Senin, 17 Agustus 2009

PASKA PERSIAPAN HUT, OSIS MA-MTs PERERAT UKHUWAH


Seperti tahun-tahun sebelumnya, siswi MA 1 Annuqayah Putri juga ikut memeriahkan HUT kemerdekaan RI dengan kegiatan upacara yang telah menjadi program tahunan Osis MA I Annuqayah Putri. Karena keterbatasan tempat, maka upacara kali ini ditempatkan di halaman MTs I Annuqayah Putri yang bekerja sama dengan Osis MTs 1 Annuqayah Putri. Eliza Umami, wakil sekretaris OSIS MA 1 Annuqayah Putri metuturkan, " siswi MA I Annuqayah Putri yang berjumlah kurang lebih 700 siswi, tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan upacara HUT kemerdekaan RI di halaman MA I Annuqayah Putri."
Dari penggabungan pelaksanaan ini, tidak hanya petugas upacara yang sibuk mempersiapkan upacara HUT kemerdekaan RI, tapi juga melibatkan seluruh siswi dalam kerjabakti di halaman MTs 1 Annuqayah Putri yang akan dijadikan tempat upacara HUT kemerdekaan RI 17 Agustus yang ke -63.
Dengan semangat 45, siswi MA 1 Annuqayah Putri membersihkan halaman MTs 1 Annuqayah Putri. "Saya tetap bersemangat melakukan bersih-bersih di sini. Karena dengan kerja bakti ini saya bisa merasakan kerjasama yang baik dan kekompakan seluruh siswi MA I Annuqayah Putri." Ungkap Wasilatur Aini, siswi kelas XI IPS-2. Tapi, tak jarang dari mereka mengaku letih dan gerah. Bahkan beberapa siswi terlihat hanya duduk-duduk. "Kami duduk karena sudah cape`. Sudah bekerja dari tadi". Tutur Fat R Lain lagi dengan yang diungkapkan oleh Mutiatul Khoiriyah. "Kerja baktinya mendadak. Jadi kami baru datang. Bukannya nggak mau bekerja".
Walaupun terdapat sebagian siswi dari MA 1 Annuqayah Putri yang hanya duduk-duduk, tidak turut berpartisipasi membersihkan halaman MTs 1 Annuqayah Putri, tapi dengan semangat yang tertanam dalam diri siswi MA 1 Annuqayah Putri akhirnya halaman MTs 1 Annuqayah Putri bersih dari sampah dan bebatuan yang mengganggu.

Sabtu, 15 Agustus 2009

SISWA MA 1 APi SAMBUT HUT DENGAN SEMANGAT BERKARYA

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menyambut HUT RI ke-63 kemerdekaan. Salah satunya adalah yang lakukan oleh pengurus OSIS MA 1 Annuqayah Putri. mereka melenggarakan beberapa lomba, khususnya pada bidang kebersihan dan keindahan. Diantaranya adalah lomba hias kelas, kliping dan mading kelas.
Lomba-lomba tersebut banyak menyita waktu siswa MA 1 Annuqayah Putri. bahkan, pada jam pulang, banyak dari mereka, khususnya pengurus kelas, terlihat masih berada di sekolah untuk menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan lomba-lomba tersebut.
Selain itu, juga ada lomba yang lebih mengarah pada bakat personal sisiwi MA 1 Annuqayah Putri dalam karang-mengarang fiksi, khususnya cerpen. Lomba mengarang cerpen dengan tema Indonesia Dan Patriotisme Remaja ini diikuti oleh satu orang dari tiap kelas sebagai delegasi kelas masing-masing.

Jumat, 07 Agustus 2009

MEMULUNG SAMPAH SEBAGAI ALTERNATIF

Oleh: Farihah Zurni, XI IPA

Matahari belum sempurna menyemburkan sinarnya pada cakrawala, ketika tangan keriputnya mengais-ngais tumpukan sampah yang ada di gerobak Jari-jarinya kokoh memegang ranting kering yang diayunkan kesana-kemari, seolah-olah tak ingin ranting itu lepas. Tangan kirinya menenteng kantong plastik bewarna hitam yang penuh sampah. Kakinya terlapis sandal Skyway yang terpijak ke tanah. Berdirinya tak lagi tegak, digerus usia yang semakin renta. Kurang lebih 75 tahun yang lalu dia terlahir ke dunia ini.
”Ibu sudah tak dapat mendengar dengan jelas, nak!” serunya saat aku menyapanya. Wajah keriputnya terangkat. Matanya menyipit mencoba memperjelas tatapannya yang mulai rabun. Tangannya berhenti mengais.
”Nama ibu, Ena. Ibu punya anak satu, namanya Sey!”katanya, saat aku menayakan namanya. Tangannya lihai mengais-ngais sampah dan memasukkannya ke kantong plastik. Bu Ena bekerja menjadi pemulung sampah sudah kurang lebih dua tahun. Dia menjadi pemulung karena dia sudah tak mapu lagi bertani. Sebagai alternatif dia memilih menjadi pemulung sampah di sekitar pondok pesantren Annuqayah, karena rumahnya juga dekat dengan pondok pesantren Annuqayah.
”Ibu tidak hanya mencari sampah disini, tapi juga di santri putra”tambahnya. Tangannya semakin cepat mengais-ngais sampah yang baru dituangkan oleh seorang santri putri. Dia mulai bercerita bahwa pada awal-awal mencari sampah dua kali sampah yang dia kumpulkan berakhir di tempat pembakaran karena tidak ada pembeli sampah yang berkeliling. Namun dia tidak putus asa; dia tetap mencari sampah lagi hingga sekarang dia sekarang mempunyai pembeli tetap yang datang kurang lebih satu minggu sekali. Sampah yang didapat setiap hari dikumpulkan dan dijemur sebelum dijual pada pembelinya. Setelah datang pembeli, biasanya sampah yang sudah dikumpulkan itu ditimbang, kalau sampahnya terdiri dari kertas biasanya dibeli dengan harga Rp. 1.500 /Kg.
”Lumayan buat pendapatan, agar tidak numpang terus pada anak!”imbuhnya sambil tersenyum.

Minggu, 28 Juni 2009

SAUDARA SEHATI

Judul buku : Malaika Humaira
Tebal : 358 Halaman
Harga : 40000,00
Judul resensi : Saudara Sehati


Zahratul Atiyah adalah seorang novelis muda yang berasal dari jogjakarta tepatnya di daerah pakalongan. Dalam novel pertamanya ini, teh Zahra telah mampu membuat pembaca berdecak kagum karena keelokan kata-katanya. Di akui, memang dalam setiap bait ceritanya sangat dan sangat menggugah hati. Teh Zahra sangat pintar mengotak-atik kata. Bahkan seakan-akan teh Zahra ingin mengajak pembaca untuk ikut serta menyelami indahnya kisah dalam novel inspiratif pembangkit kegundahan hati, karya pertamanya ini.
Judul novel ini adalah malaika humaira, yang kebetulan diambil dari tokoh utama dalam novel ini. Menceritakan tentang dua orang, hanna dan malka wanita berbeda watak, sikap dan kebiasaan. Awalnya mereka berdua tidak saling kenal, dan pertemuan mereka dilatar belakangi oleh ketidak sengajaan. Mereka tinggal 1 kost tapi berbeda kama. Ternyata ada kecocokan antara mereka berdua. Dan pada akhirnya persahabatan mengikat kebersamaan mereka. “ kau saudari sehati denganku.”, kata-kata itu yang terlontar dari mulut malka pada hanna sahabatnya.
Waktu berputar dan haripun berganti. Sang pujangga tiba-tiba hadir dalam kehidupan mereka mencipta kerenggangan diantara merek. Tapi karena persahabatan mereka kuat, kebersamaan yang tadinya hampir putus ini kembali merapat dan takkan ada yang bisa merenggangkan lagi. Sungguh hebat persahabatan sekaligus persaudaraan mereka. Dan dalam hal ini mereka meminta tuhan untuk menjadi saksi persaudaraan mereka. SAUDARA SEHATI.
Dalam setiap karya, yang pasti terdapat kelebihan dan kekurangannya. Adapun kelebihan dari novel ini adalah kata-katanya indah, unik dan mudah di cerna. Alur ceritanya juga bagus dan mengesankan. Adpun kekurangannya terletak pada dialog antar tokoh yang terkesan berbelit-belit. Hingga untuk sampai pada inti cerita terlalu lama.
Dari kisah ini bisa diambil hikmah bahwa persahabatan bukan Cuma untuk dirasakan tapi juga untuk di jaga. Dan sahabat akan bisa menjadi saudara sehati seperti yang kita inginkan.
Wallahu A’lam Bisshawab

Guluk-Guluk 28 Juni 2009

“ Allah…………..Jangan murkai hamba
Jika kata-kata yang hamba tulis tak berkenan.
Karena hamba Cuma ingin berproses menjadi lebih baik.
LAISA MINNI INSANUN KAMILUN.”

Minggu, 10 Mei 2009

Madicinal Herbs team plant again

The day is morning when was Te-O team go to the garden of madicinal herb in S.W. POSKESTREN. They want to take medicinal herb plant to chang palnts was died.
They wind medicinal herb plants neatly. Because they are afraid after planted the medicinal herb’s plants will die again. So, they has really sharp eyes to see that plants before yanking out it.
“We must take plants that good and fresh, so that not die again”. Said Mam to her friends. And her friends to squat and look that plants. After get the plant that right, they take out with carefully so that root’s of plant not snapped out.
“If the roots snapped out all, the punnishmant is make tradicional medicine” said Eli with her smile.
After take seed of medicinal herbs they go back to MA 1 A pi to plant that seeds in Poli bag, and to plow in front of laboratory of computer so that protect from sunshine.
“We put here the first so that not wilted if get sunray. And if the seeds are growing luxuriantly, we move to rack”, said Lely while put into poly bag. (l-ya/pie’/fani)

Te-O tim perbaiki tanaman

Hari masih pagi. Embun masih menghiasi dedaunan. Saat sebagian anggota tim Te-O berjalan menuju kebun di sebelah barat POSKESTREN. Mereka berempat hendak mengambil bibit Tanaman Obat untuk di tanam di Poly bag sebagai ganti tanaman yang mati.
Mereka memilih bibit Tanaman Obat dengan cermat. Karena takut setelah di tanam tanaman tersebut akam mati lagi. Maka dari itu mereka sangat jeli mengamati tanaman-tanaman tersebut sebelum memutuskan untuk mencabutnya .
“ Kita harus pilih tanaman yang bagus dan sehat, biar nanti gak mati lagi ” ucap Mam pada yang lain. Yang lain langsung berjongkok mengamati tanaman-tanaman tersebut. Setelah mendapatkan tanaman yang cocok , mereka mencabutnya dengan sangat hati-hati agar akarnya tidak putus.
“ Awas kalo akarnya gak kecabut semua, hukumannya harus di buat jamu sama yang nyabut” canda Eli sambil cekikikan.
Setelah selesai mengambil bibit Tanaman Obat mereka kembali ke MA 1 Pi Annuqayah untuk dan menanam bibit-bibit tersebut di Poli bag, lalu menjejernya di depan lab. Komputer yang terlindung dari sinar matahari.
“Kita letakkan di sini saja dulu agar tidak layu kalo terkena sinar matahari. Nanti kalau sudah tumbuh subur, baru kita pindah ke rak”, kata Lely sambil meletakkan Poli bag. (l-ya/pie’/fani)

Fresh Again

The proud plants of medicinal herbs that by developing self-sopporting healthy by making useful of maduranist medicinal herbs it turned out can’t prouded. Because, after moved to poly bag some of plants was wilted even almost be died. Some of that is lidah buaya, Tapak liman, and Pegagan. Close to two weeks that plants is being treated. However theresn’t a momento absolutely.
“Maybe it was many manures, so dry like that,make us dizzy!” said Badriyatul Lailiyah is caretaker of garden when she was pouring the plant medicinal herb.
Thursday morning, 30th of April 2009 when piket official puored plant of medicinal herb, turned some of plants medicinal herb seen fresh.
”Alhamadulillah, our plants was growing rapidly”. Said Mamduhah with smiling when she was said to the other friends in Te-O team.

.