Tampilkan postingan dengan label about me. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label about me. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Mei 2011

Kaki Mungilku Lunglai Mengejarmu

Oleh: Farasyah
IPA

Awal tahun 2008
Sulit memulainya.Memercikkan air bening-pun rasanya aku perlu mengutus urat uratku agar mau menggenggam gayung pengangkut air dikolam.Bukan karena tak mampu.Hanya saja aku merasa belum siap mengawali tahun baru masehi kali ini dengan air wudhu’ sebagai penguras kotoran kemarin di wajahku. Khawatir wajahku hanya basah tapi kotorannya tetap terasa.Rasa malaskupun mulai beruntun.Aku masih saja seperti hari hari kemarin.Menonggak kedua kakiku di teras kamar sambil menindihkan kedua tanganku secara bergantian.Seperti tari samman aceh saja!.Pikirku mulai melaju. Hmm…..andai saja,aku termasuk orang yang tak hanya pandai mengoleksi mimpi,pasti suatu saat aku bisa dengan segera menjemput ambisiku menjadi seorang penari pena yang lentur dan handal.Namun aku masih tetap saja dan tak mau memulai satu permainan-pun.Kalau saja aku berani memainkan teori ular tangga dalam alur hidupku,dimana dadu mulai ku lambungkan dan nominalpun di depan mata, tanpa ragu akupun melangkah sebagai sang pengembara. Pasti tak lamaakulah orang paling beeruntung sedunia.Karena di sana,aku berhasil menaiki tangga permainan.Walau terkadang ada waktu aku harus jatuh juga.Tapi,apa salahnya mencoba?daripada hanya menemani diamku sekarang!diam menganga bak singa tua yang tak dapat mangsa.Ah….lelah.
03 Januari 2008
Malam ini,lelah menjadi sahabat terbaik dalam hidupku.Aku sampai tak tahu bagaimana caranya membuat rasa lelah itu lekang dari lingkaran nafasku.Sepeti yang ku rasa saat ini,aku masih ogah ogahan masuk kelas diniyah,yang memanglah sebuah kewajiban bagiku sebagai seorang santri yang berhabitat di pesantren.Aku masih benar-benar merasa sepi dalam sebuah ruangan yang faktanya yang sangatlah ramai.Mau berkata apa lagi jika otak dan hatiku sudah tak bisa berpadu dengan teman temanku yang lain di kelas ini. Keluhku tiada guna.Sesaat hingga ku dengar sekilas perkataan guruku yang seorang penyair.Tapi Ah…..dia juga menguasai pelajaran yang berbau agama.Sedangkan aku apa?
“Kalau bisa,suami kalian nanti adalah putera seorang kiai!”.Sebenarnya mungkin,aku terlalu ingin mengindahkan perkataan beliau.Ada secuil saja rasa dari dalam hatiku tertarik akan hal itu.menjadi istri putera seorang kiai.Meski pada dasarnya,aku tak bernasab seorang kiai-pun.Seandainya…. takdir itu nanti menghampiriku,selanjutnya malam-malamku akan penuh dengan hal-hal yang hhm….isteri seorang putera kiai.
01 Februari 2008
Februari,sebuah awal yang pelan-pelan membuat segalanya berubah.Tiba- tiba penuh cinta dan…aku tak tahu cara mendeskripsikannya.Ada sesuatu yang antara sadar dan tidak, sudah membuat dinding hatiku teroles.Mau tahu kenapa?.aku memiliki seorang sahabat Syifa,yang ia-pun memiliki saudara laki-laki yang tak lain adalah seorang putera kiaiKatanya!.Entahlah,aku tak terlalu memprioritaskan hal itu.hanya satu!sepertinya saudaranya laki-lakinyalah yang sudah mengecat merah jambu habis-habisan dinding hatiku.Ah……pubertas yang menyenangkan!
02 Februari 2008
Mungkin untuk sekali berfikir,sepenuhnya hanya aku yang bahagia.Tapi setelah ku pertimbangkan lagi,aku masih memiliki banyak hal yang akan terbengkalai jika aku slalu memikirkan semua ini. Heran!ternyata,mungkin saja aku sedang jatuh cinta?Hmm….ia yang kusebut Si Arsitek sangat kreatif mengecat hatiku, ternyata adalah seorang penyair yang pastinya seorang penulis handal dan berpopularitas ria di lingkungan pesantrenku.Beda sekali dengan Syifa, yang tak lain adalah sahabatku yang terlalu pandai dalam mengendarai cinta di dalam hatinya……
Kembali tentang Si Arsitek.Harus ku kata apa tentang persaanku saat aku menerima kertas yang berwarna sepadan dengan cat yang dia lempar di hatiku.Lagi lagi merah jambu. Hmm…….sebenarnya tak ada satupun yang bermuat godaan atau apalah yang kurang pantas hanya…..satu kali dia menyebut namaku dalam kertas merah jambu itu,seperti ada cairan sabun yang di tiup dan mengurungku dalam gelembungnya sehingga kumelambung tinggi.Huff….terlalu dramatis!tapi begitulah aku.
04 Februari 2008
Pagi yang buram.Layaknya jua membuat buram hari ini. Aku berusaha berfikir positif tapi lagi-lagi keyakinanku memberontak. Sudahlah … aku tak ingin memikirkannya,Hari ini hari Jum’at,jadi sebenarnya ada banyak peluang untuk berfikir yang keterlaluan.Apalagi setelah kudengar dari sahabatku Syifa,ternyata Si Arsitek sangat menyukai karya-karya salah satu kakak kelas yang kebetulan satu organisasi denganku.Kenapa rasanya hati ini miris sekali ya?ah…aku sedikit cemburu.Hanya sedikit!begitulah diriku.Tiap sesuatu yang menurutku sudah bergelantung di jiwaku,aku tak rela jika ia harus beralih pada hal lain.Meski….terkadang belum nyata.Tentang karya kakak kelasku,aku ingin menandinginya.DENGAN CARA APAPUN ITU!
05 Februari 2008
“Ya ampun……Amel….!sejak kapan kamu gila ngoleksi kumcer?gak biasa bangettasmu berat karena buku-buku kumcer yang sepertinya dulu gak pernah kamu suka”.Ungkap salah seorang temanku sambil geleng-geleng kepala. Sedikitpun aku tak mengubrisnya .Ya…itulah aku sekarang. Aku seperti orang yang kecanduan narkoba,dan akan slalu merasa haus untuk terus mengisapnya.Meski dilubuk terdalam aku tak pernah ingin berkelut di dunianya.Waktu istirahatpun hanya kuhabiskan dengan setumpuk cerpen yang ku paksa untuk menyesaki otakku.Malam-malamku seringtersita hanya karena Obsesiku untuk menyaingi kakak seniorku yang jelas-jelas sudah Master memproduksi cerpen.Ah…ini sebenarnya hanya pelampiasan rasa cemburuku yang berlebihan.”Huayy….”.aku menguap ,Ternyata aku mulai mengantuk,tapi entah mengapa aku melarang keras-keras mataku agar tidak mengantuk.Gak boleh!malam ini gak boleh tidur!,masih ada banyak cerpen yang belum terbaca.Jika malam ini selesai ku bacasemua cerpen di hadapanku ini,pasti besok aku bisa menghasilkan tulisan-tulisan yang sehat karena sudah mengonsumsi banyak Vitamin.Tak sadar jarum jam telah menemani angka 03.30. Malam berlebihan untuk berlalu.
06 Februari 2008
Hari yang kukira sehat ternyata pucat,Hening dan sepi. Tapi aku tak merasa sendiri,Mau tahu kenapa?Pening di kepalaku terus berdenting, mendesakku untuk menderingkan peristiwa kemarin yang sebenarnya tak terlalu penting.
Krekk…! pintu kamarku terbuka,tapi aku tak menghiraukannya,hingga ada sentuhan yang lembut melayang di dahiku.Lembut sekali seolah-olah inilah waktunya kembali menjadi Amel yang tak pernah beku.
“Amel,kenapa gak sekolah?kamu sakit?”ternyata mbak Rara. Tapi aku malah tak berkeinginan untuk menjawabnya.Aku hanya ingin membenamkam wajahku di pelukannya,lantas membiarkan pipiku di luruhi air hangat yang terlepas dari okulaku.Sungguh!aku mulai sesak dengan tangisku.Aku tak tahu mengapa kristal bening yang terus bergelinding bak bola salju itu masih tak mau reda juga.”Amel kenapa?”.mbak Rara bertanya-tanya sambil mengangkis kepalaku dan menghapus air mataku.Aku berusaha menuntun bibirku agar tak kelu,berusaha ceritakan segalanya.Karena aku tahu dia menaruh khawatir yang sangat terhadapku.
07 Februari 2008
Mendengar ini.”Masa, dimana jiwamu sangat rapuh dan gampang di sentuh, sehinggagampang melepuh ketika orang yang telah membuatmu luluh tak dapat lagi kau rengkuh”.Ini dari mbak Rara, Aku sadar ternyata aku berlebihan.Si Arsitek tak pernah ungkap apa-apa padaku. Dia hanya sekadar ingin bersahabat,tak lebih!aku juga mulai sadar menjadi diriku sendiri adalah yang terbaik,menjadi aku yang katanya bukanlah pengulas sastra,melainkan pengumbar realita sekitar.
“Skillmu di non-fiksi, bukan fiksi saudaraku, andai Rangga yang kau panggil Si Arsitek itu serius memusatkan inginnya padamu, dia takkan menuntutmu sama dengannya. Cukup salingmelengkapi saja he..he..he..”.ungkap mbak Rara untuk yang kesekian kalinya.Sekarang nyatanya aku berkata:”tak ada apa-apa yang harus ku khawatirkan”.Karena aku yakin ini hanya semua dan juga sejauh aku bersahabat dengannya,Si Arsitek tak pernah menuntut padaku…..Apalagi menuntutku untuk sama dengannya…..

Minggu, 09 Mei 2010

MEMORIES OF RANIAS

Mungkin tak banyak orang yang mengenalku, tak banyak pula yang tahu tentangku. Bagaimana mungkin, aku hanya seorang gadis yang tertakdir lahir di sebuah desa. Desa yang telah membuatku tumbuh menjadi mawar tak berduri, desa yang telah membuatku mengenal tawa juga aksara dunia. Ibuku, seorang wanita muda yang tak punya suara. Ayahku, seorang laki-laki desa yang…..ah…aku muak mengingatnya! Bukan karena aku tak menyayanginya, tapi ayah sendiri yang mengajariku untuk tak menyayangi apapun, selain diri sendiri.
Aku tumbuh di kalangan masyarakat yang selalu sibuk mencibir kesalahan orang lain, sedang dosanya tak terhitung. Aku anak kedua dari tiga bersaudara, satu-satnya anak perempuan di rumahku selain Ibu. Hidup selalu membuatku bertanya, kenapa aku terlahr sebagai perempuan? Yang hidupnya selalu dikesampingkan. Kenapa aku terlahir sebagai perempuan? Yang tak pernah lepas dari cibiran. Namun salahkah aku menjadi perempuan, hingga aku harus selalu disalahkan? Apakah kesalahanku menjadi perempuan, hingga aku harus menahan ribuan kebencian?
Bukan pilihanku, tapi Tuhan yang memlihkannya untukku. Begitu kata Ibu. “Takdir tak mempermainkanmu, bukan pula Tuhan!”, jelasnya padaku. Lalu siapa, siapa yang bersalah hingga aku begini.bahkan telah tertanam di benakku, “Terlahir sebagai perempuan takkan pernah membuatku beruntung”.
Karena aku perempuan, aku harus mengalah pada kedua saudaraku yang laki-laki. Karena aku perempuan, aku rela menerima getirnya kehidupan. Karena aku pun perempuan, aku harus merasakan jatuh cinta. Bukan ini yang ku mau! Bukan hidup yang seperti ini yang ingin ku pilih, Tuhan! Terlahir sebagai perempuan tak membuatku bersuara, bahkan untuk memilih.
Perempuan mana yang mau dinikahkan diusia 15 tahun, disaat ia menikmati hidupnya sebagai pelajar, disaat ia berusaha bejuang melawan arus keterbelakangan. Menikah siri dengan alasan mahrom, itu yang kujalani beberapa tahun lalu. Tak ada yang memberitahuku, bahkan hanya untuk sekedar meminta pendapatku. Tak tahunya aku telah diakad dengan seorang laki-laki yang ‘baik’ kata Ayah-Ibuku. Karena kegigihanku lah yang tetap menolak untuk tinggal serumah dengannya, hingga aku tetap bisa melanjutkan sekolah di sini.
Pernikahan siri hanyalah sebuah gergaji untuk merobohkan dinding ke-mahroman. Dan setelah itu, aku tak ubahnya sampah yang kapan saja bisa dipungut sekaligus dibuang saat tak dibutuhkan. Aku menikah diusia 15 tahun dan menjanda diusia 16 tahun, lucu…?
TIDAK!!!
Aku bahkan sempat berfikir bahwa Tuhan tengah menertawakanku dari atas sana, karena makhluk yang diutusnya telah berhasil mencampakkan aku. Bukan hanya itu, ribuan cibiran tetanggapun harus terpaksa ku telan. Orang itu benar-benar membuangku. Kurang satu bulan dia menjatuhkan talaq, ia menikahi seorang wanita desa tetangga. Aku mengenalnya, begitupun wanita itu. Yang tak kusangka, wanita itu justru bahagia di balik ribuan bibir yang asyik mencemoohkaku.
Tak tanggung-anggung, begitu menikah siri ia meminta untuk membuat surat nikah di KUA dan resmi menjadi suami istri sekaligus tinggal satu atap dan meninggalkan sekolah yang sebenarnya lebih memberikannya masa depan. Ternyata aku lupa, keterbelakangan rupanya telah mendarahdaging di sini. Aku miris mendengarnya.
Namun di satu sisi, aku harus merasa beruntung karena keteguhankulah untuk tidak tinggal serumah dengannya dan tak memberikannya kesempatan sedikitpun untuk berani menyentuhku. Aku tak mau peduli orang akan berkata apa, karena bagi mereka seorang lelaki tidak mungkin menjatuhkan talaq kalau bukan istrinya yang membuat ulah, tanpa mereka sadari bahwa merek masih berada di ketiak laki-laki. Aku tetaplah mawar tanpa duri, tapi aku bukan mereka yang kapan saja bisa dijamah dan dinikmati lelaki.
Dari balik kebencian ini, syukurlah kini keluargaku mulai membuka mata untuk memperjuangkan pendidikanku sebagai satu-satunya perempuan putri mereka. Dan saya minta kepada pembaca sekalian untuk senantiasa mengiringi saya dengan doa agar jalan saya ke depan penuh hikmah meski dengan jalan terjal, karena Insyaallah setelah lulus dari MA I Annuqayah Putri ini nanti saya akan mengikuti kakak saya ke Sudan, di fakultas kedokteran, Insyallah!
Satu hal yang harus kita ingat, pernikahan di usia dini bukan satu-satunya pilihan meski dengan alasan apapun, karena yakinlah suatu saat nanti akan timbul penyesalan yang sangat.






XI IPA

LUKA KEMBALI

aku hanya tak ingin goresan luka ini tergores lagi. Aku mohon...! jangan paksa aku untuk membenci siapapun, aku tak bisa.







awan who peaceable, untukmu yang tak pernah mengertiku

Senin, 02 November 2009

Sepenggal Memory dalam Hidupku

Oleh: Musyarrofah, XII IPS 1

Disini, aku ingin bercerita tentang seseorang kepada kalian. Cerita tentang sosok yang membuatku benar-benar hidup.
Awalnya, aku merasa sungkan kepada beliau, tapi beliau berkata, “tenanglah, semuanya bisa kita diskusikan dan lakukan bersama”.
Lalu aku mulai merasa dipahami.
Suatu hari, saat aku begitu bersemangat mengemukakan gagasanku, beliau berkata,”gagasanmu sangat bagus, tapi sebelum melaksanakannya kamu harus malihat peluang yang ada dan positif-negatifnya”.
Aku mulai berusaha mewujudkan gagasanku, tapi jalan tak semulus yang kubayangkan, membuat aku mulai tak yakin dengan kemampuanku. Namun, beliau berkata,”keahkan semua kemampuanmu, jika dengan semua itu kamu belum mampu, barulah kamu boleh meminta bantuan orang lain. Tapi, saya yakin kamu pasti bisa”
Aku mulai bangkit kembali. Tapi aku tetap merasa kelelahan dengan semua masalah yang beruntun menimpaku. Lalu, beliau menghiburku, “setiap orang pasti punya masalah, karena tanpa masalah kita takkan hidup”.
Kini aku mengerti, bahwa masalah adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah, karena dengan adanya masalah aku belajar menghargai hidup.
Lain waktu, aku melakukan kasalahan. Taukah kalian bagaimana tanggapan beliau? bukan menyesali kesalahan yang telah kulakukan, tapi beliau malah bertanya, “berapa kali kamu melakukan kesalahan?”.
Sejak saat itu, aku belajar menjaga kepercayaan orang lain kepadaku.
Begitu banyak hal berharga yang telah beliau ajarkan kepadaku. tentang hidup yang tak semudah ku bayangkan. Namun, juga tak sesulit yang kupikirkan.
Beliau mengajariku untuk hidup tak sekedar helaan nafas, mengarahkan mata dan hatiku untuk melihat dari segala sisi, mengajakku menikmati indahnya cahaya matahari, sebelum aku mengeluhkan teriknya.
Semuga beliau selalu diridhai-Nya

Bukit Bintang, 2 Nopember 2009