Oleh: Zhie al-gility
Asmaraku,
Berjalan dengan tenang
Menyusuri lembah padang pasir,
Gunung-gunung serta hamparan batu karang
Perjalanan yang begitu mengesankan
Berjuta kemenangan ku genggam di tangan
Bukit telah ku tendang
Gunung-gunung telah ku hancurkan
Jadilah aku “kembang chora”
Waktupun menuai sejuta memory indah
Kahuripan ku lukis dengan puluhan darah
Sumur tumpang, soro’, tanggul, pesisir utara dan chora istana kedamaianku
Pernah ku taburi mekarnya bunga- bunga indah
Kumbang-kumbang ku buat terluka
Hati para orang tua ku buat kecewa
Air mata bagai rintik hujan kecil
Tangis kenistaan persis kidung serunai
Ratap pengharapan mengalir bagai lembutnya arus sungai
Kedamaian adalah belahan kelukaan
Eindahan adalah bagian kenistaan
Tawa-tawa kecil mengalun
Mengahantar sejuta rajutan dari ratap permintaan
Tahukah engkau nyata tindas di hatiku?!
Sabtu, 21 November 2009
TEMBANG DUKA
Oleh: Zhie al-gility
Kutertunduk dalam asa
Merangkai kata-kata
Satu persatu ku urai kata
Dalam tarian tinta
Menabur tembang-tembang duka
Silau resah ku rasa
Saat di situ ku tulis sebuah nama
Berubah jadi gundah
Saat disana ku sibak cerita
Betapa jiwa resah dan terluka
Kala penaku berubah jadi tetes air mata
Kutertunduk dalam asa
Merangkai kata-kata
Satu persatu ku urai kata
Dalam tarian tinta
Menabur tembang-tembang duka
Silau resah ku rasa
Saat di situ ku tulis sebuah nama
Berubah jadi gundah
Saat disana ku sibak cerita
Betapa jiwa resah dan terluka
Kala penaku berubah jadi tetes air mata
Jumat, 20 November 2009
Engkau
Oleh: Rofida
Senyummu…
Tawamu….
Ceriamu….
Topeng untuk ketegaranmu
Dia tahu
Aku tahu
Kita tahu
Dan merekapun tahu
Engkau rapuh
Engkau sakit
Engkau remuk
Dan engkaupun menangis
Senyummu…
Tawamu….
Ceriamu….
Topeng untuk ketegaranmu
Dia tahu
Aku tahu
Kita tahu
Dan merekapun tahu
Engkau rapuh
Engkau sakit
Engkau remuk
Dan engkaupun menangis
Rabu, 18 November 2009
ATRAKSI MA I A PI - MA I A
Rabu (18/11), setelah disuguhi atraksi menarik drum band MA 1 A dan paduan suara MA 1 A pi, para peserta principal mentoring kembali menikmati aksi panggung siswa MA 1 A yang berupa pertunjukan musik tradisional sejenis hadrah. Aksi ini ditampilkan selepas acara pembukaan kegiatan principal mentoring.
Setelah mengikuti penyajian yang disampaikan oleh Darmaningtyas (reformis pendidikan), para peserta principal mentoring kembali menikmati aksi panggung siswa MA 1 A yang berupa pertunjukan musik akustik atau yang lebih dikenal dengan ”maiakustik”. Walaupun beberapa saat sebelum pertunjukan itu dimulai hujan sempat mengguyur halaman MA 1 A pi, namun pertunjukan tersebut tetap berlangsung meriah dan mendapat respon baik dari para peserta kegiatan principal mentoring.
Selain itu beberapa peserta kegiatan yang juga kepala sekolah di sekolah-sekolah binaan Sampoerna Foundation mendatangi stand-stand yang memamerkan hasil kerajinan tangan dan keterampilan siswi MA 1 A pi dan beberapa media cetak berupa majalah atau buletin yang diterbitkan santri Annuqayah. Barang-barang yang dipamerkan antara lain adalah tas sampah plastik, beberapa pernak-pernik yang berasal dari sampah kertas, pupuk organik dan juga jamu racikan tim Te-O (Tanaman Obat).
Para peserta juga berbincang-bincang dengan beberapa siswi MA 1 A pi, bertanya tentang apa saja yang berkenaan dengan MA 1 A pi dan kegiatannya. Salah satunya adalah Abbas F, kepala sekolah SMAN 12 Makassar dan Dra Yenni, yang berasal dari manado. Ada juga peserta yang datang untuk melihat foto-foto kegiatan siswa MA 1 A dan MA 1 A pi yang ditempel di galeri foto MA 1 A pi dan lensa MA 1 A.
Pada coffee break kedua para peserta kegiatan kembali disuguhi penampilan yang menyuguhkan keindahan seni gerak tari yang ditampilkan oleh siswi MA 1 A pi. (Elya/Va/Opie’)
Setelah mengikuti penyajian yang disampaikan oleh Darmaningtyas (reformis pendidikan), para peserta principal mentoring kembali menikmati aksi panggung siswa MA 1 A yang berupa pertunjukan musik akustik atau yang lebih dikenal dengan ”maiakustik”. Walaupun beberapa saat sebelum pertunjukan itu dimulai hujan sempat mengguyur halaman MA 1 A pi, namun pertunjukan tersebut tetap berlangsung meriah dan mendapat respon baik dari para peserta kegiatan principal mentoring.
Selain itu beberapa peserta kegiatan yang juga kepala sekolah di sekolah-sekolah binaan Sampoerna Foundation mendatangi stand-stand yang memamerkan hasil kerajinan tangan dan keterampilan siswi MA 1 A pi dan beberapa media cetak berupa majalah atau buletin yang diterbitkan santri Annuqayah. Barang-barang yang dipamerkan antara lain adalah tas sampah plastik, beberapa pernak-pernik yang berasal dari sampah kertas, pupuk organik dan juga jamu racikan tim Te-O (Tanaman Obat).
Para peserta juga berbincang-bincang dengan beberapa siswi MA 1 A pi, bertanya tentang apa saja yang berkenaan dengan MA 1 A pi dan kegiatannya. Salah satunya adalah Abbas F, kepala sekolah SMAN 12 Makassar dan Dra Yenni, yang berasal dari manado. Ada juga peserta yang datang untuk melihat foto-foto kegiatan siswa MA 1 A dan MA 1 A pi yang ditempel di galeri foto MA 1 A pi dan lensa MA 1 A.
Pada coffee break kedua para peserta kegiatan kembali disuguhi penampilan yang menyuguhkan keindahan seni gerak tari yang ditampilkan oleh siswi MA 1 A pi. (Elya/Va/Opie’)
ANNUQAYAH SAMBUT PESERTA PRINCIPAL MENTORING
Rabu (18/11) enam belas kepala sekolah dari berbagai penjuru nusantara tiba di madrasah Aliyah 1 Annuqayah putri pada pukul 07.00 WIB. Mereka adalah peserta kegiatan Principal Mentoring yang rutin diselenggarakan oleh Sampoerna Foundation.
Sebelum acara pembukaan dimulai para peserta kegiatan itu disuguhi aksi Drum Band MA 1 Annuqayah putra yang dilanjutkan dengan penampilan paduan suara MA 1 Annuqayah putri.
Pembukaan kegiatan Principal Mentoring yang berlokasi di aula MA 1 Annuqayah putri itu juga di hadiri oleh para pengasuh, pengurus pesantren dan Yayasan PP. Annuqayah, para guru MA 1 Annuqayah Putra dan Putri, serta pengawas pendidikan Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama kabupaten Sumenep.
Amir Ma’ruf sebagai perwakilan dari Sampoerna Foundation dalam sambutannya meminta maaf atas keterbatasan fasilitas selama acara tersebut berlangsung. Ia juga mengungkapkan bahwa pada Principal Mentoring kali ini sedikit berbeda karena para peserta akan menikmati suasana pesantren sejak pertama kali datang hingga pulang. Tapi, Naqib Hasan (penanggung jawab acara Principal Mentoring) berharap para peserta mendapatkan sesuatu yang berharga dalam kegiatan kali ini,”semoga kita bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dari kegiatan ini” pungkasnya. (Elya/Va/Opie’)
Sebelum acara pembukaan dimulai para peserta kegiatan itu disuguhi aksi Drum Band MA 1 Annuqayah putra yang dilanjutkan dengan penampilan paduan suara MA 1 Annuqayah putri.
Pembukaan kegiatan Principal Mentoring yang berlokasi di aula MA 1 Annuqayah putri itu juga di hadiri oleh para pengasuh, pengurus pesantren dan Yayasan PP. Annuqayah, para guru MA 1 Annuqayah Putra dan Putri, serta pengawas pendidikan Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama kabupaten Sumenep.
Amir Ma’ruf sebagai perwakilan dari Sampoerna Foundation dalam sambutannya meminta maaf atas keterbatasan fasilitas selama acara tersebut berlangsung. Ia juga mengungkapkan bahwa pada Principal Mentoring kali ini sedikit berbeda karena para peserta akan menikmati suasana pesantren sejak pertama kali datang hingga pulang. Tapi, Naqib Hasan (penanggung jawab acara Principal Mentoring) berharap para peserta mendapatkan sesuatu yang berharga dalam kegiatan kali ini,”semoga kita bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dari kegiatan ini” pungkasnya. (Elya/Va/Opie’)
Senin, 16 November 2009
KERJA BAKTI MASSAL GALANG PERSATUAN SISWA
Hiruk pikuk suara siswa mewarnai suasana sore hari di MA 1 Anuqayah Putri. Tidak kurang dari empat ratus orang siswa bekerja bakti membersihkan halaman madrasah (16/11/2009). Mulai dari menyapu, membuang sampah hingga merapikan kayu-kayu sisa pembangunan yang kocar- kacir mereka lakukan dengan semangat gotong royong.
Beberapa bulan terakhir ini, salah satu sisi halaman MA 1 Annuqayah putri memang terlihat kurang bersih, hal ini disebabkan adanya pembangunan gedung kelas yang masih dalam proses penyelesaian. Karena itulah pengurus OSIS berinisiatif untuk mengadakan kerja bakti dengan mengikut sertakan seluruh siswa dari kelas X, XI dan XII baik program IPS, Keagamaan maupun IPA.
Ketika jarum jam menunjukkan pukul 17.00 WIB, halaman MA 1 Annuqayah Putri sudah terlihat bersih kembali. Sebagian besar siswa kembali ke komplek pondok masing-masing. Namun, di salah satu satu pojok halaman masih tampak beberapa orang siswa yang menyelesaikan membuang sisa sampah yang tececer. Saat itulah, Plt. Kepala MA 1 Annuqayah Puti, Bapak Afif Ready, menghampiri mereka dan membagi-bagikan permen.
”Inilah rezeki bagi yang pulang terakhir, kalau rezeki memang tidak kemana” celetuk Nufus, Ketua OSIS masa bakti 2009-2010 sambil tertawa. (Va_M492)
Beberapa bulan terakhir ini, salah satu sisi halaman MA 1 Annuqayah putri memang terlihat kurang bersih, hal ini disebabkan adanya pembangunan gedung kelas yang masih dalam proses penyelesaian. Karena itulah pengurus OSIS berinisiatif untuk mengadakan kerja bakti dengan mengikut sertakan seluruh siswa dari kelas X, XI dan XII baik program IPS, Keagamaan maupun IPA.
Ketika jarum jam menunjukkan pukul 17.00 WIB, halaman MA 1 Annuqayah Putri sudah terlihat bersih kembali. Sebagian besar siswa kembali ke komplek pondok masing-masing. Namun, di salah satu satu pojok halaman masih tampak beberapa orang siswa yang menyelesaikan membuang sisa sampah yang tececer. Saat itulah, Plt. Kepala MA 1 Annuqayah Puti, Bapak Afif Ready, menghampiri mereka dan membagi-bagikan permen.
”Inilah rezeki bagi yang pulang terakhir, kalau rezeki memang tidak kemana” celetuk Nufus, Ketua OSIS masa bakti 2009-2010 sambil tertawa. (Va_M492)
Selasa, 10 November 2009
Menelusuri Jejak Sang Ulama’ Pejuang
Oleh: Musyarrofah, XII IPS 1
Sosoknya menyiratkan ketegasan dengan mata menyorot tajam dan alis hitam tebalnya. Sorban yang menutupi kepalanya seakan menambah kesan kewibaan. Beliaulah K.H. Moh. Hasyim Asy’ari, salah satu diantara pahlawan–pahlawan kemerdekaan nasional.
Beliau terlahir pada tanggal 14 Pebruari 1871 di desa Gedang, Jombang dari pasangan Kyai Asy’ari dan Halimah, yang masih keturunan ningrat dan ulama’.
Sejak kecil kegigihan beliau dalam mencari ilmu terpancar dari sikap dan prilakunya. Beliau belajar langsung kepada ayah dan kakeknya, Kyai Utsman. Pada usia 13 tahun, beliau sudah mengajar di pesantren kakeknya.
Belum puas dengan ilmu yang diperoleh, beliau berkelana dari satu pesantren ke pesantren yang lain; dari Pesantren Wonorogo Probolinggo, Pesantren Trenggilis Semarang, Pesantren Kademangan Bangkalan Madura hingga pesantren Siwalan Sidoarjo. Dan di pesantren yang terakhir inilah beliau diminta untuk menikahi Khadijah, putri pangasuh pesantren tersebut, K.H. Ya’qub.
Setelah menikah, beliau bersama sang istri berangkat ke tanah suci, Mekkah. Tujuh bulan dari keberangkatan itu, putera pertama mereka lahir dengan nama Abdullah. Namun duka tak bisa diduga, belum genap 40 hari usia sang putera, istri beliau wafat dan disusul oleh puter semata wayangnya.
K.H. Moh. Hasyim Asy’ari memutuskan untuk kembali ke Indonesia, kemudian pada pada tahun 1893 M. beliau kembali ke Mekkah dan berguru kepada dua ulama’ besar, Syaikh Ahmad Khotib dan Syaikh Mahfudh at-Tarmisi.
Tahun 1899, beliau kembali lagi ke tanah air, Indonesia dan mengajar di pesantren kakeknya. Pada tahun itu pula, beliau mendirikan pesantren Tebu Ireng, di Jombang. Ribuan santri dari berbagai daerah Indonesia datang untuk belajar di pesantren beliau.
Menjadi oarang yang mahir dalam pengetahuan agama tidak membuat Kyai Hasyim mengabaikan pengetahuan umum. Di pesantren beliau, para santri tidak hanya diajarkan pegetahuan agama tapi juga pengetahuan umum dan berorganisasi. Maka tak heran, tak sedikit para alumni pesantren tersebut yang menjadi tokoh dan ulama’ bahkan Kyai Hasyim sendiri adalah petani dan pedagang sukses.
Dua puluh tujuh tahun setelah mendirikan Pesantren Tebu Ireng, beliau mendirikan NU (Nahdlatul Ulama’) yang berperan aktif dalam proses kemerdekaan. Dan kini organisasi tersebut menjadi penyalur pengembangan Islam ke desa-desa dan kota di Jawa.
Sikap toleran terhadap perbedaan atau aliran lain adalah salah satu sikap yang terus menghiasi masa hidup beliau. Semangat mempertahankan kemerdekan tercermin dalam pidato-pidatonya. Hingga pada tanggal 25, Juli 1947, setelah mendengar cerita mengenai banyaknya rakyat yang menjadi korban kekejaman Belanda, secara mendadak beliau terserang peradangan otak dan wafat.
Sosoknya menyiratkan ketegasan dengan mata menyorot tajam dan alis hitam tebalnya. Sorban yang menutupi kepalanya seakan menambah kesan kewibaan. Beliaulah K.H. Moh. Hasyim Asy’ari, salah satu diantara pahlawan–pahlawan kemerdekaan nasional.
Beliau terlahir pada tanggal 14 Pebruari 1871 di desa Gedang, Jombang dari pasangan Kyai Asy’ari dan Halimah, yang masih keturunan ningrat dan ulama’.
Sejak kecil kegigihan beliau dalam mencari ilmu terpancar dari sikap dan prilakunya. Beliau belajar langsung kepada ayah dan kakeknya, Kyai Utsman. Pada usia 13 tahun, beliau sudah mengajar di pesantren kakeknya.
Belum puas dengan ilmu yang diperoleh, beliau berkelana dari satu pesantren ke pesantren yang lain; dari Pesantren Wonorogo Probolinggo, Pesantren Trenggilis Semarang, Pesantren Kademangan Bangkalan Madura hingga pesantren Siwalan Sidoarjo. Dan di pesantren yang terakhir inilah beliau diminta untuk menikahi Khadijah, putri pangasuh pesantren tersebut, K.H. Ya’qub.
Setelah menikah, beliau bersama sang istri berangkat ke tanah suci, Mekkah. Tujuh bulan dari keberangkatan itu, putera pertama mereka lahir dengan nama Abdullah. Namun duka tak bisa diduga, belum genap 40 hari usia sang putera, istri beliau wafat dan disusul oleh puter semata wayangnya.
K.H. Moh. Hasyim Asy’ari memutuskan untuk kembali ke Indonesia, kemudian pada pada tahun 1893 M. beliau kembali ke Mekkah dan berguru kepada dua ulama’ besar, Syaikh Ahmad Khotib dan Syaikh Mahfudh at-Tarmisi.
Tahun 1899, beliau kembali lagi ke tanah air, Indonesia dan mengajar di pesantren kakeknya. Pada tahun itu pula, beliau mendirikan pesantren Tebu Ireng, di Jombang. Ribuan santri dari berbagai daerah Indonesia datang untuk belajar di pesantren beliau.
Menjadi oarang yang mahir dalam pengetahuan agama tidak membuat Kyai Hasyim mengabaikan pengetahuan umum. Di pesantren beliau, para santri tidak hanya diajarkan pegetahuan agama tapi juga pengetahuan umum dan berorganisasi. Maka tak heran, tak sedikit para alumni pesantren tersebut yang menjadi tokoh dan ulama’ bahkan Kyai Hasyim sendiri adalah petani dan pedagang sukses.
Dua puluh tujuh tahun setelah mendirikan Pesantren Tebu Ireng, beliau mendirikan NU (Nahdlatul Ulama’) yang berperan aktif dalam proses kemerdekaan. Dan kini organisasi tersebut menjadi penyalur pengembangan Islam ke desa-desa dan kota di Jawa.
Sikap toleran terhadap perbedaan atau aliran lain adalah salah satu sikap yang terus menghiasi masa hidup beliau. Semangat mempertahankan kemerdekan tercermin dalam pidato-pidatonya. Hingga pada tanggal 25, Juli 1947, setelah mendengar cerita mengenai banyaknya rakyat yang menjadi korban kekejaman Belanda, secara mendadak beliau terserang peradangan otak dan wafat.
Langganan:
Postingan (Atom)