Minggu, 13 Desember 2009

MATA DIBALIK LAZUARDI

oleh: zhie Al-gility, XII IPS 1

Lewat benam mata hasrat
Terpancar sebuah kagum
Menggeliat beku nafasku
Menggoncang jantung jiwaku
Dari bola mata dibalik lazuardi
Terbias lambaian-lambaian damba
Mengibarkan panji-panji cinta
Menebarkan robekan-robekan duka
Sepasang mata dibalik lazuardi
Memancar indah
Mendendangkan bait-bait asmara
Menembangkan lagu-lagu mesra
Mata yang tertutup awan putih
Melambangkan inovasi jiwa
Nampak begitu indah
Karena disan tak ada luka
Dibalik kejora cinta
Terpancar sepasang mata dewa
Menjanjikan sejuta kedamaian
Menjadikan kebahagiaan abadi
Pada kejora cinta
Kucoba kalai jiwa
Ternyata bukan sebuah sandiwara
Melainkan lukisan cinta
Buat kejora hatiku
Salam manis berbalut cinta
Semoga kita selalu berjumpa
Dan hasratku bukanlah angan belaka
Kejora hati permata jiwaku
Jadilah untaian nada serunai cinta
Jadikanlah langkahku indah
Dalam bias kejoramu
Rengkuh hasratku dalam nyatamu.

Aku Meminta

Oleh: Rara Zarary, XI IPS 3

Ajari aku mengeja bahasa
Biar ku cerdas memilih kata
Lalu ku tuangkan rasa lewat cerita
Dengan namamu yang ‘kan ku bawa

Ini aku yang merindukanmu
Yang memujamu lewat desau angin sore ini
Agar kau semakin paham tentang rasa ini
Rasa yang ku tuangkan dalam hati, penikmat rasa

Wahai kau pemuja cinta
Ingat aku dalam dzikirmu
Bahwa aku dalam perjalananmu
Agar aku termasuk wanita yang menikmati rasa
Seperti wanita yang lain

Lalu jika aku sudah kau cinta
Sentuh hatiku
Tatap mataku
Agar kau dan aku benar-benar bersatu
Dalam rasa yang syahdu

Sabtu, 12 Desember 2009

1001 DALAM SATU MEMORY

oleh: Zhie Al-gility, XII IPS 1

Aku dalam teraan
Lukisan
Dan puisimu
Dalam teraanmu kau menudingku
Memaksa kuncup bungamu yang terkatup
Agar mekar mengembangkan aroma asmara
Dalam lukisanmu kau taburi nuraniku dengan canda misterimu
Aku gersang dalam diarymu
Kau semburkan kidung-kidung syahdu
Dilema antara keterpaksaan dan cinta
Antara kehormatan jiwa
Sementara aku kau biarkan terus menunggumu
Dalam 1001 memory yang tak bertepi
Aku dalam puisimu
Seperti kejora hati
Lukisan penduduk sorgawi
Satu matamu tak dapat kau dustai
Menjadi saksi perjalanan kita
Dalam 1001 memory serta sepasang merpati
Yang kau tera dalam memorymu
Adalah bukti hati mana yang kau pilih
Walau 1001 memory berubah menjadi percikan api
Asap itu tak mungkin bisa dipungkiri
Puisimu adalah gerak nuranimu
Dan cinta yang kau gubah menjadi benci
Adalah sandiwara yang tak bisa kau tutupi
Satu mata dalam 1001 memory
Tak mungkin kau gubah menjadi 1001 mata dalam satu memory
Karena mata itu kesaksian hakiki

Imajinasi sore

Oleh: Rara Zarary, XI IPS 3

Aku di bawah awan mendung
Merenungimu sampai tertidur
Lalu wajahmu hadir di bunga istirahatku
Duaaaar…..!
Aku terkejut, petir menyambar tubuhku
Hujan membasahiku
Aku lari ke dalam rumah
Lau kembali tidur
Dalam keadaan tak memiliki arah
Hanya berharap kau akan kembali
Menjumpaiku dalam mimpi
Karena aku merindukanmu

Jumat, 11 Desember 2009

Memoar Rindu

Oleh: Zhie Al-gility, XII IPS 1

Angin malam dan kesunyian
Adalah kenangan dari kisahku dengan rembulan
Gempa bumi pada matahari
Kenangan itu berputar tak henti-henti
Mengelilingi angan sambil mebacakan sajak-sajakku
Mengajakku terbang melepas kematian
Andai kau mengerti sunyi cukup lama
Aku menanti di sudut mimpi paling hati
Dan mentari yang hiasi pagi
Kicauan burung di pohon jantung
Tetes embun dari ujung daun
Tak kunjung jadikan patung
Bagi kerinduanku ang mnenyusuri gunung
Pada bumi cintaku yang kehilangan relung

Impian Beku

oleh: uy/nsy, x ips 5

Bersama bisikan angin
Maunya mencapai angin
Menyamakan kodrat dengan yang lain
Mengacuhkan cermin
tengadah mengucap amin
sementara lidah kelu
lidah beku
terpaku dalam bisu
Maki-maki kalbu
Bersandar pada malu dan bisu
Duduk lesu di bawah rindangan rindu
Demi gengsi bak foto model tak bermodal
Berlagu tan sandal
Agar terlihat odhal (madura:)
Konglomerat aspal
Bak menabrak aspal

Kamis, 10 Desember 2009

Maha Dewi

Oleh: Zhie Al-gility, XII IPS 1

Maha Dewi…..
Matamu terpaku di bumi
Bagai mayat tanpa eksperesi
Nuranimu berlapis tabir Ilahi
Berdiri seakan tanpa kaki
Bergeming kalbuku menyapamu
Mengintip seribu purnama di matamu
Sungging senyummu membuatku membatu.
Ku tata, pecah jantungku
Dan ku rangkai kembali syaraf-syarafku.
Ku temui aku sendiri
Tanpa tahu engkau berlalu
Ku dengar dendang lagu yang menjauh
“sebut namaku jika rindu menyiksamu”
Namun…….
Saat ku intip engka dari jauh
Ketika bola matamu
Tak lagi menembusku
Engkau ternyata bukanlah sang Dewi yang ku puja
Melainkan pelangi di angkasa
Indah karena langit tak berwarna
Akan ku tunggu warnamu alam nanti
Jika pesonamu tak pudar
Aku akan menjadi pemujamu
Walau purnama selamanya tak mucul lagi