Pierre Tendean, Sang Anumerta dalam G-30-S/PKI
Oleh:Ulfatun Hasanah, XII Prog. Keagamaan
Ajudan Menko Hankam / Kasab Jendral AH. Nasution ini adalah pria kelahiran Jakarta, 21 Februari 1939. Meskipun Pierre putra seorang dokter, namun minatnya pada bidang militer ternyata cukup besar. Sehingga setelah lulus Sekolah Menengah Atas bagian B, Pierre mendaftarkan dirinya ke Akademi Militer Jurusan Teknik (Akmil Jurtek). Bisa dikatakan bahwa Pierre tergolong taruna yang cakap dan berprestasi. Kecakapan yang terus berlanjut itu akhirnya mengantarkan dirinya menjadi Ajudan sekaligus pengawal A.H. Nasution. Tepatnya pada bulan April 1965.
Sebagai ajudan yang baik dan pengawal yang setia pada atasannya, Pierre benar-benar membuktikan ketabahan dirinya. Hal tersebut bermula sejak munculnya PKI (Partai Komunis Indonesia) yang mengisukan “Dewan Jendral” akan mengadakan perebutan kekuasaan dari Presiden Soekarno. Oleh sebab itu sebelum “Dewan Jendral” benar-benar menggulingkan kekuasaan Soekarno yang pada wktu itu beliau dalam keadaan sakit. D. N. Aidit melakukan evaluasi untuk melumpuhkan TNI AD terlebih dahulu. Sebab TNI AD-lah yang mempunyai kemampuan untuk menggulung PKI. Dewan Jendral yang paling diincar adalah A.H. Nasution, A. Yani, Hryono M.T., Soeprapto, D.I. Pandjaitan, S. Parman, dan Sutojo S.
Setelah persiapan, PKI melakukan aksi penculikan, penyiksaan dan pembunuhan. Yaitu pada dinihari 1 Oktober 1965 PKI menyaatroni rumah A.H. Nasution. Namun dalam penculikan itu A.H. Nasution selamat. Akan tetapi sebagai gantinya, Ade Irma Suryani_Puterinya terebunuh. Bersamaan dengan itu juga, Pierre yang tertangkap mengaku dirinya adalah Jendral A.H. Nasution, akhirnya Pierre disiksa. Penyiksaan yang sangat kejam dan begitu sadis mengantarkan Pierre pada kematian. Jenasahnya ditanam bersama ketujuh korban lainnya di lubang buaya.
Pahlawan yang tewas pada peristiwa itu, termasuk Pierre Tendean oleh Negara di baiat sebagai Pahlawan Revolusi berdasarkan SK Presiden RI No.III / KOTI/ 1965.
Tampilkan postingan dengan label Features. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Features. Tampilkan semua postingan
Jumat, 25 Desember 2009
Selasa, 10 November 2009
Menelusuri Jejak Sang Ulama’ Pejuang
Oleh: Musyarrofah, XII IPS 1
Sosoknya menyiratkan ketegasan dengan mata menyorot tajam dan alis hitam tebalnya. Sorban yang menutupi kepalanya seakan menambah kesan kewibaan. Beliaulah K.H. Moh. Hasyim Asy’ari, salah satu diantara pahlawan–pahlawan kemerdekaan nasional.
Beliau terlahir pada tanggal 14 Pebruari 1871 di desa Gedang, Jombang dari pasangan Kyai Asy’ari dan Halimah, yang masih keturunan ningrat dan ulama’.
Sejak kecil kegigihan beliau dalam mencari ilmu terpancar dari sikap dan prilakunya. Beliau belajar langsung kepada ayah dan kakeknya, Kyai Utsman. Pada usia 13 tahun, beliau sudah mengajar di pesantren kakeknya.
Belum puas dengan ilmu yang diperoleh, beliau berkelana dari satu pesantren ke pesantren yang lain; dari Pesantren Wonorogo Probolinggo, Pesantren Trenggilis Semarang, Pesantren Kademangan Bangkalan Madura hingga pesantren Siwalan Sidoarjo. Dan di pesantren yang terakhir inilah beliau diminta untuk menikahi Khadijah, putri pangasuh pesantren tersebut, K.H. Ya’qub.
Setelah menikah, beliau bersama sang istri berangkat ke tanah suci, Mekkah. Tujuh bulan dari keberangkatan itu, putera pertama mereka lahir dengan nama Abdullah. Namun duka tak bisa diduga, belum genap 40 hari usia sang putera, istri beliau wafat dan disusul oleh puter semata wayangnya.
K.H. Moh. Hasyim Asy’ari memutuskan untuk kembali ke Indonesia, kemudian pada pada tahun 1893 M. beliau kembali ke Mekkah dan berguru kepada dua ulama’ besar, Syaikh Ahmad Khotib dan Syaikh Mahfudh at-Tarmisi.
Tahun 1899, beliau kembali lagi ke tanah air, Indonesia dan mengajar di pesantren kakeknya. Pada tahun itu pula, beliau mendirikan pesantren Tebu Ireng, di Jombang. Ribuan santri dari berbagai daerah Indonesia datang untuk belajar di pesantren beliau.
Menjadi oarang yang mahir dalam pengetahuan agama tidak membuat Kyai Hasyim mengabaikan pengetahuan umum. Di pesantren beliau, para santri tidak hanya diajarkan pegetahuan agama tapi juga pengetahuan umum dan berorganisasi. Maka tak heran, tak sedikit para alumni pesantren tersebut yang menjadi tokoh dan ulama’ bahkan Kyai Hasyim sendiri adalah petani dan pedagang sukses.
Dua puluh tujuh tahun setelah mendirikan Pesantren Tebu Ireng, beliau mendirikan NU (Nahdlatul Ulama’) yang berperan aktif dalam proses kemerdekaan. Dan kini organisasi tersebut menjadi penyalur pengembangan Islam ke desa-desa dan kota di Jawa.
Sikap toleran terhadap perbedaan atau aliran lain adalah salah satu sikap yang terus menghiasi masa hidup beliau. Semangat mempertahankan kemerdekan tercermin dalam pidato-pidatonya. Hingga pada tanggal 25, Juli 1947, setelah mendengar cerita mengenai banyaknya rakyat yang menjadi korban kekejaman Belanda, secara mendadak beliau terserang peradangan otak dan wafat.
Sosoknya menyiratkan ketegasan dengan mata menyorot tajam dan alis hitam tebalnya. Sorban yang menutupi kepalanya seakan menambah kesan kewibaan. Beliaulah K.H. Moh. Hasyim Asy’ari, salah satu diantara pahlawan–pahlawan kemerdekaan nasional.
Beliau terlahir pada tanggal 14 Pebruari 1871 di desa Gedang, Jombang dari pasangan Kyai Asy’ari dan Halimah, yang masih keturunan ningrat dan ulama’.
Sejak kecil kegigihan beliau dalam mencari ilmu terpancar dari sikap dan prilakunya. Beliau belajar langsung kepada ayah dan kakeknya, Kyai Utsman. Pada usia 13 tahun, beliau sudah mengajar di pesantren kakeknya.
Belum puas dengan ilmu yang diperoleh, beliau berkelana dari satu pesantren ke pesantren yang lain; dari Pesantren Wonorogo Probolinggo, Pesantren Trenggilis Semarang, Pesantren Kademangan Bangkalan Madura hingga pesantren Siwalan Sidoarjo. Dan di pesantren yang terakhir inilah beliau diminta untuk menikahi Khadijah, putri pangasuh pesantren tersebut, K.H. Ya’qub.
Setelah menikah, beliau bersama sang istri berangkat ke tanah suci, Mekkah. Tujuh bulan dari keberangkatan itu, putera pertama mereka lahir dengan nama Abdullah. Namun duka tak bisa diduga, belum genap 40 hari usia sang putera, istri beliau wafat dan disusul oleh puter semata wayangnya.
K.H. Moh. Hasyim Asy’ari memutuskan untuk kembali ke Indonesia, kemudian pada pada tahun 1893 M. beliau kembali ke Mekkah dan berguru kepada dua ulama’ besar, Syaikh Ahmad Khotib dan Syaikh Mahfudh at-Tarmisi.
Tahun 1899, beliau kembali lagi ke tanah air, Indonesia dan mengajar di pesantren kakeknya. Pada tahun itu pula, beliau mendirikan pesantren Tebu Ireng, di Jombang. Ribuan santri dari berbagai daerah Indonesia datang untuk belajar di pesantren beliau.
Menjadi oarang yang mahir dalam pengetahuan agama tidak membuat Kyai Hasyim mengabaikan pengetahuan umum. Di pesantren beliau, para santri tidak hanya diajarkan pegetahuan agama tapi juga pengetahuan umum dan berorganisasi. Maka tak heran, tak sedikit para alumni pesantren tersebut yang menjadi tokoh dan ulama’ bahkan Kyai Hasyim sendiri adalah petani dan pedagang sukses.
Dua puluh tujuh tahun setelah mendirikan Pesantren Tebu Ireng, beliau mendirikan NU (Nahdlatul Ulama’) yang berperan aktif dalam proses kemerdekaan. Dan kini organisasi tersebut menjadi penyalur pengembangan Islam ke desa-desa dan kota di Jawa.
Sikap toleran terhadap perbedaan atau aliran lain adalah salah satu sikap yang terus menghiasi masa hidup beliau. Semangat mempertahankan kemerdekan tercermin dalam pidato-pidatonya. Hingga pada tanggal 25, Juli 1947, setelah mendengar cerita mengenai banyaknya rakyat yang menjadi korban kekejaman Belanda, secara mendadak beliau terserang peradangan otak dan wafat.
WR. Supratman, Pahlawan Nasional Pada Zaman Pergerakan Berjuang Melalui Tulisan dan Lagu
Oleh: Izzatul Kamilia, Pearl Oyster Class (XII IPS 1)
Indonesia Raya/ Merdeka, merdeka/ Tanahku, negeriku yang kucinta/ Indonesia Raya/ Merdeka, merdeka/ Hiduplah Indonesia Raya. Bait lagu ini adalah penggalan dari Mars Indonesia Raya ciptaan W.R Supratman. Pahlawan nasional pada zaman pergerakan kemerdekaan Indonesia.
“Siapakah W.R Supratman?” Gelengan kepala, dan kata tidak tahu, adalah jawaban yang saya terima ketika bertanya kepada salah satu siswi MA 1 Annuqayah putri.
Lahir di Batavia (Jakarta) pada 9 maret 1903 dengan nama Wage Supratman. Ia putra seorang tentara KNIL. Masa kecilnya ia habiskan di Batavia. Hingga pada tahun 1914, Wage pindah ke Makassar bersama kakaknya Rukiyem yang menikah dengan seorang opsir Belanda Van Eldik.
Van Eldik menambahkan Rudolf pada nama Wage, dan mengakuinya sebagai anak agar Wage bisa bersekolah di Europeesche Lagere School. Tapi Wage tak bisa mengelak ketika pihak sekolah tahu bahwa ia adalah pribumi asli. Sehingga, ia harus keluar dari sekolah dan pindah ke sekolah Melayu. Lalu pada 1917 Wage melanjutkan sekolah ke Klein Ambienaar Examen. Lalu melanjutkan ke sekolah guru Normal School Makassar, dan Wage mengajar sebagai guru Sekolah Dasar di Makassar.
Wage, Menulis, Musik, dan Politik
Van Eldik –kakak ipar Wage- adalah seseorang yang menyukai musik dan ahli bermain biola. Dan Wage suka mendengarkannya lalu menirunya. Dan Van Eldik mengajarinya hinga ia bisa memainkan biola dengan lihai.
Wage mempunyai seorang teman peranakan Belanda Moni Vanacken. Moni yang akan menikah, meminta Wage untuk memainkan biola pada malam pernikahannya. Dan malam itu adalah kali pertama Wage menunjukkan kemampuannya pada khalayak ramai. Sejak saat itu Wage bergabung dengan grup orkestra yang juga diundang pada malam itu. Dan pada tahun 1920 Wage mendirirkan Club Band sendiri. Dan ia hidup dalam kemewahan.
Makin dewasa Wage makin kritis dalm melihat keadaan. Dalam hidupnya ia frustasi melihat kenyataan yang ada disekelilingnya. Wage terjebak pada dua kebudayaan. Ia hidup dalam keluarga Belanda, dipihak lain ia terkesan pada lingkungan masyarakat bawah yang mulai berontak dan bergolak, yang tak puas pada pemerintah Belanda dan menentang kekuasaan Belanda.
Wage mulai merasa hidupnya tak lagi berarti. Kemewahan dan berfoya-foya bukanlah tujuan hidupnya. Wage mulai mencari cara agar ia bisa berbuat sesuatu untuk bangsanya. Lalu ia memutuskan untuk menumpangi kapal, bertolak kepulau Jawa. Sesampainya di Pelabuhan Surabaya Wage diciduk aparat keamanan (polisi), dan dimasukkan kedalam penjara. Tapi ia dibebaskan karena barang bawaannya tak ada yang mencurigakan karena hanya berisi biola.
Dari surabaya ia pergi ke Cimahi, Jawa Barat dan tinggal bersama ayahnya. Disana ia bertemu dengan DR. Amir dan mengajak Wage bekrja sebagai wartawan di koran SINPO. Ia bertugas meliput perkara-perkara di pengadilan. Wage banyak menemukan ketidakadilan hukum pada penduduk pribumi dan ia menuliskannya di koran itu. Sejak saat itu Belanda resah dan mulai mengawasi gerak-gerik Wage hingga ia dikeluarkan dari pekerjaannya sebagai wartawan.
Untuk mengisi kekosongan waktu, Wage bermain biola ditempat bermain bilyard. Banyak orang yang datang ke tempat itu bukan untuk bermain bilyard, tapi untuk mendengarakan permainan biola Wage. Salah satunya adalah Harun, seorang wartawan terkenal dari koran ALPINA. Harun mengajak Wage untuk bergabung di ALPINA.
Kehidupan sebagai wartawan sudah mendarah daging pada diri Wage. Meskipun ia harus berhemat dengan gaji 36 perak setiap bulannya, ia masih bisa bertahan hidup. Tapi, ia bisa frustasi da mati bila ia harus melepaskan profesinya itu.
Dalam bidang politik Wage tidak bergabung pada golongan manapun. Walaupun demikian ia tetap menghadiri pertemuan-pertemuan dan rapat-rapat yang diadakan ole para pejuang kemerdekaan. Dan ia menyukai semangat rakyat Indonesia yang harus melakukan rapat sembunyi-sembunyi dari Belanda agar tak ditangkap. Sehingga rasa patriotisme semakin tebal didalam jiwa setiap orang, juga Wage. Ia menyukai pidato-pidato Soekarno dan menyukai pemikiran-pemikiran tokoh terkenal seperti Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo dan beberapa tokoh lainnya.
Hingga pada suatu hari Wage membaca artikel pada koran TIMBUL yang berbunyi “ Mana komponis kita jang dapat mentjiptkan lagoe kebangsaan Indonesia? Jang dapat membangkitkan semangat rakjat.” Dan Wage merasa tertantang karena ia yakin pada suatu hari bangsa Indonesia akan bersatu, Indonesia akan bangkit. Dan Wagepun mulai mengambil biolanya lalu menggeseknya, mengambil pena lalu menuliskan angka-angka not pada lembaran-lembaran kertasnya. Dan terciptalah sebuah lagu dengan judul Indonesia Raya.
Lagu itu ditampilkan pertama kali pada penutupan Kongres Sumpah Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Sejak saat itu Wage selalu menjadi pusat perhatian sekaligus musuh besar Belanda. Dan lagu itu pula yang dinyanyikan secara spontan pada 17 Agustus 1945 saat Indonesia mengumumkan kemerdekaannya.
Selain menulis lagu, Wage juga menulis sebuah roman yang berjudul Perawan Desa, tapi buku dilarang beredar oleh Belanda.
Pada tahun 1937 Wage kembali ke Surabaya, semangat pemuda Surabaya semakin berkobar-kobar, ketika tahu Wage telah kembali ke Surabaya. Hingga tepat pada tanggal 17 Agustus 1938 Wage menghembuskan nafas terakhirnya, dengan menyisakan luka pada jiwa setiap rakyat Indonesia. Dan dengan dikeluarkanya Surat Keputusa Presiden RI no. 016/TK/1971 Wage resmi menjadi Pahlawan Nasional negara Indonesia.
Indonesia Raya/ Merdeka, merdeka/ Tanahku, negeriku yang kucinta/ Indonesia Raya/ Merdeka, merdeka/ Hiduplah Indonesia Raya. Bait lagu ini adalah penggalan dari Mars Indonesia Raya ciptaan W.R Supratman. Pahlawan nasional pada zaman pergerakan kemerdekaan Indonesia.
“Siapakah W.R Supratman?” Gelengan kepala, dan kata tidak tahu, adalah jawaban yang saya terima ketika bertanya kepada salah satu siswi MA 1 Annuqayah putri.
Lahir di Batavia (Jakarta) pada 9 maret 1903 dengan nama Wage Supratman. Ia putra seorang tentara KNIL. Masa kecilnya ia habiskan di Batavia. Hingga pada tahun 1914, Wage pindah ke Makassar bersama kakaknya Rukiyem yang menikah dengan seorang opsir Belanda Van Eldik.
Van Eldik menambahkan Rudolf pada nama Wage, dan mengakuinya sebagai anak agar Wage bisa bersekolah di Europeesche Lagere School. Tapi Wage tak bisa mengelak ketika pihak sekolah tahu bahwa ia adalah pribumi asli. Sehingga, ia harus keluar dari sekolah dan pindah ke sekolah Melayu. Lalu pada 1917 Wage melanjutkan sekolah ke Klein Ambienaar Examen. Lalu melanjutkan ke sekolah guru Normal School Makassar, dan Wage mengajar sebagai guru Sekolah Dasar di Makassar.
Wage, Menulis, Musik, dan Politik
Van Eldik –kakak ipar Wage- adalah seseorang yang menyukai musik dan ahli bermain biola. Dan Wage suka mendengarkannya lalu menirunya. Dan Van Eldik mengajarinya hinga ia bisa memainkan biola dengan lihai.
Wage mempunyai seorang teman peranakan Belanda Moni Vanacken. Moni yang akan menikah, meminta Wage untuk memainkan biola pada malam pernikahannya. Dan malam itu adalah kali pertama Wage menunjukkan kemampuannya pada khalayak ramai. Sejak saat itu Wage bergabung dengan grup orkestra yang juga diundang pada malam itu. Dan pada tahun 1920 Wage mendirirkan Club Band sendiri. Dan ia hidup dalam kemewahan.
Makin dewasa Wage makin kritis dalm melihat keadaan. Dalam hidupnya ia frustasi melihat kenyataan yang ada disekelilingnya. Wage terjebak pada dua kebudayaan. Ia hidup dalam keluarga Belanda, dipihak lain ia terkesan pada lingkungan masyarakat bawah yang mulai berontak dan bergolak, yang tak puas pada pemerintah Belanda dan menentang kekuasaan Belanda.
Wage mulai merasa hidupnya tak lagi berarti. Kemewahan dan berfoya-foya bukanlah tujuan hidupnya. Wage mulai mencari cara agar ia bisa berbuat sesuatu untuk bangsanya. Lalu ia memutuskan untuk menumpangi kapal, bertolak kepulau Jawa. Sesampainya di Pelabuhan Surabaya Wage diciduk aparat keamanan (polisi), dan dimasukkan kedalam penjara. Tapi ia dibebaskan karena barang bawaannya tak ada yang mencurigakan karena hanya berisi biola.
Dari surabaya ia pergi ke Cimahi, Jawa Barat dan tinggal bersama ayahnya. Disana ia bertemu dengan DR. Amir dan mengajak Wage bekrja sebagai wartawan di koran SINPO. Ia bertugas meliput perkara-perkara di pengadilan. Wage banyak menemukan ketidakadilan hukum pada penduduk pribumi dan ia menuliskannya di koran itu. Sejak saat itu Belanda resah dan mulai mengawasi gerak-gerik Wage hingga ia dikeluarkan dari pekerjaannya sebagai wartawan.
Untuk mengisi kekosongan waktu, Wage bermain biola ditempat bermain bilyard. Banyak orang yang datang ke tempat itu bukan untuk bermain bilyard, tapi untuk mendengarakan permainan biola Wage. Salah satunya adalah Harun, seorang wartawan terkenal dari koran ALPINA. Harun mengajak Wage untuk bergabung di ALPINA.
Kehidupan sebagai wartawan sudah mendarah daging pada diri Wage. Meskipun ia harus berhemat dengan gaji 36 perak setiap bulannya, ia masih bisa bertahan hidup. Tapi, ia bisa frustasi da mati bila ia harus melepaskan profesinya itu.
Dalam bidang politik Wage tidak bergabung pada golongan manapun. Walaupun demikian ia tetap menghadiri pertemuan-pertemuan dan rapat-rapat yang diadakan ole para pejuang kemerdekaan. Dan ia menyukai semangat rakyat Indonesia yang harus melakukan rapat sembunyi-sembunyi dari Belanda agar tak ditangkap. Sehingga rasa patriotisme semakin tebal didalam jiwa setiap orang, juga Wage. Ia menyukai pidato-pidato Soekarno dan menyukai pemikiran-pemikiran tokoh terkenal seperti Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo dan beberapa tokoh lainnya.
Hingga pada suatu hari Wage membaca artikel pada koran TIMBUL yang berbunyi “ Mana komponis kita jang dapat mentjiptkan lagoe kebangsaan Indonesia? Jang dapat membangkitkan semangat rakjat.” Dan Wage merasa tertantang karena ia yakin pada suatu hari bangsa Indonesia akan bersatu, Indonesia akan bangkit. Dan Wagepun mulai mengambil biolanya lalu menggeseknya, mengambil pena lalu menuliskan angka-angka not pada lembaran-lembaran kertasnya. Dan terciptalah sebuah lagu dengan judul Indonesia Raya.
Lagu itu ditampilkan pertama kali pada penutupan Kongres Sumpah Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Sejak saat itu Wage selalu menjadi pusat perhatian sekaligus musuh besar Belanda. Dan lagu itu pula yang dinyanyikan secara spontan pada 17 Agustus 1945 saat Indonesia mengumumkan kemerdekaannya.
Selain menulis lagu, Wage juga menulis sebuah roman yang berjudul Perawan Desa, tapi buku dilarang beredar oleh Belanda.
Pada tahun 1937 Wage kembali ke Surabaya, semangat pemuda Surabaya semakin berkobar-kobar, ketika tahu Wage telah kembali ke Surabaya. Hingga tepat pada tanggal 17 Agustus 1938 Wage menghembuskan nafas terakhirnya, dengan menyisakan luka pada jiwa setiap rakyat Indonesia. Dan dengan dikeluarkanya Surat Keputusa Presiden RI no. 016/TK/1971 Wage resmi menjadi Pahlawan Nasional negara Indonesia.
Jumat, 28 Agustus 2009
IKHLAS JALANI HIDUP
Oleh: Faiq Khairani Aisyah, XI IPA
Hari masih pagi, dinginpun masih terasa menyayat tulang. Rasa malas memang selalu hinggap, namun itu bukan alasan untuk membuatnya berdiam di rumah. Meski mentari belum sepenuhnya tampak, ia segera bergegas menuju MA 1 Annuqayah Putri yang tak jauh dari tempat diamana dia tinggal. Dengan berjalan kaki ia mengarungi sepanjang jalan dengan keyakinan masa depan. Pengalam hidup membuatnya semakin mantap dalam melangkah., Janji untuk tidak menyerah pada hidup telah dipahatnya sejak lama.
Pagi ini menunjukkan pukul 05.00 WIB, suasana di MA 1 A Pi masih sepi dan lengang. Hanya ada rumput-rumput yang memang sengaja ditanam di halaman sekolah dan bangunannya yang berbentuk huruf U menghadap utara. Belum algi sampah-sampah sisa kemarin sore dan daun-daun kering yang berguguran. Seolah tak ingin membuang waktu, tangannnya langsup hinggap pada sebuah sapu, mengayunkannya pada sampah-sampah yang berserakan di halaman. Langkahnya mengarahkan sampah-sampah itu ke tempat dimana mereka seharusnya berada, yaitu tempat sampah. Sesekali tangannya terulur, memungut sampah yang bandel tak mau mengikuti ayunan sapunya.
Ia memang tak sendirian dalam mengerjakan tugasnya, bersama teman seprofesinya ia mengerjakan segala tugasya mulai dari menyapu halam MA 1 A Pi, membuka pintu semua kelas dan sebagainya.. Sosok ini tidak akan asing bagi siswa-siswa MA 1 A Pi,ya dialah orang yang biasa disapa Pak Qasim, seseorang yang bisa disebut tukang kebun, bahkan tak dapat dipungkiri dia telah menjadi bagian dari dari kita, bagian dari sekolah ini. Karena dialah pahlawan kebersihan, ia selalu mengerjakan tugasnya dengan baik terutama membuat sekolah kita tetap bersih dari segala macam sampah.
Seorang yang berasal dari desa Payudan Daleman dusun Alinan, tinggal di daerah pesantren puluhan lamanya. Selama 23 tahun tinggal di daerah Lubangsa Selatan ikut membantu pekerjaan disana. Setelah itu, ia tinggal di sebuah rumah sederhana, di belakang STIKA Putri. Kemudian, ia diminta untuk bekerja di MA 1 Annuqayah Putri oleh K. Kurdi, Kepala MA 1 Annuqayah Putri sebelum K.Naqib hingga saat ini, Membuatnya belajar membiasakan hidup ikhlas dan apa adanya.
Hidup sederhana tidak membuatnya jenuh ataupun berontak pada keadaaan, justru itu membuatnya semakin mantap dalam menjalani hidupnya. Baginya hidup sepeti hujan,
”Semua akan kembali pada asalnya, jadi jalani saja seperti biasanya” tuturnya dengan senyuman yang begitu ramah. Baginya pekerjaan yang ia lakoni sekarang, bukan hanya sekedar kewajiabn.
”Ini sudah menjadi bagian dari hidup saya”ujarnya, ketik saya menanyakan kenapa dia begitu menikmati tugasnya. Mengingat semua orang pasti selalu menginginkan yang terbaik bagi hidupnya.
”Mungkin ini sudah menjadi suratan takdir dariYang Diatas”lanjutnya dikuti tawa yang lepas.
Hidup memang tak selamanya seperti yang kita inginkan, namun kesabaran merupakan patokan utama dalam menjalani hidup.
”Jangan hanya selalu mencari orang yang bagaimanapun dia bisa bermanfaat atau bisa dimanfaatkan, tapi usahakanlah bagaimana caranya kita bermanfaat bagi orang lain di sekitar kita” pesannya.
Hari masih pagi, dinginpun masih terasa menyayat tulang. Rasa malas memang selalu hinggap, namun itu bukan alasan untuk membuatnya berdiam di rumah. Meski mentari belum sepenuhnya tampak, ia segera bergegas menuju MA 1 Annuqayah Putri yang tak jauh dari tempat diamana dia tinggal. Dengan berjalan kaki ia mengarungi sepanjang jalan dengan keyakinan masa depan. Pengalam hidup membuatnya semakin mantap dalam melangkah., Janji untuk tidak menyerah pada hidup telah dipahatnya sejak lama.
Pagi ini menunjukkan pukul 05.00 WIB, suasana di MA 1 A Pi masih sepi dan lengang. Hanya ada rumput-rumput yang memang sengaja ditanam di halaman sekolah dan bangunannya yang berbentuk huruf U menghadap utara. Belum algi sampah-sampah sisa kemarin sore dan daun-daun kering yang berguguran. Seolah tak ingin membuang waktu, tangannnya langsup hinggap pada sebuah sapu, mengayunkannya pada sampah-sampah yang berserakan di halaman. Langkahnya mengarahkan sampah-sampah itu ke tempat dimana mereka seharusnya berada, yaitu tempat sampah. Sesekali tangannya terulur, memungut sampah yang bandel tak mau mengikuti ayunan sapunya.
Ia memang tak sendirian dalam mengerjakan tugasnya, bersama teman seprofesinya ia mengerjakan segala tugasya mulai dari menyapu halam MA 1 A Pi, membuka pintu semua kelas dan sebagainya.. Sosok ini tidak akan asing bagi siswa-siswa MA 1 A Pi,ya dialah orang yang biasa disapa Pak Qasim, seseorang yang bisa disebut tukang kebun, bahkan tak dapat dipungkiri dia telah menjadi bagian dari dari kita, bagian dari sekolah ini. Karena dialah pahlawan kebersihan, ia selalu mengerjakan tugasnya dengan baik terutama membuat sekolah kita tetap bersih dari segala macam sampah.
Seorang yang berasal dari desa Payudan Daleman dusun Alinan, tinggal di daerah pesantren puluhan lamanya. Selama 23 tahun tinggal di daerah Lubangsa Selatan ikut membantu pekerjaan disana. Setelah itu, ia tinggal di sebuah rumah sederhana, di belakang STIKA Putri. Kemudian, ia diminta untuk bekerja di MA 1 Annuqayah Putri oleh K. Kurdi, Kepala MA 1 Annuqayah Putri sebelum K.Naqib hingga saat ini, Membuatnya belajar membiasakan hidup ikhlas dan apa adanya.
Hidup sederhana tidak membuatnya jenuh ataupun berontak pada keadaaan, justru itu membuatnya semakin mantap dalam menjalani hidupnya. Baginya hidup sepeti hujan,
”Semua akan kembali pada asalnya, jadi jalani saja seperti biasanya” tuturnya dengan senyuman yang begitu ramah. Baginya pekerjaan yang ia lakoni sekarang, bukan hanya sekedar kewajiabn.
”Ini sudah menjadi bagian dari hidup saya”ujarnya, ketik saya menanyakan kenapa dia begitu menikmati tugasnya. Mengingat semua orang pasti selalu menginginkan yang terbaik bagi hidupnya.
”Mungkin ini sudah menjadi suratan takdir dariYang Diatas”lanjutnya dikuti tawa yang lepas.
Hidup memang tak selamanya seperti yang kita inginkan, namun kesabaran merupakan patokan utama dalam menjalani hidup.
”Jangan hanya selalu mencari orang yang bagaimanapun dia bisa bermanfaat atau bisa dimanfaatkan, tapi usahakanlah bagaimana caranya kita bermanfaat bagi orang lain di sekitar kita” pesannya.
Jumat, 07 Agustus 2009
MEMULUNG SAMPAH SEBAGAI ALTERNATIF
Oleh: Farihah Zurni, XI IPA
Matahari belum sempurna menyemburkan sinarnya pada cakrawala, ketika tangan keriputnya mengais-ngais tumpukan sampah yang ada di gerobak Jari-jarinya kokoh memegang ranting kering yang diayunkan kesana-kemari, seolah-olah tak ingin ranting itu lepas. Tangan kirinya menenteng kantong plastik bewarna hitam yang penuh sampah. Kakinya terlapis sandal Skyway yang terpijak ke tanah. Berdirinya tak lagi tegak, digerus usia yang semakin renta. Kurang lebih 75 tahun yang lalu dia terlahir ke dunia ini.
”Ibu sudah tak dapat mendengar dengan jelas, nak!” serunya saat aku menyapanya. Wajah keriputnya terangkat. Matanya menyipit mencoba memperjelas tatapannya yang mulai rabun. Tangannya berhenti mengais.
”Nama ibu, Ena. Ibu punya anak satu, namanya Sey!”katanya, saat aku menayakan namanya. Tangannya lihai mengais-ngais sampah dan memasukkannya ke kantong plastik. Bu Ena bekerja menjadi pemulung sampah sudah kurang lebih dua tahun. Dia menjadi pemulung karena dia sudah tak mapu lagi bertani. Sebagai alternatif dia memilih menjadi pemulung sampah di sekitar pondok pesantren Annuqayah, karena rumahnya juga dekat dengan pondok pesantren Annuqayah.
”Ibu tidak hanya mencari sampah disini, tapi juga di santri putra”tambahnya. Tangannya semakin cepat mengais-ngais sampah yang baru dituangkan oleh seorang santri putri. Dia mulai bercerita bahwa pada awal-awal mencari sampah dua kali sampah yang dia kumpulkan berakhir di tempat pembakaran karena tidak ada pembeli sampah yang berkeliling. Namun dia tidak putus asa; dia tetap mencari sampah lagi hingga sekarang dia sekarang mempunyai pembeli tetap yang datang kurang lebih satu minggu sekali. Sampah yang didapat setiap hari dikumpulkan dan dijemur sebelum dijual pada pembelinya. Setelah datang pembeli, biasanya sampah yang sudah dikumpulkan itu ditimbang, kalau sampahnya terdiri dari kertas biasanya dibeli dengan harga Rp. 1.500 /Kg.
”Lumayan buat pendapatan, agar tidak numpang terus pada anak!”imbuhnya sambil tersenyum.
Matahari belum sempurna menyemburkan sinarnya pada cakrawala, ketika tangan keriputnya mengais-ngais tumpukan sampah yang ada di gerobak Jari-jarinya kokoh memegang ranting kering yang diayunkan kesana-kemari, seolah-olah tak ingin ranting itu lepas. Tangan kirinya menenteng kantong plastik bewarna hitam yang penuh sampah. Kakinya terlapis sandal Skyway yang terpijak ke tanah. Berdirinya tak lagi tegak, digerus usia yang semakin renta. Kurang lebih 75 tahun yang lalu dia terlahir ke dunia ini.
”Ibu sudah tak dapat mendengar dengan jelas, nak!” serunya saat aku menyapanya. Wajah keriputnya terangkat. Matanya menyipit mencoba memperjelas tatapannya yang mulai rabun. Tangannya berhenti mengais.
”Nama ibu, Ena. Ibu punya anak satu, namanya Sey!”katanya, saat aku menayakan namanya. Tangannya lihai mengais-ngais sampah dan memasukkannya ke kantong plastik. Bu Ena bekerja menjadi pemulung sampah sudah kurang lebih dua tahun. Dia menjadi pemulung karena dia sudah tak mapu lagi bertani. Sebagai alternatif dia memilih menjadi pemulung sampah di sekitar pondok pesantren Annuqayah, karena rumahnya juga dekat dengan pondok pesantren Annuqayah.
”Ibu tidak hanya mencari sampah disini, tapi juga di santri putra”tambahnya. Tangannya semakin cepat mengais-ngais sampah yang baru dituangkan oleh seorang santri putri. Dia mulai bercerita bahwa pada awal-awal mencari sampah dua kali sampah yang dia kumpulkan berakhir di tempat pembakaran karena tidak ada pembeli sampah yang berkeliling. Namun dia tidak putus asa; dia tetap mencari sampah lagi hingga sekarang dia sekarang mempunyai pembeli tetap yang datang kurang lebih satu minggu sekali. Sampah yang didapat setiap hari dikumpulkan dan dijemur sebelum dijual pada pembelinya. Setelah datang pembeli, biasanya sampah yang sudah dikumpulkan itu ditimbang, kalau sampahnya terdiri dari kertas biasanya dibeli dengan harga Rp. 1.500 /Kg.
”Lumayan buat pendapatan, agar tidak numpang terus pada anak!”imbuhnya sambil tersenyum.
Langganan:
Postingan (Atom)