah bersama kakak sepupuku, kebetulan saat itu tak ada siapa-siapa di rumah, hanya aku sendiri, tak ada percakapan panjang diantara kami hanya tatapan tak bermakna mewakilkan perasaan kami. Itulah awal perkenalan kami, dan sejak saat itu pula nama Roni tak pernahabsen lagi di panggilan masuk ponselku.
Roni adalah orang pertama yang berani bertaruh bahwa dia bisa memelikiku, namun prinsipku lebih kuat dari pada ambisinya. Maka ketika dia menyatakan perasaannya, tanpa ku jawab dia mengerti apa yang akan ku katakana dan memilih menjadi kakak dari pada pacarku. Ber minggu-minggu Roni menjelma sebagai seorang kakak dalam kehidupanku, dengan perhatian yang begitu besar membuatku seakan luluh padanya bahkan semakin hari rasa sayang itu semakin mengakarmelebihi rasa sayangku pada seseorang yang sebelumnya ku cintai, rasa itu tak lagi pada seorang kakak, melainkan lebih dari pada sosok seorang kakak, namun Roni tak merasakn hal itu, membuatku menyimpan semuanya sendiri.
Hampir setiap detik Roni menghubungiku lewat ponsel, sebab pertemuan tak mungkin terjadi, karena kalau tidak kicauan tetangga sedesa akan terdengar mengenai pertemuan seorang perempuan dengan seorang lelaki yang tak pantas dilakukan, dan semua itu bisa mencoreng kehormatan keluargaku dan mungkin juga keluarganya. Kami pun tak ingin mengambil resiko itu hanya untuk mengobati rasa rindu yang tak berujung, usia yang hanya terpaut dua tahun dengannya membuat kami lebih mudah mengerti tentang diri masing-masing. Kasih sayang dan perhatian Roni tak pernah berkurang, bahkan semakin bertambah membuatku semakin percaya bahwa dia lelaki yang baik. Cara bicaranya pun lembut dan tak pernah berbicara hal-hal yang negative.
Kekagumanku pada Roni mengubah pola kehidupanku yang cenderung tak baik, dan sekarang aku mulai melupakan sahabat-sahabatku, bahkan seseorang yang pernah ku cintai. Aku lebih memilih berhubungan dengan Roni dari pada yang lain, meski semua itu hanya sebatas hubungan kakak-adik, dan akhirnya kedua orang tuaku tahu hubungan itu dan tak sedidikit pun melarangku.
“Yang penting tidak pacaran”, begitu kata mereka. Maka aku pun terbiasa jika harus menerima telepon darinya dekat kedua orang tuaku, dan hubungan itu tak pernah berakhir hingga suatu hari aku mengenalkan Kak Roni pada Faza. Salah satu temanku yang mengaku mengenalnya saat di SD, dia lebih muda dariku dan kelasnya pun dua tingkat di bawahku yang sekarang duduk di kelas XI IPS 1. Sedang dia masih di bangku SMP kelas IX. Meski demikian tak ada tingkah laku yang menunjukkan ia dewasa, sifat kekanak-kanakannya membuatnya terlihat lebih muda dari teman-teman sebayanya. Tapi semua itu tak ku pikirkan, biarlah ia berkenalan dengan Kak Roni, karena Kak Roni sendiri mengaku tak mengenal Faza.
Sejak perkenalan keduanya, nama Kak Roni jarang muncul di layer ponselku, dan aku membiarkan semua itu tanpa berusaha menghubunginya, hingga suatu hari dia muncul kembali dan mengatakan tak kan menghubungiku lagi, karena tak ingin mengganggu liburanku. Serta merta aku tak terima dengan perkataannya karena sedikit pun aku tak merasa terganggu, selanjutnya aku memilih diam dam mematikan ponselku hingga masa liburanku selesai. Aku kembali ke asrama dengan tugas menumpuk di sana-sini, kembali sekolah dan berkumpul dengan teman-temanku. Pagi itu, hari minggu, sekolah libur. Aku bersama Faza pergi menghadiri sebuah pelatihan, seperti minggu sebelumnya.
Meski beda kelas, aku dan Faza satu asrama sehingga tak jarang kami sering bersama. Di bawah pohon pinus kami duduk, Faza bercerita tentang Kak Roni begitu juga aku, sesekali Faza ku gojlok dengan Kak Roni, sifat kenak-kanakannya membuatnya ngambek tapin setelah itu kami tertawa kembali.
“Aku takut kamu jealous ma aku”, papar Faza waktu itu, aku hanya tertawa menanggapi ucapannya.
“Meski aku aku jealous, aku akan berusaha agar aku tetap biasa-biasa saja”, ucapku tetap tertawa.
“Tapi….”, kata-kata Faza tak ku tanggapi, aku menariknya ke pafing, Faza hanya mendengus, tapi aku tak peduli tentang hal itu.

Sejak pagi itu, sikap Faza berubah dingin padaku tapi aku tak terlalu memikirkan hal tersebut. Hingga malam ini ku ketahui bahwa ternyata Faza dan kak Roni pacaran. Pen yang sedari tadi ku pegang terjatuh, dan catatan yang sedari tadi ku tulis kini terlantar, aku sibuk dengan air mata yang tiba-tiba saja mengalir,kak Eka berusaha menghiburku, begitu jugu dengan Mutia, Ulfa dan Dita, tapi semua itu tak berpengaruh bagiku, hati ini tetap sakit merasa dihianati. Kenapa disaat aku sayang padanya dia pergi tanpa sebelumnya bilang padaku?
“Jadi bagaiman keputusamu?” Tanya Ulfa,
“Entahlah!” Jawabku singkat, merekapun memilah diam dan pergi meninggalkanku yang kini entah seperti apa.
“ aku akan menemaninya”, jawab kak Eka saat diajak pergi yang lain. Aku kembali menceriatakan kenannganku bersama kak Roni dan lagi-lagi mata ini tak bisa menampung air mataku.

Keesokan harinya, tidak seperti biasa Faza tak terlihat di asrama. Saat dia tiba, teman-teman satu asramaku menyindirnya dengan kata-kata yang tak bisa di bilang lembut. Aku memilih diam menahan sakit saat melihatnya. Suasana memanas, Faza tetap tak merespon, Dita cs menghentikan ocehannya ketika Faza pergi dan mereka merasa menang. Begitu pula aku, mungkin rasa sakit yang amat sangat membuatku tak algi menggunakan rasio.
Suasan tak berubah hingga kami memutuskan untuk menyelesaikan semuanya agar tak ada suasan yang tak nyaman, maka kami bersama menfginterogasi Faza yang saat ini telah mengaku bahwa ia mencintai kak Roni sejak dulu jauh sebelum aku, dan semua itu membuat hati ini semakin sakit. Aku menggugatny, karena ia tak memberi tahu tentang hubungannya dengan kak Roni.
“Bagaimana kau menerima Roni se,mentara kau tahu ada orang lain yang sangat menyayanginya?”Tanya kak Eka berapi-api, dia tetap pada posisinya duduk di pojok.
“Aku juga ga’ tahu kenap bisa aku menerima dia,aku ga’ ngerti ma ku sendiri”,jawabnya.
“Maksudmua apa?” tanyaku, Faza tetap bergeming tak menghiraukan pertanyaanku, aku pun tak ingin mengulang pertanyaan tak penting itu dan segera beranjak meninggalkan Faza, biarlah sakit menemaniku untuk sementara waktu.
Aku kembali mendekati Ulfa bercerita tentang persaanku saat ini, tenatng sesuatu yang mengganjal dalam sel otakku yaitu ‘Bagaimana bisa kak Roni begitu cepat melupakanku? Dengan mudah pula ia mencintai seseorang yang baru ia kenal? Aku tahu, memang tak ada yang tahu kapan cinta itu datang, tapi bagitu semmua itu sangat mustahil. Mungkin karena aku jealous sehingga aku berpikir seperti itu.
“ Katanya dia nembak Faza kerena dia ingin kamu ngerasain gimana dulu ia ngerasain sakit ketika dulu kamu tolak”, jelas Dita di barengi anggukan Mutia. Aku segera beranjak meninggalkan mereka berdua, jika memang itu keinginannya aku akan berusaha melupakan sekuany atermasuk juga kenanga bersamanya meski dulu sama sekali aku tak ingin jauh darinya biarlah rasa sakit ini ku rasakan sendiri toh ahirnya akan hilang juga.

Annuqayah,11 Desember 2009
Guluk-guluk,sumenep
watiex @ yellow XI IPS I
I’am Sorry, Mom!
Oleh: watiex @ yellow*


Masa lalu itu, membuatku terusir dari kehidupan mama, masa lalu yang merenggut nyawa kakakku, meninggalkan kenangan indah yang sekian tahun telah terajut di hati mama, membuat posisi kakak tak tergeser nol derajat pun dari hati mama. Senyum mama yang selalu merekah mendengar celoteh-celoteh kakak, mengisi hari-hariku. Setiap pagi ku melihat wajah mama berseri saat manyiram tanaman di halaman rumah. Setelah itu kakak datang langsung manghampiri mama dan langsung mencium kedua pipinya. Pada saat itulah mama tertawa. Yach semuanya berlangsung dalam kehidupanku dengan begitu cepat kini mama tak lagi rela menganggapku anak, mama marah padaku atas kematian kakak yang menurut mama adalah salahku.
Hari ini kucoba menata hatiku kembali, aku kan berusaha membujuk mama kembali untuk memaafkanku. Aku memasuki halaman rumah yang memang lumayan luas. Ku edarkan pandangan ke sekeliling rumah, yang telah lama aku tinggalkan. Mataku tertumbuk pda seseorang yang duduk bersandar di kursi menatap sebuah foto yang tak lain adalah foto kakak. Di sampingnya, bunga anggrek putih tumbuh. Tempat inilah yang menjadi kenangan indah bersama kakak. Ku hampiri mama dengan keberanian penuh. Tatapan matanya kosong, tubuhnya semakin kurus dan lingkaran hitam di matanya terlihat sangat jelas.
“ Ma…,”panggilku dengan suara yang terdengar kaku. Mama menoleh sekilas lalu memalingkan muka, aku terhenyak melihat ekspersinya.
“ Ma…Vallen minta maaf,” suaraku terdengar sedikit berharap. Aku bersimpuh di depan mama.
“Aku tak butuh maafmu, Pergi!” bentak mama.
“ Ma, kematian kakak bukan salahku, ini adalah garis hidup,” bantahku.
“ Tahu apa kau tentang garis hidup? Andai kau tak menyuruh Ravel waktu itu, tentu semua ini takkan pernah terjadi.”
“ Tapi ma…”
Plak!
Sebuah tamparan yang selalu ku hindari dari orang yang sangat berarti. Entah berubah warna apa pipiku, yang ku rasa hanya panas, perih di hati. Mama ynag senyumnya sangat berarti bagiku tak lagi mengharap kehadiranku.
“ Pergi!” teriak mama menodongku.
“ Baik ma, Vallen pergi. Sampaikan salam rinduku pada Nini,” ucapku akhirnya meninggalkan mama yang menatapku tajam. Ku lihat Nini adikku berlari kearahku namun di cegah oleh mama.
“ Kak, kak Vallen, Nini kangen, tunggu Nini kak!” teriaknya. Aku melangkah untuk menghampirinya, namun segera kuurungkan niat.dan ku percepat langkah meninggalkan rumah tiba-tiba seseorang menubrukku dari belakang, memeluk erat tubuhku, segera ku sadari seseorang itu adalah Nini dan ku berbalik melepasakan pelukannya.
“ Kak jangan tinggalin Nini, Nini ingin ikut kakak,” ucapnya dalm isak tangis.
“Jangan! Nini harus sama mama ya…”tangis Nini semakin keras dia menggeleng dan menggenggam kedua tanganku erat.
“ Nini masuk!” teriak mama dari kejauhan. Kurengkuh wajah Nini lalu menciun keningnya.
“ Nini, kamu sayang ma kakak kan?” tanyaku, Nini mengangguk. “ kalau Nini sayang kakak, sekarang Nini masuk ya…”ucapku menahan bendungan air mata yang mulai berdesak keluar.
“ Nggak mau, Nini mau sama kakak!” ucapnnya sembari menggenggam tanganku semakin erat.
“ Kakak sayang Nini, kakak nggak pergi jauh kok! Kakak tetap dekat di hati Nini,” ucapku akhirnya melepas genggaman tangan Nini, meningggalkannya. Kuharap ini bukan pertemuanku yang terakhir dengan mama dan Nini ,kulihat mama menggandeng Nini yang meronta, tangisnya semakin menjadi membuat hati ini semakin perih, bendungan air mata yang sedari tadi ku tahan kini jebol. Biarlah orang bilang aku cengeng. Aku takkan mempedulikan lagi apa kata mereka.
Yang ku inginkan sekarang hanyalah mama, kasih sayang mama, semua kebahagiaanku kembali, aku hanya ingin semuanya kembali lagi seperti dulu, meski tak ada lagi sosok kakak dalam hidupku.
Terus saja ku melangkah tanpa ku tahu kemana arah dan tujuanku. Dan tanpa kusadaripun tibi-tiba saja suara jeritan dan berbagai macam teriakan memekakkan telingaku. Setelah itu entah apa lagi yang terjadi aku tak bisa mengingatnya. Kini yang kurasakan hanya kebahagiaan. Tubuhku seakan melayang. Terbang jauh…entah kemana.

@@@

Nini dan mamanya spontan menoleh mendengar suara hantaman yang sangat keras, mereka berdua segera menghampiri kerumunan orang-orang. Serta merta tubuh mereka lemas seakan tak bertulang melihat sosok seorang laki-laki terbujur kaku dengan darah di sekelilingnya. Vallen. Yach…dia telah pergi meninggalkan penyesalan yang sangat dihati mamanya, meninggalkan kenangan indah di hati Nini. Yach tanpa sepengetahuan Vallen wanita yang sangat di cintainya terpekur di samping jasadnya menangisi dirinya, menangisi keeogisannya sebagai seorang ibu.
Maafkan atas salah yang telah ku perbuat mama…
Maafkan atas hadirku yang telah membuatmu menderita
Maafkanlah…
Satu pintaku ma…
Jangan kau hapus semua tentangku
Jangan kau lupakan aku di setiap serpihan doamu
Dan satu hal yang ku ingin katakan
Bahwa…
Aku mencintaimy lebih dari apapun di dunia ini
Aku mencintaimu dengan segala rasa yang bergejolak
Aku mencintaimu
Sekarang dan untuk selamanya

Guluk-guluk, 15 Maret 2010
*penulis adalah seorang yang selalu merindukan kehadiran mama
dan merupakan salah satu anggota club Sakura

Selasa, 16 Maret 2010

Biola

OLEH: Miem’s, XI IPS 2

11 Mei 2009
Di bawah redup malam, diatas karpet hijau kulantunkan cerita, kisah, jiwa, namanya Alia Ramadhani gadis biola yang sering kulihat di taman, dia memainkannya dengan begitu indah dan menyentuh, sayangnya usianya 12 tahun dia mengalami panas yang begitu hebat sampai-sampai merenggut kedua matanya. Berbeda dengan tuna netra lainnya dia begitu hafal jalan pulang tak pernah kesasar, tak seperti gadis buta yang malang, ayahnya hanya seorang sopir sehingga takkan bisa membawanya ke sekolah khusus, dan ibunya telah pergi jauh ketika dia di lahirkan,ya… hanya biola itu yang menjadi taman bermain sekaligus bercerita dan bayangkan betapa sedih dan hancurnya dia ketika ban-ban mobil menghancurkan biolanya, berhari-hari dia tak makan dan tak tidur dia hanya termenung di taman dan tiba-tiba seorang bertubuh mungil dengan paras yang menawan menghampirinya, pria itu mengajaknya bicara, bercanda, membawanya pada hari yang indah, entah siapa dia, sampai beberapa hari dia keluar dari mobil yang setiap harinya di kendarai oleh bapak mukhlis, ayah Alia.
“hai biola, masih memikirkan biolamu yang hancur?” alia mengamati asal suara itu.
”Alfan? Take working hard to forget it, aku terlnjur menyerahkan jiwaku padanya dan…”, Alia menggantungkan kalimatnya, Alfan mengangkat alis dan tersenyum.
“ hei tunggu kau tadi panggil aku apa?”
”Biola, nggak jelek kan?” alia tertawa mendengarnya, sebelumnya tak pernah ada satu orangpun yang memanggilnya seperti itu ya... kecuali Alfino Rahardia musuh bebuyutannya waktu SD.
Alfan mengeluarkan kotak berukuran selutut dari punggungnya dan dengan gerakan tangannya dia alihkan pada Alia, Alia tersentak.
” tak ada salahnya kan kalau ku tolak?” Alia ragu untuk menerimanya karena selama ini tak pernah ada yang berbaik hati padanya.
” boleh sih, tapi alangkah baiknya kalau kau memainkannya”,ucap Alfan setengah bercanda.
Pangeran kecil yang sangat baik itu yang tergambar dihati Alia selamanya, tapi di balik punggung Alia dia merupakan laki-laki tanpa tujuan, night club tempat favoritnya sebeluma dia kenal Alia dan permainan biolanya.
”Gadis itu beda ndre, dia lugu, polos, ku bisa rasakan itu dari caranya melantunkan biolanya”,Alfan berusaha menjelaskan Alia pada temannya, Andre. Setelah 12 tahun berlalu.
” jadi, playboy kita udah tunduk nich?”
”yach, should be, but one world I felt that I know her that was long before I knew me, my self”.
Sebesar itukah rasa kagumnya pada Alia? Pertanyaan yang sulit di jangkau dengan kata, dan ternyata melebihi kata yang terlalu indah untuk Alia.
Keluarga bapak Rachat Sugianto begitu terpukul mendengarnya, apalagi ketika alfan tnpa banyak tanya menolak perjodohannya dengan Rachel, hal itu bukan hanya menjadu luka hati tapi juga dendam yang membara, beberapahari setelah acara itu gadis pemain biola itu tak lagi terlihat di taman, entah kemana dia yang terlihat hanya alfan yang menyangga dagunya.
”kemana dia?” batin Alfan gelisah, 2 ,3 ,4, tahun telah berlalu kini Alfan bukan lagi anak ingusan yang yang bisa seenaknnya saja diatur, dia merupakan pria matang yang gagah dan istimewa. Tapi dasar Alfan dia tetap saja tak rela mengganti titlenya dari lelaki perkasa.
Putus asa, kata yang pantas ditunjukkan pada Alfan. Sore itu dia seperti biasa menanti dan menanti. Setelah kejadian beberapa tahun yang lalu bapak mukhlis tak terlihat. Apa mungkin Alia dibawanya pergi? Bisa saja, tapi kemana? Alfam mulai menanyai satu persatu pada tetangga Alia tak ada satupun yang tahu di tempat yang lain jiwa Alfan gelap.
” kenapa? Masih memikirkan gadis biolamu?”
” dia pasti sudah dsangat berbeda, dengan rambut sebahu, kulit kuning langsat, dan...”. mimpi, hanya itu yang bisa dia raih. Tanpa bintang dihati.
Pagi itu, kembali Alfan membaringkan hatinya ditaman pershabatan gadis dengan rambut sebahu tersenyum dengan begitu manis. Dia Melodi, gadis yang di tunangkan dengannya, Alfan tak pernah menginginkan itu karena di hatinya masih ada irama biola. Melodi terlalu baik untuk disakiti.
“Menyerah saja, kau takkan bisa ada di hatiku”, ucap Alfan sombong.
Dia memamerkan sederet alkohol dan menantang Melodi, jauh dari apa yang Alfan fikir Melodi menerimanya, sungguh gadis yang tak pernah menyerah ,batin Alfan.dengan penuh kesabaran Melodi menerima seluruh perm,intaaan gila Alfan membuat Alfan tak bisa menjauh.
Suatu sore yang indah Melodi mengalunkan sebuah lirik yang indah dari biolanya. Alfan sudah berdiri ndi depannya kontan Melodi menghentikan permainannya, bagi Alfan suara biola itu adalah suara masa kecil yang membuatnya terluka.
”Dulu aku mengenal seorang pria, dia sangat baik,perhatian, setia kaliku mengigatnya ku selalu ingin memainkan biola ini karena dengan memainkannya aku merasa dia selalu disampingku, aku merasa mendengar suaranya dan aku bicara padanya”. Alfan menyungginngkan senyumnya, kenapa hatinya perih?
”Tapi sepertinya itu percuma, dia tak mungkin mengingatku dia sudah punya gadis lain”. Dengan keras Melodi melempar biolaitu ketengah kolam air pancuran taman. Alfan mengangkat alisnya,dengan cepat dia terjun mengikuti biola itu dan mengambilnya.
”Hey, kamu sudah gila? Kau bilang dia sangat berarti dan biola ini adalh hidupmu, jangan hanya karena dia tak berarti kau membuat hidupmua juga tak berarti” ucap alfan setelah dia berdiri di depan Melodi, Melodi tertunduk air matanya menetes satu persatu. Alfan meraih Melodi dalam pelukannya...
Tak selamanya hal yang berarti akan menghiasi hidupmu, tapi yang pasti hidup akan selalu berarti untuk dihiasi , hal yng bisa kuingat dari sekian banyak bahasa pada biola itu, dan tanpa ia sadari hati hancur Alfan telah kembali keposis semula dan biola yang ada di dalamnya di hiasi dengan indah, penampilan Melodi akan mengiri kami pada malam tahun baru. Untuk Alfan ini adalah perayaan yang hambar tanpa Biola, entah mengapa dia mengharapkan Biola hadir malam ini.
’suasana begitu membosankan ’,batin Alfan, dia memutuskan untuk beranjak dan ketika suaraitu menghentika dia pergi.
”lagu yang berati untuk orang yang berarti BUKAN CINTA BIASA BY AFGAN untuknya”. Melodi memainkan dengan begitu indah mengingitkan pada sekep[ing memory.
”kau inginlagu apa?” si gadis biola itu bertanya. Dengan begitu polos Alfan kecil menuntunkan pada satu lagu yang sangat melekat dalam jiwanya, BUKAN CINTA BIASA BY AFGAN dengan irama yang begitu mempesona biola memainkannya, syahdu...
Senyum manis terukir di bibir alfan dan Melodi membalasnya.


Guluk-guluk,13desember 2009

Sabtu, 26 Desember 2009

DIMENSI ASA YANG TERKUAK

Oleh: Ulfatun Hasanah

Pagi tak lagi terang seperti biasanya, matahari enggan menampakkan wajah sangarnya pada dunia yang nelangsa. Seakan masih tidur dan bermimpi dengan indahnya purnama. itulah perasaan yang menghampiri gadis cantik berumur 17 tahun. Wajah riangnya tak lagi tampak di sela-sela senyumnya yang manis. Semangatnya luntur bersama malam yang membuat hatinya miris dan histeris. Kejadian itu bermula sejak sandaran jiwanya telah direnggut olehNya lewat nyanyian bising yang menakutkan, KEMATIAN. Ibu yang sangat dibanggakannya meninggalkan Fenzia untuk selamanya.
Tak banyak yang ibu harapkan dari dirimu, anakku. Ibu hanya ingin kamu menegakkan kebenaran dan selalu membanggakan ibu dimanapun dan kapanpun saja. Kamu mengerti maksud ibu, kan?
Fenzia kembali teringat memori yang menyakitkan hidupnya. Bukan karena pesan ibunya yang membuatnya tak bisa bangun dari kesedihan, tapi karena penyakit yang menderita ibunya. Penyakit yang tak kunjung sembuh walau sudah sekian dokter mengobatinya. Bermacam obat telah memasuki tubuhnya yang lemah. Namun tak ada tanda-tanda yang menandakan ibunya akan sembuh. Sebenarnya apa penyakit yang mendera ibuku?aku tak percaya kalau ibu sakit kepala sebab migren, tidak mungkin migren mengakar pada seseorang hingga bertahun-tahun. aku tak percaya...
”Aaaaaaa...”
”Zi, tenang, tenang ya...!!! ada aku disini”
“Pergi!!! Aku benci pada semunya, aku benci.”
”Aku mengerti keadanmu, tapi jangan terlalu larut dengan kesedihan. Tak ada gunanya kamu menangis, lebih baik doakan saja ibumu”
”Apa kamu bilang? Doa katamu? tahu apa kamu tentang aku?! Apa kamu kira aku tak mendoakan ibuku dengan keberadaanku yang seperti ini? Dasar cowok tak tahu malu! Pergi kamu dari sini!!! Pergi... ” Fenzia ngamuk, barang-barang yang berada di sekitarnya dilemparkan pada cowok di hadapannya. Hingga menimbulkan bunyi yang membuat seisi rumah yang hanya di huni oleh paman seayah dan bibinya panik, hingga mereka menuju asal suara itu.
”Apa yang terjadi Han?” tanya seorang laki-laki dengan nada panik dan sedikit kesal melihat keadaan kamar yang berantakan. Sedang yang ditanya hanya diam tak menjawab.
”Pasti dia marah-marah ke kamu, ya sudah memang begitulah dia. Kamu harus sabar menghadapinya”
”Tak masalah om, saya mengerti keadaannya. Seandainya saya yang ditinggal seorang ibu, apalagi sangat baik seperti ibu Aminah, mungkin perasaanku akan sama seperti Fenzia” ucap Farhan, cowok kaya, tampan sekaligus pintar yang naksir dan bersikeras melamar Fenzia, namun ibu Fenzia tak merestuinya. Hingga membuat Farhan kesal. Begitupula dengan Fenzia, dia tidak tertarik sama sekali dengan ketampanan, kepintaran yang dibuat-buat, apalagi kekayaanya yang hanya nnumpang pada ayahnya. Beda dengan omnya.
”Banyak bicara. Pergi semua dari sini!!! Pergi...”
”Fenzia tenang, nak! bibi di sini.” ucap Nadia, bibinya.
”Ya, sudah nak Farhan. Lebih baik nak Farhan pulang saja. Mungkin sekarang Fenzia menolak kehadiranmu dengan keadaannya yang seperti itu. siapa tahu dia akan menerimamu setelah keadaannya pulih seperti dulu” ucap Parman seraya berbisik pada calon menantunya. Begitu Parman mengatakan. Sedangakan yang disebelahnya hanya tersenyum penuh kemenangan.
Keadaan kembali sepi seperti semula setelah bibinya berhasil menenangkan dalam dekapannya, hingga akhirnya tertidur. Namun di sela-sela wajah gadis itu masih ada bercak-bercak kesedihan yang dilalui oleh airmatanya. Semua meninggalkan kamar mungil yang tak lagi berantakan itu. Kembali beraktivitas dengan pekerjaannya sendiri. Di ruang tamu terjadi perkatan singkat diantara Parman dan Farhan, namun tak terdengar oleh telinga manapun.
***
Fenzia terbangun dari tidurnya setelah bunyi pintu yang diketuk berganti dengan suara rengekan pintu dibuka. Fenzia tak percaya dengan senyum yang terpancar indah di depannya, senyum yang selalu dirindukannya. Sudah lama dia tak melihatnya.
”Fatih...” desisnya tak percaya.
”Fenzia, aku hanya ingin melihat senyummu untuk Tuhan kita, dan.. Aku” ucapnya lembut.
”Fatih, ibu...” Fenzia tak melanjutkan, dia kembali terisak.
”Aku tahu, aku paham akan keadaanmu. Aku juga merasakan apa yang kamu rasakan, kau terlalu sulit untuk aku lupakan. Hingga aku harus pulang dari Jakarta hanya untuk menemuimu dalam keadaan yang seperti ini. Maaf dipemakaman ibu aku tak datang karena aku masih harus menyelesaikan skripsiku. Aku juga terpukul mendengar kabar itu dari Ummi.”
”Aku kehilangan semuanya, Fatih. Sejak kecil aku tak tahu ayahku, yang kutahu bahwa ayahku telah lama meninggalkan dunia ini ketika aku masih ada dalam kandungan. Sekarang setelah aku hampir tahu apa itu hidup, yang telah ibu ajarkan padaku. Aku harus kehilangan penopang jiwaku”. Fenzia menceritakan semuanya pada laki-laki di depannya. Laki-laki yang tak pernah menyentuhnya walau hanya kukunya sekalipun. Karena menurutnya, mencintai tak harus ditunjukkan dengan keromantisan-keromantisan murahan. Dia malah lebih memilih arti cinta sebagai jalan menuju Tuhannya semata. Jalan inilah yang ditempuhnya untuk mendapatkan hati seorang gadis yang lembut namun sedikit keras. Sehingga keluarga Fenzia menerima lamaran pertunangan dari kelurga Kyai Mahmud satu tahun yang lalu. Namun setelah kematian ibunya, anggapan itu tak pernah dihiraukan oleh pamannya bahkan dianggap tak pernah ada kata pertunangan diantara Fenzia dan Ra Fatih.
Fenzia juga menceritakan tentang keraguannya akan penyakit yang menimpa ibunya. Tentang kematian yang seakan-akan direkayasa oleh tangan manusia.
”Jangan berkata seperti itu, kita semua milik Allah dan akan kembali pada Allah. Begitupula dengan kematian ibu. Allah lah yang telah menentukan”. Papar Fatih pada Fenzia lembut.
”Aku pernah mendengar dari abamu waktu pengajian, bahwa setan itu ada. Bahkan ada yang menyekutukan Allah dengan setan itu dan meminta pertolongan setan untuk membuat orang yang dibencinya menderita, sakit bahkan meninggal. Nah itu yang disebut dengan sihir. Bukan begitu Fatih?”
”Tapi siapa yang membenci ibu Aminah, wanita sebaik ibu Aminah tidak mungkin ada yang membencinya. Sudahlah, lebih baik kamu shalat dhuhur sekarang! Adukan semuanya pada yang lebih tahu”. Ucap Fatih dengan senyum khasnya.
“Tapi…”
“Sudahlah, please…! O ya, kapan mau kembali ke pondok?”.
“Aku tak tahu, aku masih butuh istrahat yang cukup untuk menerima semuanya.”
“Baik. Aba juga mengerti akan keberadaanmu. Akan aku katakan pada aba kalau kamu masih seperti ini. Aba pasti mengerti kok. Aku pulang dulu, jangan lupa shalatnya. Assalamualaikum”. Fatih pergi meninggalkan kamar itu dengan perasaan tak karuan. Senang karena bertemu dengan calon pendampingnya yang Tuhan kirimkan lewat tingkah lakunya yang sopan dan berakhlak mulia, namun juga sedih melihat keadaan Fenzia yang selalu murung hingga membuat wajahnya kusut tanpa cahaya yang selalu dibanggakannya, bahkan tubuhnya yang dulunya segar, kini tak lagi memancarkan semangat hidupnya. Namun di sisi lain Fatih banggga karena telah bisa membuat Fenzia tersenyum walau tak semanis dan setulus dulu. Tanpa sepengetahuan Fenzia dan Fatih ada mata yang penuh amarah mengawasi pembicaraan dan gerak-gerik mereka berdua dari balik jendela Fenzia. Ada kecemburuan di mata elang itu. ada kobaran api yang semakin menyala di hatinya yang sebenarnya busuk, hanya saja tak ada yang dapat mencium baunya dengan jelas. Laki-laki yang dibutakan oleh cinta.
***
Siang dan malam Fenzia lalui dengan sendiri. Dengan kenangan bersama ibunya. Walau keadaannya tidak separah hari-hari sebelumnya, namun masih ada tangis di hatinya yang terdalam. Fenzia menuruti saran Fatih untuk tidak larut dalam sedih yang berkepanjangan, Untuk mengadukan kekacauan hatinya hanya pada Allah SWT. kadang Fenzia menyempatkan dirinya untuk sekedar menghirup udara segar di sekitar rumahnya. Setelah sekian orang yang berlalu lalang mendatangi rumahnya sejak kematian ibunya seakan membuatnya sesak. Kini kematian ibunya sudah memasuki hari ke-40, tak ada lagi orang yang melawat seperti dulu . Sampai suatu hari pamannya datang menemuinya di taman belakang.
”Zi, boleh om bicara?” tanya om parman membangunkan lamunan Fenzia.
”E...m apa om?! Ada perlu apa? Bicaralah!” jawab Fenzia gugup.
”Begini nak, sejak kematian ayahmu, kamu menjadi tanggung jawab om. Sehingga kamu dan ibumu kami ajak menempati tempat ayahmu ini. Lagi pula sampai sekarang om masih tidak punya seorang anak untuk om sayangi. Om tak seberuntung ayahmu yang bisa mencicipi senangya hidup bersama seorang anak dan istri yang shalehah seperti ibumu. Termasuk masa depanmu juga menjadi tanggung jawab om sepenuhnya Jadi...” om parman masih menghela nafas dalam-dalam tak berani melanjutkan perkataannya.
”lanjutkan om!”. pinta Fenzia pada omnya. Gadis ini memang sudah tahu karekter omnya dari dulu. Ibunya pernah bercerita bahwa om parman sempat bertengkar dengan ayahnya gara-gara neneknya mewariskan kekayaannya pada pak sulaiman, ayah Fenzia.
”Jadi, bagaimana dengan tindak lanjut lamaran keluarga Farhan satu tahun yang lalu? Karena Farhan memaksa om untuk menerimanya. bagaimana kalau om terima saja lamaran Farhan? Om yakin kamu akan bahagia hidup dengannya. Dia anak yang pintar, baik, tampan dan juga kaya”. Ucap om parman penuh harap.
”kenapa kalau om sendiri yang jadi tunangannya? Om ga’ nyadar apa kalau keluarga Kyai Mahmud telah meminta Fenzia lebih dulu untuk putranya? Itupun sudah dapat persetujuan dari almarhum ibu. Iyakan om?”. ucap Fenzia sinis dan agak kesal.
”Tapi Zi, itu kan dulu, Sekarang tidak lagi. Lagian Farhan lebih baik dari pada anak kolot itu”. bentak om Parman.
”Bukannya om yang kolot?! Hanya harta dan harta terus yang om pikirkan. Fenzia ngerti kok apa yang menjadi tujuan om. Om membutuhkan hartanya kan??!” ucap Fenzia tak kalah emosinya.
”Apa kamu bilang? Kurang ajar...” om parman hendak menamparnya namun niat itu diurungkan.
”Terus tampar om!!! Ga’ apa-apa kok. Tapi ingat, sampai kapanpun Fenzia tidak akan pernah menerimanya. Fenzia masih menghargai keputusan ibu sampai kapanpun”. Fenzia pergi dengan perasaan marah dan sedih. Air matanya jatuh membasahi pipinya yang tak beraura. Dia meninggalkan omnya yang sama marahnya.
Fenzia lari ingin mengadukan semuanya pada ibunya, tapi tidak mungkin. Dia hanya bisa menangis melewati jalan setapak disekitar rumahnya bermaksud pergi ke pemakaman ibunya. Namun tepat di depan pintu gerbang Fenzia dikagetkan dengan benda aneh yang menurutnya tak pantas di tempat itu.ada gulungan rambut yang tertancap paku dan jarum serta sebuah kalung di dekat benda itu. Melihat kalungnya saja enggan, apalagi melihat orangnya. Memori itu kembalai berputar. Namun dia kembali dikagetkan dengan tanda panah yang tepat mengarah pada sebuah kamar yang biasa ditempati ibunya. Dia urungkan niatnya untuk pergi ke pemakaman ibunya. Dia malah berbelok kearah kanan setelah mengambil benda itu dan meletakkan dalam sakunya. Kini dia seakan menemukan sesuatu yang membuatnya penasaran.
***
Rumah yang sangat sederhana yang sempat memberi ketenangan dengan keluarganya di masa kecilnya. Rumah ayah dari ibunya, yaitu kakeknya sendiri. Kakek yang sangat disayanginya, yang selalu memberikan pendidikan di sela-sela mainnya. Kakek yang hanya berdua dengan neneknya sempat menyuruhnya untuk tinggal dengannya setelah kematian ibunya. Namun Om parman tak mengidzinkannya dengan alasan sangat berhutang budi pada kakaknya. Sebenarnya Fenzia lebih senang tinggal dengan kakek neneknya jika tak mengingat pesan ibunya.
Seperti biasa Fenzia mengucapkan salam dan langsung nyelonong setelah salamnya ada yang menjawab dari dalam rumah itu. betapa terkejutnya kakek paruh baya itu melihat cucunya datang dalam deraian airmata.
”Kenapa cucuku? apa yang terjadi?” tanya kakeknya setelah cucu semata wayangnya duduk di depannya.
”Kek, Zi menemukan ini”. Dengan suara tercekat Fenzia memberikan benda itu pada kakeknya. Ada harap yang begitu dalam dari sinar matanya yang menyimpan seribu pertanyaan. Sedangkan kakeknya hanya diam memandangi cucu yang sangat disayanginya itu. Ada kekhawatiran di wajah keriput itu, saat merasakan ada getaran aneh dari benda yang di pegangnya.
”Kek, kenapa?! Apa itu kek? Jawab pertanyaan Fenzia kek?!. Nafasnya mulai turun naik menahan emosi dan penjelasan dari kakeknya. Neneknya mulai terisak menyaksikan pemandangan itu. Beliau tahu betul siapa cucunya sebenarnya. Seorang gadis yang sangat membenci dunia mistik yang dianggapnya sesat setelah kakeknya bercerita padanya ketika masih anak-anak. Cucunya punya keinginan untuk memberantasnya. Karena menurut pikirannya hal yang seperti itu telah melanggar syariat islam, telah menyekutukan Allah dengan makhlukNya, telah menyiksa orang-orang yang tak berdosa, telah membuat orang sebagai boneka mainannya dalam penyakit yang dibuat-buat termasuk ibunya telah dijadikan boneka itu. perlahan beliau beringsut dari balik tirai yang membatasinya, menghampiri dan memeluknya. Sedangkan yang dipeluk ingin meminta penjelasan yang dapat membongkar rahasia di balik benda itu.
Kakeknya menarik nafas dalam-dalam seakan-akan mengumpulkan tenaga untuk menguatkan dirinya agar mampu menghapus duka di hati cucunya. Dengan sangat hati-hati kakek tua itu menjelaskannya agar tak ada dendam yang menggebu di hatinya yang lembut. Kini Fenzia paham apa makna yang terkandung dari benda aneh itu. rambut itu adalah rambut ibunya yang dicuri entah dari mana. Sedangkan paku dan jarum itu adalah kiasan si penyihir untuk menyakiti sesuatu yang ditancapkan pada yang diinginkan. Berarti benar ibunya sakit bukan karena migren biasa, tapi gara-gara benda jahannam itu. Matanya tersulut api kemarahan yang tiada tara, tangisnya semaki pecah, suaranya tercekat tak dapat berkata apa-apa. Ingatannya kembali menerawang jauh dimana ibunya mengeluh sakit kepala dan menjambak rambutnya hingga terlepas dari kulit kepalanya. Ibunya mengerang kesakitan saat sisa-sisa nyawanya tinggal hitungan detik. Hingga akhirnya nyawanya benar-benar hilang dalam tubuhnya disertai darah yang mengalir dari telinga dan hidungnya. Namun masih sempat menyebut asmaNya.. Airmata itu tampak jelas di mata Fenzia, yang akhirnya tersenyum dengan begitu tulus menuju syurga.
Fenzia mengeluarkan sesuatu dari sakunya yang membuat kakek dan neneknya terkejut tak percaya melihatnya.
”Berarti yang melakukan ini semua adalah Fa...Farhan? sebab aku menemukan kalung ini di dekat benda itu kek. Apa maksud dia melakukan ini padaku?!! Apa maksudnya...???. Fenzia benar-benar marah mengetahui kenyataan itu. dia berteriak sekeras-kerasnya. Ingin rasanya tangan yang tak pernah menyentuh barang kotor itu merobek-robek dan mencabik-cabik laki-laki jahannam, laki-laki buaya itu.
”Istighfar, Fenzia... istihgfar... Allah bersama kita” ucap kakeknya tak percaya mengetahui kenyataan ini. ”belum tentu yang melakukan ini adalah Farhan, belum tentu. Jangan suudzan dulu!”. Kakeknya memperingati dengan suara yang ditahan.
”Apakah itu yang disebut cinta, kek?! Dia bilang dia mencintaiku dan akan melamarku untuk menjadi pendampingnya. Om pun sangat antusias sekali untuk menerima lamaran itu. Tapi apa kenyataannya??! Dia telah mengambil paksa ibu dari hidupku. Apakah begini caranya jika cinta ditolak. Cinta telah membutakan hatinya dan kemanusiaanya”. Fenzia tak mampu menahan perasaannya yang campur aduk, rasa marah, benci, kesal, kecewa dan dendam menjadi satu pada laki-laki perfect menurut omnya, karena kenyatannya omnyalah yang membutuhkan bukan dirinya. Sungguh gila pekiknya.

Kamis, 24 Desember 2009

BENARKAH KARENA CINTA?!

Oleh: Ulfatun Hasanah, XII Prog. Kegamaan

Terpujilah wahai engkau ibu/bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan ku ukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti trimakasihku untuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa.


Kunyanyikan lirik lagu “Guru: Pahlawan tanpa tanda jasa” dengan mata basah. Tak kuat kumenahan haru pada tiap bait yang kulantunkan. Kutersedu mengisyaratkan wujud cintaku. Karena aku hanya punya airmata untuk beliau.
Pada setiap kata yang terucap kumengemis cinta kepadaNya untuk kebahagiaan beliau. Di setiap sujud panjangku kubermunajat padaNya untuk keselamatan beliau. Karena aku hanya punya doa untuk beliau.
* * *
Dengan disaksikan tetesan air langit, kubersimpuh di atas pasir putih nan bisu. Tiap tetesnya adalah keresahan bagiku. Cipratannya adalah kegundahan bagiku. Sapuan angin di wajahku menyisakan perih tak terhingga. Kumenatap kepergiannya beberapa menit yang lalu sebelum guntur menggelegar dan mengundang badai. Raut wajahnya tiba-tiba menjadi gumpalan awan hitam dan menyatu dengan angin. Bahasanya yang sakau mengibas keadaan menjadi tetesan airmataku.
Aku tak mengerti mengapa sikap beliau berubah. Tak ada isyarat apapun yang dapat kupahami. Tiba-tiba aku kehilangan semangat dan aku kehausan motivasi dari beliau. Ah… apa yang terjadi?
Satu bulan yang lalu di depan keceriaan mataku, beliau masih mengajakku menyelami samudera Tuhan dengan kesabaran. Karena beliau tahu bahwa aku adalah salah satu muridnya yang tak begitu peka dengan dunia kesabaran. Sembari tersenyum aku telah memasuki jiwa sufinya, aku telah berlayar di kedalaman jiwanya. Beliaupun telah menarikku dari ujung jurang keputusasan. Kuulurkan tangan dan dengan serta merta aku telah ada dalam dekapan keberaniannya. Sebab jari-jari harapan yang mencengkramku teraliri pada tiap pori-pori kelemahanku.
Mungkinkah tiga puluh pergantian siang dan malam telah terjadi gesekan yang menceritakan gerhana di ujung purnama, dan itu menyisakan lara di hatinya?
Mungkinkah tujuh ratus dua puluh dentingan jam telah terjadi kegaduhan yang menyisakan bising tak karuan di indra pendengarannya?
Mungkinkah empat ribu tiga ratus dua puluh tarian menit telah terjadi kekeliruan latar yang menyebabkan cidera pada keberadaan dirinya?
Mungkinkah dua puluh lima ribu sembilan ratus dua puluh nyanyian menit telah terjadi kesumbangan nada yang mengakibatkan irama tak teratur dalam kehidupannya ?
Dan semuanya tanpa sepengetahuanku?! Aku tak tahu apa yang telah terjadi.
* * *
Saat pelangi kehidupan menikung di antara asaku, aku beringsut mengejaar rona jingga di ujung mentariNya. Dengan tertatih-tatih kumelawan tanya yang timbul dalam benakku. Ada apa gerangan dengan guru spiritualku?. Sesampainya di batas pemukimanku dan pemukiman Tuhan, aku mengadu padaNya. Kukeluarkan semua keresahan isi hatiku padaNya. Dengan bersimbah airmata kuterbata.
“Tunjukkan padaku akan kebenaran dengan kesederhanaan yang kumiliki. Tidak seperti mereka yang mempunyai Ayah dan ibu, dengan membanggakan popularitas keduanya mereka menuntut kebenaran di depan keselahan yang telah dilakukannya. Karena aku tidak seperti mereka, aku hanya sendiri. Tolonglah aku dengan kasih-sayangMu. Bukan dengan istidroj yang Kau haturkan pada mereka yang menyalahgunakan kekayaan harta pada penindasan dan keserakahan belaka. Bantulah aku dengan doa dan airmata ini, karena inilah kesederhanaan yang kumilki.”
Usai berdoa aku berdiri menatap masa lalu. Mungkin akan kutemukan jawabannya. Kutunggu beberapa menit bahkan berjam-jam namun jawaban itu tak kunjung datang. Sekilas wajah tampan dia menyelinap. Dia yang seminggu lalu menawarkan madu pada hatiku. Aku terkejut, terpaku. Tak berkedip mataku menatap sorot matanya yang tajam, mata itu juga tak lepas dari mata sayuku yang tersihir, mata kami beradu dalam pandangan yang tak bisa aku lukiskan dalam bentuk kata-kata. Akhirnya aku mencoba mencicipi madu itu untuk sekedar mengetahui rasanya.
“Ternyata manis”. Itu ucapanku padanya.
“Ya.. semanis senyum dan wajahmu”. Dia membalas gurauanku.
Oh… kenapa aku malah memikirkan Adam? Aku terbangun dari lamunanku. Bukannya aku harus mencari jawaban yang tepat akan perubahan sikap guruku bukan wajah Adam. Atau mencari kesalahanku pada beliau bukan sorot mata Adam. Sudahlah akan kutanyakan besok, aku capek, aku ngantuk.
* * *
Aku berlari mengejar sesuatu yang tak pasti. Tapi aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di seberang sana. Keringatku mengalir deras membanjiri baju lusuh yang kupakai. Napasku tersengal-sengal. Namun semakin kuberlari bayangan itu semakin menjauh. Aku berteriak dalam keheningan malam. Aku mencoba menariknya dalam dekapanku di sela isakku. Namun tetap tak ada, aku bersimpuh dengan menangis sejadi-jadinya. Tubuhku berguncang hebat menahan getaran ketakmengertian dan ingin mendapatkan jawaban dari keresahan. Tiba-tiba ada sentuhan lembut di pundakku. Sepertinya aku tahu. Aku membatin. Aku mengangkat wajahku perlahan-lahan dan kutemukan beliau berdiri di depanku. Aku ternganga, tak dapat berkata. Bibirku sulit digerakkan, mulutku kelu. Hanya ada airmata yang menjadi saksi bisu.
“Setiap apapun yang diberikan Tuhan adalah rezeki dan wajib bagi kita untuk mensyukurinya. Tiap pemberian Tuhan adalah anugerah dan sepantasnya kita menjaganya. Tapi bisa saja pemberian itu berbalik arah. Bisa saja pemberian itu malah menjadi petaka dan musibah. Seperti wajah yang kau miliki, Hawa. Wajahmu telah menjadi petaka bagi yang memandang, termasuk… Adam. Dan senyum manismu menjadi musibah bagi Adam! Matamu yang Tuhan cipta untuk memandang dan menggali sekaligus menyerap ilmu pengetahuan jangan disia-siakan dengan keterpakuan menatap yang menimbulkan nafsu, apalagi sampai menyelami keindahan yang sebenarnya benalu dalam kehidupanmu, Hawa.”
Setelah selesai berpetuah, beliau sirna dari pandanganku. Aku mencoba mengejar dan ingin mencegah langkahnya yang seliar angin tornado. Namun nihil. Tidak….
“Guru…, oh.. aku bermimpi, Tuhan”.
Aku menatap langkah jarum jam yang terpajang di dinding kamarku. Ternyata sudah saatnya aku menemuiNya di sepertiga malam ini. Seperti yang guru selalu katakan padaku untuk bangun dan menyedot energi Tuhan saat malaikat turun ke bumi dan bertasbih padaNya.

Rabu, 23 Desember 2009

KUTEMUKAN CINTA SENIMAN DI DALAM BUS

Oleh: Dede’ Lia, X IPS 4

Sudah satu jam aku memandangi orang-orang yang berlalu-lalang di depanku. Tapi bus jurusan Kota Bogor belum juga datang. Kalau tidak karena ada kabar bahwa Ibu sakit, tak mungkin aku masih berdiam diri di tempat ramai dan berdesak-desakan seperti ini.
Satu jam lewat dua puluh menit, akhirnya bus yang kutunggu-tunggu datang juga. Segera kuambil ransel cokelat di sampingku dan kujatuhkan ke atas pundakku. Kemudian aku berjalan di tengah-tengah kerumunan banyak orang. Sesampainya dalam bus, aku memilih tempat duduk di temgah samping kiri. Setelah kurebahkan tubuhku di atas tempat duduk dekat jendela, penat yang kurasakan sedikit berkurang. Kembali ku teringat tentang Ibu sang pelita hati. Ibu adalah segalanya bagiku. Meski Ibu tak pernah memanjakanku, Ibu memberikan kasih sayangnya sepenuh hati padaku. Kasih sayang yang tak pernah kudapatkan dari orang lain tak terkecuali Ayahku. Karena beliau sudah tiada saat aku masih dalam kandungan. Ibulah yang menjadi Ayahku. Menjadi tulang punggung keluargaku.
“Maaf, boleh saya duduk di sini?” Sebuah suara lembut membuyarkan lamunanku. Aku menoleh pada sumber suara itu. Seorang laki-laki dengan tubuh jangkung berdiri di dekatku. Mungkin seorang seniman. Karena dia membawa berbagai alat lukis. “Maaf nona, boleh saya duduk di sini?” kembali laki-laki itu melontarkan pertanyaan yang sama. Aku hanya mengangguk. Kembali pada posisi semula. Dia duduk di sampingku. Kemudian dia membuka jaket hitamnya. Dan hanya kaos merah yang melekat di tubuh atletisnya.
Suara mesin yang berputar menimbulkan kebisingan dan menjadi semakin kencang. Kurasakan getaran yang disusul gertakan sesaat. Pertanda bahwa bus sudah melaju.
Aku menyibukkan diri dengan membolak-balikkan majalah yang kubeli di toko dekat terminal. Hampir satu jam aku melakukannya tanpa ingin membacanya. Hanya sekedar melihat gambar di dalamnya.
Seorang pengamen yang berdiri di tengah-tengah penumpang membuatku menutup majalah dan mendengarkan tuaian lagunya dengan gitar yang mengiringi liriknya. Seusai menyanyikan Penjaga Hati ciptaan Ari Lasso, pengamen tersebut menadahkan topi hitamnya dan mengahampiri setiap penumpang bus. Dengan suka rela para penumpang melempar uangnya ke dalam topi tersebut. Aku mengambil dompet di saku celanaku dan kukeluarkan uang lima ribuan. Saat topi hitam sang pengamen berada di depanku, kuulurkan tanganku, dan dengan bersamaan laki-laki di sampingku mengulurkan tangannya sehingga tangan kami bersentuhan. Aku menoleh padanya. Kami beradu pandang. Meski hanya sekejap, aku bisa merasakan sesuatu yang memikat yang membuat jantungku berdetak keras. Suara jantungku yang tak beraturan membuat aliran darahku terganggu. Dia tersenyum padaku. Tapi aku tidak mampu untuk membalas senyumnya. Segera kupalingkan muka dan kusandarkan kepalaku ke sandaran kursi. Perlahan kutarik nafasku. Berusaha untuk menenangkan organ yang bernama jantung. Aku juga tidak paham mengapa jadi cepat sekali berdetaknya. Kupejamkan mata berusaha sesantai mungkin. Sampai akhirnya kau melayang ke dalam mimpi.
“Neng, neng bangun! Sudah sampai.” Suara kernet bus terdengar di telinga berusaha membangunkanku. Perlahan kubuka mata yang terasa berat. Aku tersentak ketika tahu aku satu-satunya penumpang yang masih ada dalam bus. Segera kuberanjak dari tempat duduk dan kupakai ransel cokelatku. Saat hendak melangkah pergi, kusempatkan untuk menoleh pada tempat duduk seniman muda. Matakuk menemukan sebuah lukisan di sama. Lukisan yang mirip wajahku. Atau memang wajahku sendiri? Kubaca tulisan yang tertulis di dalamnya.

Teruntuk
Cantik yang tak kukenal

Sikap dinginmu membuatmu seolah angkuh dan melekat pada sebuah sikap yang amat tenang. Ketenangan yang menyatu dalam wajah ayumu mampu membuat jari-jemariku menari-nari membentuk wajah indahmu.

Dieas


Setelah membacanya kulipat dengan rapi kertas putih itu. Kembali kulangkahkan kaki keluar bus dengan sebuah senyum yang tercipta karena seorang yang tak kukenal.
Bus tempat aku menemukan cinta di dalamnya melaju pergi meninggalkanku bersama rasa yang membuatku melayang bersama bayangan seniman muda.
Semoga waktu masih memihakku menemukannya kembali dengan rasa yang sama. Dan membangun cinta seutuhnya.

PASRAH HATI PADA CINTA

Oleh: Rara Zarary, XII IPS 4

Aku begitu sakit
Ketika kau tancapkan pisau
Pada hatiku, pusat segala rasa
Padahal aku rindu, dan tetap mencintaimu

Itu yang kurasa saat Adhil meninggalkanku beberapa minggu lalu. Kalau seandainya aku tak malu untuk memintanya kembali, aku pasti lakukan itu demi cintaku. Tapi aku tahu, bahwa aku seorang wanita yang dipandang serakah bila menancap cinta pada lelaki.
Aku baru sadar. Ternyata posisi lelaki itu sangat enak. Menguasai segala hal. Yah, mereka punya banyak kesempatan untuk bercinta. Tidak lain karena mereka tidak pernah mampu disakiti wanita.
Adhil lelaki yang selama tiga tahun sudah bersamaku. Ah,. Aku kira semua itu akan menjadi cinta sejati. Tapi nyatanya sejenak nyaris tak ada.

Aku tak lagi memiliki rasa cinta
Bila nyatanya cinta pertama tak ada
Hati kan kututup,
Sampai nanti ada lelaki berkelana mencariku sebagai yang dipuja


Akhirnya akupun berusaha bangkit dari lelah dan dukaku. Aku tak boleh mati karena perasaan ini. Aku harus mampu beranjak dari alur cerita Adhil yang lalu. Yang terbiasa menyuruhku menengadahkan tangan dikala langit mendung. Menyuruhku menunggu matahari ketika terganti senja. Aku harus lepas dari memory itu! Aku pasti mempu demi masa depanku.

@@@

Satu bulan setelah kuhapus bayangan Adhil dari hatiku. Ternyata aku dihadapkan pada masalah baru. Bapak memintaku untuk menikah dengan Fahri, sepupuku sendiri.
Tiba-tiba jiwaku tergoncang. Aku seperti digoyang oleh bayang-bayang Adhil. Aku takut, aku khawatir tak mampu mencintai lelaki pilihan Bapak. Karena aku sadar. Ternyata Adhil masih membekas di hatiku.
Akhirnya aku menolak pada Bapak dengan alasan masih mau sekolah. Ternyata permohonanku nyaris tak terjawab. Bahwa aku harus rela pergi dari rumah kalau melanggar apa yang beliau pinta.
Aku sadar, bahwa apa yang ia perbuat adalah untuk menyambung persaudaraan. Bahkan untuk melindungi diriku dari lelaki pemilik cinta yang dusta. Ya, aku harus mampu menepis rasa keberatanku ini. Aku harus benar-benar lupa pada Adhil. Dia bukanlah cinta yang halal bagiku. Aku yakin aku mampu membuka hatiku kembali. Siapa tahu Kak Fahri adalah lelaki yang sedang berkelana mencariku.
Akupunn melalui hari-hariku. Dan saat ini adalah aku sebagai istri Kak Fahri. Malam ini penentu cinta kami tuk dipadu. Aku akan selalu berusaha menjadi istri yang sholihah…

Pada malam itu
Aku temukan secercah cahaya putih
Bernama cinta dari Ilahi
Dan itu adalah lelaki pendamping hidupku kini


Benar! Cinta ternyata bisa dengan belajar…
Aku mencintaimu, Kak Fahri…

RETORIKA HATI FANYA

Oleh: Rara Zarary, XII IPS 4

Aku membutuhkannya
Aku ingin ia kembali
Mendampingiku melaju
Bersama bayang hari esok

Pagi di rumah Fanya, dia melirikkan matanya ke arah foto Zuan sahabatnya yang telah pergi meninggalkannya. Matanya bening, alisnya yang indah membuat ia tetap kelihatan segar dan cantik meski air mata yang suci telah menjadi hiasan lukanya.
Fanya hanya seorang cewek yang tak mampu mengalirkan kehidupannya. Bahkan untuk menjaga dirinya pun ia masih tak bisa. Benar jika Fanya merasa kehilangan atas tak adanya Zuan, karena selama ini Zuanlah yang menjaganya. Bahkan memberinya kekuatan dalam hidup yang telah ia lalui dengan iringan musik kesepian dan kesedihan.
Kepergian Zuan bukanlah kamauannya. Fanya yang meminta Zuan pergi dari sisinya. Entahlah apa alasan Fanya melakukan hal itu. Tapi yang jelas, Fanya telah menyesali apa yang ia perbuat.
Tepat di persimpangan jalan menuju sekolah, Fanya melihat Zuan bersama cewek yang sejajar dengannya. Fanya diam. Mata mereka tiba-tiba berjumpa dalam pandangan yang satu. Zuan manatap fanya. Lalu dengan cepat Fanya mengalihkan penglihatannya. Dan ia pun beranjak dari tempat berdirinya.
Fanya ternyata memikirkan apa yang ia lihat sebelumnya. Seorang Zuan bersama dengan cewek lain. Memang Zuan dengan Fanya hanya sebatas sahabat. Bahkan saat ini sudah tak memiliki hubungan apa-apa. Tapi rasa cemburu masih hadir di hati Fanya. Dia memang tidak mencintai Zuan melebihi sahabat. Tapi ada satu hal jika Zuan sudah memiliki kekasih, maka waktunya semakin tak ada untuk Fanya.

Ada ketakutan yang mulai menghantuiku
Banyak kesulitan yang tak mampu kulalui
Dan itupun hanya bisa
Bila aku bersama denganmu…

Fanya jatuh sakit. Air matanya selalu berlinang. Tak ada yang mampu memahaminya. Bahkan Ibunya sendiri tidak tahu apa yang telah membuat Fanya menjadi sakit.
Akhirnya jalan satu-satunya yang Ibu Fanya pilih adalah menemui Zuan, sahabat Fanya dari SD. Karena Ibu Fanya tahu dialah satu-satunya sahabat Fanya.
Zuan terkejut ketika mendengar kabar bahwa Fanya jatuh sakit. Spontan Zuan berlarian menuju ke rumah Fanya. Sedikitpun tak terlintas ingatan bahwa ia telah diusir oleh Fanya.
Zuan memandangi Fanya yang masih tak membuka matanya. “Hei sahabat baikku. Nona Fanya… Zuan datang non…” ia berbisik lirih di telinganya. Tiba-tiba Fanya terbangun dan menatap Zuan tak percaya. “Kamu kok di sini? Bukankah aku telah menyuruhmu pergi?” mendengar ucapan Fanya, tiba-tiba Zuan teringat atas apa yang telah terjadi antara mereka dua bulan lalu. Zuan diam. Dia merasa harus tetap berada di sisi Fanya. Meski ternyata Fanya selalu menyuruhnya untuk menjauh. Sebenarnya masalah yang melatar belakangi kejadian itu hanya sepele. Tentang ketidak datangan Zuan disaat Fanya memanggilnya sore itu. Fanya merasa Zuan telah memiliki yang lain. Dengan itu hati Fanya beda. Ia tiba-tiba memilih untuk menyuruh Zuan pergi dari pada nanti ia akan tersakiti di akhir hari…
“Fanya, sebenarnya apa sih salahku? Sampai-sampai kau tidak mau lagi menatap mukaku? Sebesar apa kebencianmu padaku?” Fanya diam. Dia Cuma mampu mengeluarkan air matanya. Fanya tahu dirinya sangat merindukan Zuan. Bahkan dia ingin Zuan kembali di sampingnya. Tapi semua itu tidak Fanya utarakan. Karena Fanya tahu, dia hanya seorang gadis yang tidak ada apa-apanya di mata Zuan. “Fanya, kamu tidak usah menjawab apapun. Aku tak memaksamu. Bahkan aku akan pergi jika itu memang kemauanmu. Aku ke sini karena Ibumu datang ke rumah, bahkan karena aku sangat mengkhawatirkanmu, Fanya. Ya sudah, aku janji nggak bakal ganggu kamu lagi.” Zuan beranjak dari samping Fanya. Fanya membiarkan semua itu berlalu… entah apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa kalau Fanya memang sayang ia harus membiarkan Zuan pergi…? Semuanya hanya Fanya yang tahu.

Aku tahu,
Aku membutuhkannya
Tapi aku akan berlebihan
Jika ingin dia selalu di sisiku
Dia memiliki cinta
Dan aku tak mau memisahkannya
Biarkan musik luka ini menjadi temanku
Sebagai instrumen yang kan memberiku
Kekuatan meski tanpa Zuan…

Air mata Fanya mengalir deras melepas jejak langkah Zuan…
Dan semua kan menjadi cerita yang luka bagi Fanya. Karena Fanya pun sadar lukanya tidak akan pernah sembuh hingga nanti ada orang yang mau mengobatinya dengan ketulusan hati. Meski itu bukan Zuan…

CINTAKU, MAKSIATKU PADA-NYA

OLeh: Rara Zarary, XII IPS 4

Aku tengadahkan tangan lembutku di bawah langit. Berharap akan terjatuh air mata langit yang diperintah awan.
Siang itu mendung. Aku dan Raffi berlarian mencari tempat untuk berteduh. Setelah jam sekolah selesai, teman-temanku pun seperti itu, mencari tempat berteduh. Sambil berbincang dengan pujaan hatinya. Mereka bercinta.

Goyangan dedaunan menjadi saksi
Bebatuan memanjakan diri
Lalu batang-batang serta ranting
Mengikatkan diri, agar tak roboh
Jikalau petir dan guntur mulai berkelahi

Raffi menatapku dalam. Matanya yang tajam membuat jantungku berdetak kencang. Dia lalu tersenyum membawa hatiku terbang mengunjungi kebahagiaan.
Hujan membasahi bumi. Hingga senja, air mata langit tetap mengalir. Aku dan Raffi tak bisa pulang karena aku tahu, Raffi begitu anti dengan air hujan. Dia akan jatuh sakit.
Sampai rembulan dan para bintang bermunculan, petir dan guntur tetap menggelegar. Aku terkejut, lalu aku terjatuh dalam pelukan Raffi. Ada perasaan menguasai hati. Aku merasa nyaman dekat dan didekapannya. Tak ada perasaan lain selain aku mencintainya.
Aku terlepas dari dekapannya. Aku dan Raffi sudah capek menunggu hujan reda. Kami pun duduk kembali di tempat yang tetap. Aku meminjam bahunya sebagai tempat penepis rasa lelah. Aku tertidur pulas. Terbawa angin malam yang begitu mendinginkan tubuh.
Suara kucing mengagetkanku. Aku terbangun dari tidurku. Sungguh aku tak menyangka hal ini akan terjadi. Aku tertidur dengan keadaan tak semestinya dengan Raffi. Kami sama-sama dalam keadaan telanjang. Aku berlari sebelum Raffi membuka mata. Entahlah, aku tak tahu apa yang terjadi semalam. Aku takut. Aku sangat khawatir kalau kami telah melakukan zina. Karena kutahu sebelum tertidur, seragamku melekat pada tubuhku. Tapi tidak lagi ketika aku bangun. Ah… aku telah terkotori. Aku tak lagi suci!
Sampai di rumah aku dihadapkan dengan banyak pertanyaan. Masih pukul 02.30 dini hari. Rumahku sudah ramai dengan berbagai pertanyaan. Ayah marah geram. Dia memaksaku menjawab. Aku datang dari mana? Aku tak mampu berkata apa. Karena air mata pun masih menguasai suasana. Tanpa kutahu Raffi mengejarku ke rumah. Ayah keluar menemuinya dalam gelap malam. Baju Raffi masih tak terpakai. Ayah heran dan marah. Sekali lagi ia tanyakan apa yang terjadi pada malam itu.
Raffi dan aku saling menatap. Ayah memukul Raffi. Ayah mengerti apa yang telah terjadi. Bahwa aku dan Raffi telah melakukan suatu hal yang tak seharusnya terjadi.
Raffi berdarah. Lukanya dalam setelah Ayah mendorongnya hingga terkena bekas-bekas aspal yang kasar. Ada duri di sana. Aku menghampirinya. Ingin membangunkannya dalam keterpurukannya. Ayah semakin garang. Lalu dia mengusirku saat itu juga. Aku ditamparnya dan aku dimakinya. Aku mengerti perasaannya. Ia tak mau malu pada tetangga atas perbuatan ini. Maka dari itu Ayah mengusirku ketika pagi masih buta. Karena mata tetangga yang masih tak terbuka.
Terpaksa akupun pergi. Entah aku tak tahu kemana harus mencari hidup lagi. Atau aku akan lebih memilih mati dari pada menanggung malu diri.
Tangisku meledak. Aku menyesal atas apa yang terjadi. Tapi sungguh aku tak pernah merencanakan hal itu terjadi. Aku takut pada siksa Ilahi. Aku tak mau dimurkai.
Aku berlari. Jauh dari jarak Raffi. Aku mau sendiri tanpa Raffi yang telah mengotori tubuh ini. Aku akan pergi, meski sendiri. Karena aku tahu aku akan mati jika harus terus bersama Raffi dalam hidup ini. Aku ingin ke suatu tempat yang tak kukenali. Dan penduduk itu tak mengenaliku agar aku kekmbali mampu mensucikan diri dan terlihat suci. Meski pada hakikatnya, hatiku telah ternodai cinta ini. Padahal cinta adalah anugerah. Tapi semua ini malah terbalik. Cintaku serakah. Cintaku musibah.

CINTA, AKU KEJAR DUNIA

Oleh: Rara Zarary, XI IPS 4

Aku benci,
Aku hampir muak bertatap muka
Denganmu
Ayah, kau kejam!!
Tak mau memahami inginku
Kau tega
Perasaanku sampai membencimu

Pada malam gelap gulita itu, sajakku tercipta, terinspirasi lewat kekejaman lelaki pada istrinya. Aku melihatnya dengan jelas bagaimana kejadiannya. Karena lelaki itu adalah Ayahku.
Aku pun tak pernah tahu kenapa Ayah begitu kejam pada Ibu. Padahal, Ibu perhatian, sabar, cantik lagi! Kalau disangka punya pujaan hati lain, itu tidak mungkin. Karena aku tahu Ayahku tak seperti itu. Aku mencintai Ayah, tapi entahlah. Cinta itu kini sepertinya telah memudar. Terkadang ironisnya rasa benci hadir tanpa kumau.
Setiap pagi, sore, bahkan ketika matahari hampir terganti bulan, tiada lain musik yang kudengar. Kecuali pertengkaran Ayah-Ibuku. Aku ingin sekali berada di tengah-tengah mereka. Manjadi pemisah dan mendamaikan mereka. Mengikatkankembali hakikat cinta. Tapi sayang, aku tak berani. Karena aku tahu, aku akan kena marah. Karena aku terlalu kecil untuk ikut campur masalah orang dewasa. Sampai-sampai waktu itu aku ingin sekali cepat dewasa. Agar aku tak lagi diremehkan, dan aku mampu menepis ramai tengkar kedua orang yang paling kucintai.
Ibu memang wanita sabar, yang mampu menghormati suami meski perasaannya sudah terbakar. Beliau tetap perhatian pada Ayah. Do’anya selalu dia lantunkan khusus untuk Ayah. Tapi semua itu tidak berpengaruh. Ayah tetap seperti itu, mau menang sendiri. Aku tahu, memang Ayah yang membelanjakan kami. Tapi Ayah tidak berhak menginjak-injak hakku sebagai anak dan Ibu sebagai istri.
Sebenarnya beberapa tahun yang lalu Ayah tak seperti ini. Dia perhatian, baik, dan penyabar. Tapi sejak kekayaan ini di depan mata, lalu dinikmati dengan kesempurnaan rasa, Ayah lalu berubah warna. Ya, warna kehidupan Ayah sekarang tak indah di mata kami.
Apa maunya aku tak tahu. Ayah pergi dari rumah. Meninggalkan kami yang teraniaya sepi. Benar sendiri lebih sejati dan itu emnjadi kawan sejati kami.
Sejak itu, aku dan Ibu mulai belajar hidup yang semestinya. Sama dengan kehidupan tetangga lain. Yang setiap harinya terasa damai dan tenang.
Akhirnya aku dan Ibu bahagia. Kami pun tak pernah terlintas bayangan Ayah. Kami ingin melupakannya. Tapi aku mengerti, Ibu sangat sakit dengan keputusan ini. Karena aku tahu. Sekejam apapun Ayah,dia adalah lelaki yang bersemayam di hati Ibu. Ya, ibu mencintainya. Aku yakin Ibu lakukan keputusan itu karena aku. Aku yang tak mau lagi punya Ayah sepertinya.
Hingga sampai saat ini, kami belum bertemu atau mendengar kabar Ayah. Seperti ditelan bumi saja. Ayah menghilang…

Sebenarnya aku rindu
Tapi aku terlalu luka
Semestinya aku cinta
Nyatanya aku lupa
Ya, melupakanmu sebagai lelaki penyebab adaku

@@@

Aku tiba-tiba merasa takut mendekati lelaki. Aku tak ingin ada yang kedua dari Ayah dalam keluargaku. Aku mau sendiri. Tidak mengenali dunia lelaki. Bahkan taku mau bercinta. Karena aku pun tak mau kembali luka. Aku tak mau ada kekerasan lagi. Cukup aku hidup dengan Ibuku. Wanita yang nestapa karena cinta lelaki. Tapi tidak. Sekarang dia bahagia denganku. Buah hati yang mencintainya.

Dosakah aku
Bila lupa Ayahku
Salahkah aku jika
hatiku menutup pintu cinta untuknya?
Aku terlalu layu…
Hingga kumbang tak mau merayu…
Dan ini gara-gara kamu, Ayahku…


Umurku sudah dewasa. Aku sudah paham ap arti semua. Termasuk kejadian lima tahun lalu. Saat Ayah memilih pergi meninggalkan Ibu. Tiada lain semua itu dia lakukan karena satu alasan; Ayah mengejar kekayaan. Ayah punya hak dan aku tak perlu lagi mengundangnya kembali ke sini. Dia sudah hidup bahagia di sana. Dan di sini aku dan Ibu juga bahagia. Maski sepi terkadang menyertai.

Aku dan hatiku bersama Ibu
Maafkan aku Ayah
Jika hatiku memilih garis lupa atas adamu
Aku tak bermaksud durhaka
Ini kulakukan karena ingin kurasakan bahagia,
Sama seperti pilihanmu
Meninggalkan Ibu demi harta…

Senin, 21 Desember 2009

BERLALUKAH BADAI ITU

Oleh:BEEHIVE CLASS XII IPS 2

Sinar mentari yang muncul dari ufuk timur menyinari hatiku,menemani juiwa yang sepi,dan menghangatkan raga yang dingin akan kasih sayang setelah usia remaja menyapaku,kebersamaan yang sempurna,takkan pernah tertelan oleh jarak,aku gadis manis,mungil,penuh enerjik,tak bosan-bosan tersenyum mengenang masa lalu yang begutu indah.dimana sebuah keluarga kecil yang tinggal digubuk tua ,selalu memberi kehangatan ya…! Layaknya sinar matahari yang tak pernah lelah menyinari dunia dengan sinarnya

***
Masa itu tak pernah hilang dari pikiranku,hati ,jiwa dan mataku.sekalipun aku jauh dari keluarga kecilku!tapi, mereka tetap ku ingaat dan selalu tersimpan di hatiku.ingin kubertemumereka, merebahkan kepala dipangkuan ibu ,bercanda tawa bersama adik-adikku,dan berada dalam pelukan ayah.setiaknya!pertanyaan itu selalu berfolusi dalam otakku, akupun tak bisa menjawabnya .aku gamang dengan pertanyaanku sendiri

***
Kerinduan yang begitu mendalam, membuatku tak bisa membendung air mta.tetesan demi tettesan membasahi hijab yangku pakai.sudah dua tahun aku tak pernah pulang kampung halamanku.tepat pada hari ultah yang ke-17 ibuku! Memberi kabar bahwa ayahku telah berangkat ke luar negri{arab saudi} untuk mencari nasab dan biaya kuliahku nanti.sungguh hatiku hancur,badanku terasa remuk mendengar berita itu!.masalah ekonomi yang melanda keluarga ku saat ini, membuat ayah tega mennggalkan kami,akuhanya bisa pasrah dan berharap ayah sehat dan selamat dinegri orang.
Kapergian ayah membuat hari-hariku terasa hambar.aku bosan pada dunia ini yang tak berpihak padaku ,apalagi banyak guru-guru disekolahmenjelaskan bahwa perselingkuhan itu terjadidikarnakan hilangnya kebersamaan,ya ! contohnya keluargaku ayah dan ibuku terpisahkarena jarak yang memisahkan.aku bosan mendengar semua cerita itu,aku hanya bisa menangis dan mencurahkan pada yang kuasa,agar keluargaku tetap utuh.dan apa yang di katakan guruku!takkan terjadi pada keluargaku

***
Hari hari tlah kulalui tanpa sesosok lelaki yang tegas didalam keluargaku.aktifitasku kacau balau mendengar berita kepergian ayah. Aku tetap tidak bisa menerima kenyataan ini. Aku butuh pengokoh, penyanggah, agar aku tetap bisa berdiri dan menjalani kehidupnku. Raut wajah Ibu yang redup dengan tutur kata yang lembut, muncul di depan mataku. Tak terasa butiran bening jatuh membasahi kertas di atas mejaku. Konsentrasiku buyar, hanya bayangan Ibu yang tetap dalam pikiranku.
Sedang apa Ibu di sana? Bagaimana Ibu menghadapi masalah tanpa Ayah di sisinya? Akankah Ibu tetap tersenyum pada dunia? Aku sangat mengkhawatirkan Ibu! Sungguh aku bingung dan bimbang. Bagaimana mengatasi masalah keluargaku? Apalagi mengingat pernyataan dari guruku! Tubuhku tiba-tiba melepuh dan tetesan bening itu mengalir tiada henti. Sungguh berat ujian hidup ini! Rasanya dunia akan menghimpitku! Apalagi, saudaraku masih kecil-mungil. Mereka

***
Di Pesantren salafiah Jombang, aku selalu sakit. Aktivitasku terhambat di sekolah. Banyak pelajaran yang tertinggal. Hingga suatu hari, tepat tanggal 30 Mei 2004, aku mendapat surat dari Ibu. Kedatangan surat Ibu memberiku kekuatan. Yang dulunya enggan beraktivitas, kini kekuatanku pulih kembali.
***
Satu bulan telah kulewati. Surat itu tetap tersimpan rapi di dalam lemari. Disaat aku rindu dan kekuatanku down, aku mengulang membaca surat itu. Surat itu merupakan jimat untuk diriku, sekaligus kekuatanku. Tapi, tetap saja pikiran yang tidak-tidak tentang hilangnya kebersamaan itu selalu ada dalam otakku! Aku mencoba menepis semua itu, tapi tak bisa! Karena sudah tak kuat memendam pikiran itu, akhirnya, aku memberanikan diri untuk menelepon Ayah. Aku terisak. Ayah pun ikut terisak.
“wis toh nak. Dhunga’no ae, beno Ayah lekas moleh ghowo duwek seng akeh. Beno awakmu gak nelongso. Beno podho bhek konco-koncomu seng laen. Lan gak usah mikirno seng macem-macem. Ayah gak kiro koyok ngono. Ayah seng sayang neng Ibukmu lan kabeh keluarga.” kata Ayah waktu itu. Lega rasanya mendengar pernyataan itu dari Ayah. Dunia terasa melepaskan himpitannya.
***
Semula aku tak punya rasa percaya diri. Karena aku tak sama seperti teman-temanku yang lain. Dan aku sempat berpikir tak akan pulang ke kampung halamanku. Karena buat apa juga pulang? Tak ada Ayah! Tapi pikiran itu aku rubah, karena aku bukan hanya merindukan Ayah. Tapi juga Ibu dan keluargaku di sana.
Pondok Pesantren tempatku meneguk ilmu, membuatku ingin selalu memeluk dan selalu mengucapkan terima kasih pada Ayah dan Ibu. Aku sadar, itu bukan cara yang tepat untuk berterima kasih pada mereka. Layaknya anak kecil saja! Ingin selalu berpelukan. Hingga tiba pada waktu yang mendebarkan. Yaitu pengumuman peringkat kelas dan hari libur panjang Ramadlan. Suara mikrofon membahana di aula sekolah Pesantren. Seolah terdengar hingga ke penjuru dunia. Jantungku berdegub kencang seperti gendrang yang mau perang (Dewa 19). Saat nama-nama orang yang mendapat peringkat disebutkan. Ternyata namaku disebut. Aku mendapat peringkat pertama.
Kebahagiaan kembali memelukku. Sekalipun kesedihan masih mempererat genggamannya. Tapi, tetap tidak bisa merubah perasaanku. Apalagi melihat teman-temanku bercanda bersama keluarganya. Hatiku merasa teriris. Aku merindukan masa itu. Masa yang tak kan pernah hilang dalam sanubariku.
Ak mencoba tegar dan menghapus kesedihan yang tetap bercokol dalam otak dan perasaanku. Karena kusadar “no body is perfect in this world” (tak ada seorang pun yang sempurna di dunia ini). Sedikit demi sedikit aku mulai mengikhlashkan semua yang terjadi padaku. Karena kuyakin badai pasti berlalu.