Oleh: Zhie Al-gility, XII IPS 1
Aku tak pernah menyesal mengenalmu, sekalipun pada akhirnya kau mengotori persahabatan ini dengan noktah merah muda. Noktah yang tak pernah aku inginkan, dan harus ku sesali, kenapa harus kamu?. Tapi mungkin ini memang bukan salahmu, tapi SALAHKU. Ya, salahku. Kenapa aku harus begitu memperhatikanmu. Aku pikir inilah wujud persahabatan. Namun ternyata kamu memaknainya sebagai torehan jiwa. Aku tak tahu, apa yang mesti ku sikapkan dihadapanmu. Jika segala sikapyang aku tunjukkan, kamu maknai sebagai sebuah harapan.
“maafkan aku Ran, aku tahu kamu akan membenciku. Ini memang tidaklah pantas bagi seorang AKU. Tapi ini adalah sebuah kejujuran, yang untuk mengutarakannya saja butuh usaha” ucapmu kala itu di taman senja.
“aku ingin bertanya satu hal sama kamu. Kamu ingin kejujuran apa kebohongan?”tanyamu dengan ekspresi yang sulit untuk ku tebak.
“kebohongan” jawabku asal. Kamu menatapku tak percaya.
“berarti kamu hanya ingin hidup dalam sandiwara” ucapmu sambil mencabut rumput yang ada didepanmu.
“yang pastinya lan, semua orang butuh kejujuran. Siapa coba yang mau pada kebohongan?” aku mencoba meluruskan jawabanku.
“kalau begitu, kamu siap untuk menerima kejujuran?”
“siapa takut!!!”
Kamu mendengus. Aku baru menyadari. Ini adalah pembicaraan yang sangat berbeda selama 6 tahun kita bersahabat. Akmu bukan lagi sosok Alan yang optimis dan periang. Tapi sosok yang ada dihadapanku ini adalah sosok yang penuh keputusasaan. Dimana kau sembunyikan identitasmu sahabat?.
Aku sabar menunggu diammu. Sampai waktu benar-benar mengizinkanmu bicara kejujuran yang aku sendiri tak tahu.
“Ran, jika seandainya selama ini aku tak pernah menganggapmu sahabat, apakah kamu marah?”tanyamu sambil menatapku. Aku mencoba mencari arti dalam matamu, tapi mata itu begitu kokoh menyembunyikan sir mu.
“ya, mungkin aku marah, karena ternyata selama enam tahun ini kamu tak pernah menganggap aku ada sebagai sahabatmu. Maafin aku ya Lan, jika selama enam tahun ini aku tidak bisa menjadi sahabat baik untukmu, ”ucapku kecewa. Ya, aku memang kecewa. Lalu apa arti seorang Rani bagi Alan yang selama ini selalu berusaha untuk bisa menjadi sahabat baik?
“Bukan itu maksudku, Ran, aku memang tak pernah mennganggapmu sebagai sahabat. Itu semua….karena……aku mencintaimu, Rani,” ucapmu sambil berdiri lalu berjalan menjauhiku. Sementara aku masih terpaku, tak percaya apa yang baru saja ku dengar. Aku yankin itu bukanlah Alan. Tapi dalam sadarku, itu memang benar-benar Alan, sahabatku. Lagi-lagi ini bukanlah salahmu, jika pada akhirnya kamu mencintaiku. Tapi satu hal yang harus kau sadari, kamu tahu bahkan sangat tahu, aku telah bersama Fahri, sahabatmu.Dan kamu tahu aku mencintai Fahri. SANGAT. Aku berusaha mengejarmu, walau aku tak tahu dengan alasan apa aku mengejarmu.
“Lan, tunggu!” cegahku, dan tanpa sadar aku telah memelukmu, erat. Satu kebodohan yang benar-benar salah. Selama ini aku memang benar-benar menyayangimu sebagai sahabat, tak lebih. Tapi sekarang, perlukah hal itu dipertanyakan?.
“Aku tahu, Ran, aku sangat tahu” ucapmu sambil melepas pelukanku .“Aku tahu cintamu hanya untuk Fahri, dan aku sadar aku tdak akan pernah sanggup menggantikan Fahri di hatimu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, cintaku tak butuh balasan. Cintaku tak menuntut jawaban. Aku hanya ingin kamu tahu, di sini ada aku, yang mengharapmu untuk ada. Di sini ada aku yang mencintaimu.Itu saja sudah cukup bagiku.” Ucapmu sambil mengusap air mata yang sudah mulai rewel membasahi pipiku.
“Cintaku tidak menyuruhmu menangis.” Ucapmu lalu memelukku. “Aku janji padamu, aku tidak akan pernah mengganggu kehidupanmu dengan Fahri. Aku ttidak akan pernah lagi mengusikmu dengan cintaku yang telah membuatmu bersedih. Aku janji, jika itu ynag ternaik untukmu.” Ucapmu lalu berlari meninggalkanku. Meninggalkan sepenggal rasa, yang aku sendiri haris menempatkan rasa itu dimana? Jika semua rasa itu telah dipenuhi dengan nama”Fahri”. Tapi kenapa aku tak rela melepasmu? Tuhan…..kepada siapa cintaku kau labuhkan?
Sebulan sudah, aku tak lagi melihatmu untuk sekedar menemaniku menikmati senja. Kau benar-benar menghilang sesuai janjimu. Janji yang tak seharusnya kau ucapkan, karena aku masih mengharapmu untuka ada di sini merangkai hari bersamaku, karena kamulah yang membuatku benar-benar membuatku ada. Aku tak pernah tahu dengan alasana apa kau mencintaiku. Aku bukanlah seorang wanita yang dikagumi dengan keindahan parasnya, dan aku bukanlah seorang yang pintar yang bisa menyihirmu untuk mencintaiku. Tapi aku adalah seorang, yang dunia pun tak pernah sudi mengenalku. Tapi kau hadir da membuatku benar-benar merasa ada, dengan cintamu.
“Aku mencintaimu tanpa alasan, karena aku mengenalmu bukan dengan alasan. Karena aku tahu, ketika alasan itu hilang cinta pun akan lenyap. Aku mencintaimu bukan karena sebuah alasan karena aku ingin menjadi pemujamu. Sampai nafasku tak mampu lagi untuk berhembus”
Sepenggal memoar itu, yang akan selalu ku ingat. Dan sekarang aku mengerti, cinta kita tak beralasan.
Untuk orang yang mengenalkanku pada kedamaian.
Kamis, 10 Desember 2009
Rabu, 09 Desember 2009
MEDITASI dalam PENCERAHAN JIWA
oleh: Zhie al-gility, XII IPS 1
Meditasi (dzikir) dalam pemikiran Dhyana (zen) merupakan aktifitas perenungan mendalam terhadap suatu tujuan. Aktifitas ini merupakan usaha antara yang membawa kesadaran nenuju semedi, yaitu terserapnya kesadran diri sebagai kesadaran terbatas ke dalam kesadaran Tuhan yang meliputi kesadaran semesta yang tak terbatas. Dalam Islam, meditasi yang paling kuat adalah pada apek tuma’ninah.
Meditasi adalah salah satu cara untuk mencapai ketengan jiwa. Setiap manusia akan menghadapi masalah dalam hidup, kecenderungan mereka mereka mencari cara untuk mencapai relaksasi pikiran, supaya apa yang aka dirasakan dan yang akan dijalankan sinergi dengan alam.
Meditasi sebaiknya dilakukan pada malam hari. Konsentrasi dan penyatuan jiwa dengan Tuhan bagi pemula, meditasi dianggap sulit. Semakin seseorang rutin melakukan meditasi, kemungkinan besar mereka akan menjadi orang yangs sukses. Ketika kita meditasi pada sesuatu yang tidak kentara yaitu Tuhan, kita akan menghilangkan kekotoran kita dan mendapatkan kehalusan-Nya. Dengan demikian kita dapat menjadi satu dengan DIA. Sehingga tujuan tertinggi dalam kehidupan memungkinkan untuk dicapai. Dan semua ini hanyalah dapat diperoloeh dengan istiqamah.
PENTINGNYA PERANA HATI
“Hati” adalah ladang atas perbuatan-perbuatan yang timbul dari pikiran. Kalau hati tidak murni, pikiran juga tdak akan murni sebaliknya kalau hati bersih yang ditimbulkan oleh samskara, pikiran menjadi bersih, halus, jernih seperti kristal dan sejalan dengan Tuhan, memperoleh kekuatan yang berasal dari Tuhan yang ada di dalam hati.
Semua agaama dan tradisi berkata bahwa Tuhan “bertempat tinggal” di dalam hati manusia. Oleh karena itu DIA harus dapat dirasakan di dalam hati. Lebih jauh, besarnya kecintaan selalu dihubungkan dengan hati, jadi melalui meditasi dapat membangkitkan cinta terpendam kita untuk Tuhan dan mempercepat kita menuju tujuan. Pada akhirnya cinta itu sendiri yang akan memenangkan DIA.
Kita harus benar-benar mengerti dan menyadari bahwa meditasi bukanlah sesuatu yang membosankan dan rutinitas belaka seperti sebuah mesin, tapi sesuatu yang menimbulkan kecintaan terhadap Tuhan. Kita melakukan meditasi pada hati (inti kehanan bagi kita), hidup di dalam hati dan bertindak melalui hati. Ini akan menimbulkan penyesuaian diri yang sempurna dari segi kemanusiaan dengan dasar ketuhanan dalam kehidupan kita
Meditasi (dzikir) dalam pemikiran Dhyana (zen) merupakan aktifitas perenungan mendalam terhadap suatu tujuan. Aktifitas ini merupakan usaha antara yang membawa kesadaran nenuju semedi, yaitu terserapnya kesadran diri sebagai kesadaran terbatas ke dalam kesadaran Tuhan yang meliputi kesadaran semesta yang tak terbatas. Dalam Islam, meditasi yang paling kuat adalah pada apek tuma’ninah.
Meditasi adalah salah satu cara untuk mencapai ketengan jiwa. Setiap manusia akan menghadapi masalah dalam hidup, kecenderungan mereka mereka mencari cara untuk mencapai relaksasi pikiran, supaya apa yang aka dirasakan dan yang akan dijalankan sinergi dengan alam.
Meditasi sebaiknya dilakukan pada malam hari. Konsentrasi dan penyatuan jiwa dengan Tuhan bagi pemula, meditasi dianggap sulit. Semakin seseorang rutin melakukan meditasi, kemungkinan besar mereka akan menjadi orang yangs sukses. Ketika kita meditasi pada sesuatu yang tidak kentara yaitu Tuhan, kita akan menghilangkan kekotoran kita dan mendapatkan kehalusan-Nya. Dengan demikian kita dapat menjadi satu dengan DIA. Sehingga tujuan tertinggi dalam kehidupan memungkinkan untuk dicapai. Dan semua ini hanyalah dapat diperoloeh dengan istiqamah.
PENTINGNYA PERANA HATI
“Hati” adalah ladang atas perbuatan-perbuatan yang timbul dari pikiran. Kalau hati tidak murni, pikiran juga tdak akan murni sebaliknya kalau hati bersih yang ditimbulkan oleh samskara, pikiran menjadi bersih, halus, jernih seperti kristal dan sejalan dengan Tuhan, memperoleh kekuatan yang berasal dari Tuhan yang ada di dalam hati.
Semua agaama dan tradisi berkata bahwa Tuhan “bertempat tinggal” di dalam hati manusia. Oleh karena itu DIA harus dapat dirasakan di dalam hati. Lebih jauh, besarnya kecintaan selalu dihubungkan dengan hati, jadi melalui meditasi dapat membangkitkan cinta terpendam kita untuk Tuhan dan mempercepat kita menuju tujuan. Pada akhirnya cinta itu sendiri yang akan memenangkan DIA.
Kita harus benar-benar mengerti dan menyadari bahwa meditasi bukanlah sesuatu yang membosankan dan rutinitas belaka seperti sebuah mesin, tapi sesuatu yang menimbulkan kecintaan terhadap Tuhan. Kita melakukan meditasi pada hati (inti kehanan bagi kita), hidup di dalam hati dan bertindak melalui hati. Ini akan menimbulkan penyesuaian diri yang sempurna dari segi kemanusiaan dengan dasar ketuhanan dalam kehidupan kita
Selasa, 08 Desember 2009
Kisahku Bersama-MU
Oleh: Zhie Al-gility, XII IPS 1
Rabbi…..
Ku dekap dikau
Dengan segenap cintaku
Ku buka jendela jiwa
Ku titih setiap langkah
Ku ketuk pintu nafs
Dengan rangkaian asma-Mu
Bismillah…
Ku awali kisahku
Dengan harapan ridha-Mu
Bismillah……
Semoga kisahku
Tak membuat-Mu berpaling dariku
Ku masih berharap Kau masih mendekapku
Menemani setiap langkah dalam kisahku
Rabbi…..
Ku dekap dikau
Dengan segenap cintaku
Ku buka jendela jiwa
Ku titih setiap langkah
Ku ketuk pintu nafs
Dengan rangkaian asma-Mu
Bismillah…
Ku awali kisahku
Dengan harapan ridha-Mu
Bismillah……
Semoga kisahku
Tak membuat-Mu berpaling dariku
Ku masih berharap Kau masih mendekapku
Menemani setiap langkah dalam kisahku
Senin, 07 Desember 2009
Kesadaranku
Oleh: Siti Jumalia
XII IPS 4
Seiring kehidupan masa lalu
Senyuman kedamaian putihmu
Telah menjadi kegelapan
Kau pergi ke dunia lain
Kenapa kautak temani sepiku
Sadar
Aku harus sadar
Tapi aku menganggapmu
Masih mengisi hari-hariku
Sadar
Aku harus sadar
Aku telah menaburi
Bunga suciku di ketenanganmu
Aku bersimpuh lemah di pangkuan-Nya
Aku telah sadar
Duniaku kita telah berbeda
XII IPS 4
Seiring kehidupan masa lalu
Senyuman kedamaian putihmu
Telah menjadi kegelapan
Kau pergi ke dunia lain
Kenapa kautak temani sepiku
Sadar
Aku harus sadar
Tapi aku menganggapmu
Masih mengisi hari-hariku
Sadar
Aku harus sadar
Aku telah menaburi
Bunga suciku di ketenanganmu
Aku bersimpuh lemah di pangkuan-Nya
Aku telah sadar
Duniaku kita telah berbeda
Diammu
Oleh: D@a@
XII IPS I
Dari detik ke detik
Ku selalu bertaNya
Mengapa sikapmu berubah?
Semakin ku tak mengerti
Tentang perubahan yang kau tampakkan padaku
Aku tak mengerti maksud diammu
Diammu membuat beribu tanda taNya dalam hidupku
XII IPS I
Dari detik ke detik
Ku selalu bertaNya
Mengapa sikapmu berubah?
Semakin ku tak mengerti
Tentang perubahan yang kau tampakkan padaku
Aku tak mengerti maksud diammu
Diammu membuat beribu tanda taNya dalam hidupku
Is or Was!
oleh: Mam_Chineese, XII IPS 1
Berawal dari kegelisahan hatiku di sepertiga malam. Aku tak pernah tahu apa itu rasa. Apa aku yang terlalu naif memahami setiap getaran hatinya? Entahlah, seingatku dia berharga. Dia sahabat kecilku dan dia juga bagian dari masa laluku. Ketika ku terluka dia datang dengan penuh tawa, dia mampu menggantikan sosok kakak yang sangat aku impikan.
Tak sengaja aku baca kertas putih itu, antologi cerpen anak sanggar yang kini dia geluti. Air mataku jatuh, mengalir di setiap lekukan wajahku. Aku berusaha memahami perasaannya. Akulah yang salah dari persahabatan ini. Seharusnya aku sadar atas semuanya, seharusnya aku tidak membiarkan rasa itu ada. Aku tak pernah tahu dan bahkan aku tak sadar.
Dua belas tahun bukan waktu yang sebentar untuk mengerti seorang sahabat, tapi kenapa aku tak pernah tahu tulisan itu. Aku tidak mau menggubris hal itu terlalu dalam. Jika aku yang dia maksud dalam kisah itu, ku hanya bisa berkata,”maafkan aku, mungkin kita bukan sahabat. Aku tak akan marah tentang rasa itu, tapi aku butuh waktu untuk melupakanmu, pun dengan semua yang pernah kita jalani.” Aku harus bisa melupakannya, melupakan vando dan cincin itu. Karena sebenarnya akulah yang terlalu berharap akan hadirnya seorang saudara yang slalu mengerti aku. Mungkin aku terlalu manja untuk semuanya, tapi aku benar-benar merasa sepi, hidup dalam kesibukan kedua orang tuaku. Ok! Beliau sayang aku, tapi ini beda. Kenapa harus dia dan karya itu Tuhan?.
Sepuluh tahun yang lalu, dia pakaikan vando terbuat dari bunga ladang untukku. namun akhirnya kita harus terpisah, karena asa kita berbeda. Enam tahun lalu aku bingkis cincin itu untuknya, untuk mengikat persahabatan dan janji seorang sahabat. Kini, aku enam tahun tidak bersamanya, namun dia tak pernah berubah dalam persahabatan ini. Dia tetaplah sahabat kecilku. Itulah yang buatku sedih, menangis dan kecewa, kenapa ditengah kerenggangan persahabatan ini, kisah itu ada.
Aku fikir ini hanya sebentar, tapi sekarang aku ikhlas untuk selamanya.Mungkin aku memang serpihan masa lalunya, karena itu izinkan aku barkata”maafkan aku atas semuanya, jaga dirimu baik-baik. Lupakan kata indah yang sempat menjadi simbol persahabatan kita! “Is or was? You are is the best friend”. Makasih atas hitam dalam putihmu”.
Munkin dia benar, aku menyayanginya bukan dasar merah jambu, karena memilihnya adalah sahabat yang abadi, yang kemudian aku merasa dia saudaraku.
Tak ada yang bisa membaca jiwa seseorang. Ketika dituangkan dalam karya, orang lain akan berbeda dalam mengartikan kata demi kata. Aku hanya bisa berbisik karena aku tak mampu melukiskan semuanya “jangan kau rangkul aku dengan puisi dan kisah-kisahmu, karena sebenarnya kau tak pernah berfikir tentang apa yang sedang kamu tulis, siapa dan bagaimana prasaannya?”. Aku kecewa dan pada akhirnya luka itu akan slalu membekas.
Seandainya mata itu slalu melihat, telinga slalu mendengar dan hati slalu punya prasaan, semuanya tak akan seperti ini. Mungkin dia lupa bagaimana aku mempertarukan kebaikannya didepan orang tuaku. Tapi sekarang semuanya sirna, dialah yang memadamkan persahabatan ini dengan sendirinya. Aku tak punya hak untuk semuanya.Biarlah waktu yang bicara.
Mungkin dia fikir menjadi seniman itu mudah, menjadi terkenal dan mengerti orang lain itu gampang, sampai akhirnya aku muak dengan semuanya. Aku tau usaha itu sembilan puluh persen jadi nyata, tapi seingatku aku tak pernah punya sahabat yang “bodoh”. Ini satu kali dalam sejarah.
Aku tak pernah berfikir akan meningglkannya, meninggalkan sahabat, saudara yang sangat aku abadikan namanya, tapi sekarang aku merasa harus meninggalakannya. Kita sama-sama punya pilihan dan berhak memilih.Pilihanku adalah menjauh darinya.Sebelum matahari terbit, setelah senja kembali kembali menghilang, aku ikhlas dengan semua yang telah terjadi, meskipun aku tau itu menyakitkan untukku.Tapi aku tak ingin persahabatan ini menjadi terkotori dengan rasa yang tak pernah dia inginkan sebelumnya.Tak ada yang salah, apa lagi rasa yang sudah terlanjur ada untukku, hanya saja aku tak pernah inginkan semuanya terjadi. Kejadiannya begitu cepat, aku masih belum siap untuk semuanya, tapi ini nyata. Sudahlah mungkin persahabatan ini hanya sampai disini.
“Sebelum gerimis turun, sebelum mentari kembali menyaksikan isakanku,permintaanku hanya satu, Pergilah! Jauhi aku, Jauhi aku untuk semuanya, atau aku yang akan pergi?”
Pada akhirnya, aku hanya punya satu kenangan dan sejarah. Aku tak mungkin miliki semua tentang sahabat apalagi saudara, tapi aku punya sejarah yang tak dimiliki kebanyakan orang. Dan akhirnya persahabatan ini berakhir. Disini 18 Nopember 2009.
Berawal dari kegelisahan hatiku di sepertiga malam. Aku tak pernah tahu apa itu rasa. Apa aku yang terlalu naif memahami setiap getaran hatinya? Entahlah, seingatku dia berharga. Dia sahabat kecilku dan dia juga bagian dari masa laluku. Ketika ku terluka dia datang dengan penuh tawa, dia mampu menggantikan sosok kakak yang sangat aku impikan.
Tak sengaja aku baca kertas putih itu, antologi cerpen anak sanggar yang kini dia geluti. Air mataku jatuh, mengalir di setiap lekukan wajahku. Aku berusaha memahami perasaannya. Akulah yang salah dari persahabatan ini. Seharusnya aku sadar atas semuanya, seharusnya aku tidak membiarkan rasa itu ada. Aku tak pernah tahu dan bahkan aku tak sadar.
Dua belas tahun bukan waktu yang sebentar untuk mengerti seorang sahabat, tapi kenapa aku tak pernah tahu tulisan itu. Aku tidak mau menggubris hal itu terlalu dalam. Jika aku yang dia maksud dalam kisah itu, ku hanya bisa berkata,”maafkan aku, mungkin kita bukan sahabat. Aku tak akan marah tentang rasa itu, tapi aku butuh waktu untuk melupakanmu, pun dengan semua yang pernah kita jalani.” Aku harus bisa melupakannya, melupakan vando dan cincin itu. Karena sebenarnya akulah yang terlalu berharap akan hadirnya seorang saudara yang slalu mengerti aku. Mungkin aku terlalu manja untuk semuanya, tapi aku benar-benar merasa sepi, hidup dalam kesibukan kedua orang tuaku. Ok! Beliau sayang aku, tapi ini beda. Kenapa harus dia dan karya itu Tuhan?.
Sepuluh tahun yang lalu, dia pakaikan vando terbuat dari bunga ladang untukku. namun akhirnya kita harus terpisah, karena asa kita berbeda. Enam tahun lalu aku bingkis cincin itu untuknya, untuk mengikat persahabatan dan janji seorang sahabat. Kini, aku enam tahun tidak bersamanya, namun dia tak pernah berubah dalam persahabatan ini. Dia tetaplah sahabat kecilku. Itulah yang buatku sedih, menangis dan kecewa, kenapa ditengah kerenggangan persahabatan ini, kisah itu ada.
Aku fikir ini hanya sebentar, tapi sekarang aku ikhlas untuk selamanya.Mungkin aku memang serpihan masa lalunya, karena itu izinkan aku barkata”maafkan aku atas semuanya, jaga dirimu baik-baik. Lupakan kata indah yang sempat menjadi simbol persahabatan kita! “Is or was? You are is the best friend”. Makasih atas hitam dalam putihmu”.
Munkin dia benar, aku menyayanginya bukan dasar merah jambu, karena memilihnya adalah sahabat yang abadi, yang kemudian aku merasa dia saudaraku.
Tak ada yang bisa membaca jiwa seseorang. Ketika dituangkan dalam karya, orang lain akan berbeda dalam mengartikan kata demi kata. Aku hanya bisa berbisik karena aku tak mampu melukiskan semuanya “jangan kau rangkul aku dengan puisi dan kisah-kisahmu, karena sebenarnya kau tak pernah berfikir tentang apa yang sedang kamu tulis, siapa dan bagaimana prasaannya?”. Aku kecewa dan pada akhirnya luka itu akan slalu membekas.
Seandainya mata itu slalu melihat, telinga slalu mendengar dan hati slalu punya prasaan, semuanya tak akan seperti ini. Mungkin dia lupa bagaimana aku mempertarukan kebaikannya didepan orang tuaku. Tapi sekarang semuanya sirna, dialah yang memadamkan persahabatan ini dengan sendirinya. Aku tak punya hak untuk semuanya.Biarlah waktu yang bicara.
Mungkin dia fikir menjadi seniman itu mudah, menjadi terkenal dan mengerti orang lain itu gampang, sampai akhirnya aku muak dengan semuanya. Aku tau usaha itu sembilan puluh persen jadi nyata, tapi seingatku aku tak pernah punya sahabat yang “bodoh”. Ini satu kali dalam sejarah.
Aku tak pernah berfikir akan meningglkannya, meninggalkan sahabat, saudara yang sangat aku abadikan namanya, tapi sekarang aku merasa harus meninggalakannya. Kita sama-sama punya pilihan dan berhak memilih.Pilihanku adalah menjauh darinya.Sebelum matahari terbit, setelah senja kembali kembali menghilang, aku ikhlas dengan semua yang telah terjadi, meskipun aku tau itu menyakitkan untukku.Tapi aku tak ingin persahabatan ini menjadi terkotori dengan rasa yang tak pernah dia inginkan sebelumnya.Tak ada yang salah, apa lagi rasa yang sudah terlanjur ada untukku, hanya saja aku tak pernah inginkan semuanya terjadi. Kejadiannya begitu cepat, aku masih belum siap untuk semuanya, tapi ini nyata. Sudahlah mungkin persahabatan ini hanya sampai disini.
“Sebelum gerimis turun, sebelum mentari kembali menyaksikan isakanku,permintaanku hanya satu, Pergilah! Jauhi aku, Jauhi aku untuk semuanya, atau aku yang akan pergi?”
Pada akhirnya, aku hanya punya satu kenangan dan sejarah. Aku tak mungkin miliki semua tentang sahabat apalagi saudara, tapi aku punya sejarah yang tak dimiliki kebanyakan orang. Dan akhirnya persahabatan ini berakhir. Disini 18 Nopember 2009.
Go Green School!!
OLeh: Trimahta Yuda, XII IPS 4
Kita sudah tahu semua artinya dan bahkan maksud dari sepenggal judul diatas”menuju sekolah hijau”. Tetapi kita tidak pernah bertindak untuk benar-benar menghijaukan sekolah dan lingkungan kita. Mengubah segalanya tidaklah mudah, kita mencoba dari diri kita sendiri, hingga akhirnya kita bisa mengajak temen terdekat kita sedikit demi sedikit untuk peduli pada lingkungan. Tetapi karena setiap orang tidak sama, jawaban orang terkadang bertolak belakang dengan tujuan kita, tetapi ada juga orang yang merasa senang, ketika kita menegurnya.
Kadang kita tak pernah sadar bahwa sesuatu yang terdapat di sekitar kita bisa dimanfaatkan, seperti plastik snack yang setiap hari kita makan.
Tumbuhan yang tumbuh di sekitar kita juga ingin merasakan hidup yang layak seperti kita, tetapi tanpa sengaja atau bahkan memang disengaja kita menginjaknya, kita tak pernah menyadari bahwa tumbuhan juga bisa mengeluh “aku juga ingin hidup”.
Semoga dengan membaca tulisan ini, kita semua diberi kesadaran untuk mencintai sesuatu yang berada disekitar kita.
Kita sudah tahu semua artinya dan bahkan maksud dari sepenggal judul diatas”menuju sekolah hijau”. Tetapi kita tidak pernah bertindak untuk benar-benar menghijaukan sekolah dan lingkungan kita. Mengubah segalanya tidaklah mudah, kita mencoba dari diri kita sendiri, hingga akhirnya kita bisa mengajak temen terdekat kita sedikit demi sedikit untuk peduli pada lingkungan. Tetapi karena setiap orang tidak sama, jawaban orang terkadang bertolak belakang dengan tujuan kita, tetapi ada juga orang yang merasa senang, ketika kita menegurnya.
Kadang kita tak pernah sadar bahwa sesuatu yang terdapat di sekitar kita bisa dimanfaatkan, seperti plastik snack yang setiap hari kita makan.
Tumbuhan yang tumbuh di sekitar kita juga ingin merasakan hidup yang layak seperti kita, tetapi tanpa sengaja atau bahkan memang disengaja kita menginjaknya, kita tak pernah menyadari bahwa tumbuhan juga bisa mengeluh “aku juga ingin hidup”.
Semoga dengan membaca tulisan ini, kita semua diberi kesadaran untuk mencintai sesuatu yang berada disekitar kita.
Langganan:
Postingan (Atom)