Oleh: Izzatul Kamilia, Pearl Oyster Class (XII IPS 1)
Indonesia Raya/ Merdeka, merdeka/ Tanahku, negeriku yang kucinta/ Indonesia Raya/ Merdeka, merdeka/ Hiduplah Indonesia Raya. Bait lagu ini adalah penggalan dari Mars Indonesia Raya ciptaan W.R Supratman. Pahlawan nasional pada zaman pergerakan kemerdekaan Indonesia.
“Siapakah W.R Supratman?” Gelengan kepala, dan kata tidak tahu, adalah jawaban yang saya terima ketika bertanya kepada salah satu siswi MA 1 Annuqayah putri.
Lahir di Batavia (Jakarta) pada 9 maret 1903 dengan nama Wage Supratman. Ia putra seorang tentara KNIL. Masa kecilnya ia habiskan di Batavia. Hingga pada tahun 1914, Wage pindah ke Makassar bersama kakaknya Rukiyem yang menikah dengan seorang opsir Belanda Van Eldik.
Van Eldik menambahkan Rudolf pada nama Wage, dan mengakuinya sebagai anak agar Wage bisa bersekolah di Europeesche Lagere School. Tapi Wage tak bisa mengelak ketika pihak sekolah tahu bahwa ia adalah pribumi asli. Sehingga, ia harus keluar dari sekolah dan pindah ke sekolah Melayu. Lalu pada 1917 Wage melanjutkan sekolah ke Klein Ambienaar Examen. Lalu melanjutkan ke sekolah guru Normal School Makassar, dan Wage mengajar sebagai guru Sekolah Dasar di Makassar.
Wage, Menulis, Musik, dan Politik
Van Eldik –kakak ipar Wage- adalah seseorang yang menyukai musik dan ahli bermain biola. Dan Wage suka mendengarkannya lalu menirunya. Dan Van Eldik mengajarinya hinga ia bisa memainkan biola dengan lihai.
Wage mempunyai seorang teman peranakan Belanda Moni Vanacken. Moni yang akan menikah, meminta Wage untuk memainkan biola pada malam pernikahannya. Dan malam itu adalah kali pertama Wage menunjukkan kemampuannya pada khalayak ramai. Sejak saat itu Wage bergabung dengan grup orkestra yang juga diundang pada malam itu. Dan pada tahun 1920 Wage mendirirkan Club Band sendiri. Dan ia hidup dalam kemewahan.
Makin dewasa Wage makin kritis dalm melihat keadaan. Dalam hidupnya ia frustasi melihat kenyataan yang ada disekelilingnya. Wage terjebak pada dua kebudayaan. Ia hidup dalam keluarga Belanda, dipihak lain ia terkesan pada lingkungan masyarakat bawah yang mulai berontak dan bergolak, yang tak puas pada pemerintah Belanda dan menentang kekuasaan Belanda.
Wage mulai merasa hidupnya tak lagi berarti. Kemewahan dan berfoya-foya bukanlah tujuan hidupnya. Wage mulai mencari cara agar ia bisa berbuat sesuatu untuk bangsanya. Lalu ia memutuskan untuk menumpangi kapal, bertolak kepulau Jawa. Sesampainya di Pelabuhan Surabaya Wage diciduk aparat keamanan (polisi), dan dimasukkan kedalam penjara. Tapi ia dibebaskan karena barang bawaannya tak ada yang mencurigakan karena hanya berisi biola.
Dari surabaya ia pergi ke Cimahi, Jawa Barat dan tinggal bersama ayahnya. Disana ia bertemu dengan DR. Amir dan mengajak Wage bekrja sebagai wartawan di koran SINPO. Ia bertugas meliput perkara-perkara di pengadilan. Wage banyak menemukan ketidakadilan hukum pada penduduk pribumi dan ia menuliskannya di koran itu. Sejak saat itu Belanda resah dan mulai mengawasi gerak-gerik Wage hingga ia dikeluarkan dari pekerjaannya sebagai wartawan.
Untuk mengisi kekosongan waktu, Wage bermain biola ditempat bermain bilyard. Banyak orang yang datang ke tempat itu bukan untuk bermain bilyard, tapi untuk mendengarakan permainan biola Wage. Salah satunya adalah Harun, seorang wartawan terkenal dari koran ALPINA. Harun mengajak Wage untuk bergabung di ALPINA.
Kehidupan sebagai wartawan sudah mendarah daging pada diri Wage. Meskipun ia harus berhemat dengan gaji 36 perak setiap bulannya, ia masih bisa bertahan hidup. Tapi, ia bisa frustasi da mati bila ia harus melepaskan profesinya itu.
Dalam bidang politik Wage tidak bergabung pada golongan manapun. Walaupun demikian ia tetap menghadiri pertemuan-pertemuan dan rapat-rapat yang diadakan ole para pejuang kemerdekaan. Dan ia menyukai semangat rakyat Indonesia yang harus melakukan rapat sembunyi-sembunyi dari Belanda agar tak ditangkap. Sehingga rasa patriotisme semakin tebal didalam jiwa setiap orang, juga Wage. Ia menyukai pidato-pidato Soekarno dan menyukai pemikiran-pemikiran tokoh terkenal seperti Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo dan beberapa tokoh lainnya.
Hingga pada suatu hari Wage membaca artikel pada koran TIMBUL yang berbunyi “ Mana komponis kita jang dapat mentjiptkan lagoe kebangsaan Indonesia? Jang dapat membangkitkan semangat rakjat.” Dan Wage merasa tertantang karena ia yakin pada suatu hari bangsa Indonesia akan bersatu, Indonesia akan bangkit. Dan Wagepun mulai mengambil biolanya lalu menggeseknya, mengambil pena lalu menuliskan angka-angka not pada lembaran-lembaran kertasnya. Dan terciptalah sebuah lagu dengan judul Indonesia Raya.
Lagu itu ditampilkan pertama kali pada penutupan Kongres Sumpah Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Sejak saat itu Wage selalu menjadi pusat perhatian sekaligus musuh besar Belanda. Dan lagu itu pula yang dinyanyikan secara spontan pada 17 Agustus 1945 saat Indonesia mengumumkan kemerdekaannya.
Selain menulis lagu, Wage juga menulis sebuah roman yang berjudul Perawan Desa, tapi buku dilarang beredar oleh Belanda.
Pada tahun 1937 Wage kembali ke Surabaya, semangat pemuda Surabaya semakin berkobar-kobar, ketika tahu Wage telah kembali ke Surabaya. Hingga tepat pada tanggal 17 Agustus 1938 Wage menghembuskan nafas terakhirnya, dengan menyisakan luka pada jiwa setiap rakyat Indonesia. Dan dengan dikeluarkanya Surat Keputusa Presiden RI no. 016/TK/1971 Wage resmi menjadi Pahlawan Nasional negara Indonesia.
Selasa, 10 November 2009
Senin, 02 November 2009
Sepenggal Memory dalam Hidupku
Oleh: Musyarrofah, XII IPS 1
Disini, aku ingin bercerita tentang seseorang kepada kalian. Cerita tentang sosok yang membuatku benar-benar hidup.
Awalnya, aku merasa sungkan kepada beliau, tapi beliau berkata, “tenanglah, semuanya bisa kita diskusikan dan lakukan bersama”.
Lalu aku mulai merasa dipahami.
Suatu hari, saat aku begitu bersemangat mengemukakan gagasanku, beliau berkata,”gagasanmu sangat bagus, tapi sebelum melaksanakannya kamu harus malihat peluang yang ada dan positif-negatifnya”.
Aku mulai berusaha mewujudkan gagasanku, tapi jalan tak semulus yang kubayangkan, membuat aku mulai tak yakin dengan kemampuanku. Namun, beliau berkata,”keahkan semua kemampuanmu, jika dengan semua itu kamu belum mampu, barulah kamu boleh meminta bantuan orang lain. Tapi, saya yakin kamu pasti bisa”
Aku mulai bangkit kembali. Tapi aku tetap merasa kelelahan dengan semua masalah yang beruntun menimpaku. Lalu, beliau menghiburku, “setiap orang pasti punya masalah, karena tanpa masalah kita takkan hidup”.
Kini aku mengerti, bahwa masalah adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah, karena dengan adanya masalah aku belajar menghargai hidup.
Lain waktu, aku melakukan kasalahan. Taukah kalian bagaimana tanggapan beliau? bukan menyesali kesalahan yang telah kulakukan, tapi beliau malah bertanya, “berapa kali kamu melakukan kesalahan?”.
Sejak saat itu, aku belajar menjaga kepercayaan orang lain kepadaku.
Begitu banyak hal berharga yang telah beliau ajarkan kepadaku. tentang hidup yang tak semudah ku bayangkan. Namun, juga tak sesulit yang kupikirkan.
Beliau mengajariku untuk hidup tak sekedar helaan nafas, mengarahkan mata dan hatiku untuk melihat dari segala sisi, mengajakku menikmati indahnya cahaya matahari, sebelum aku mengeluhkan teriknya.
Semuga beliau selalu diridhai-Nya
Bukit Bintang, 2 Nopember 2009
Disini, aku ingin bercerita tentang seseorang kepada kalian. Cerita tentang sosok yang membuatku benar-benar hidup.
Awalnya, aku merasa sungkan kepada beliau, tapi beliau berkata, “tenanglah, semuanya bisa kita diskusikan dan lakukan bersama”.
Lalu aku mulai merasa dipahami.
Suatu hari, saat aku begitu bersemangat mengemukakan gagasanku, beliau berkata,”gagasanmu sangat bagus, tapi sebelum melaksanakannya kamu harus malihat peluang yang ada dan positif-negatifnya”.
Aku mulai berusaha mewujudkan gagasanku, tapi jalan tak semulus yang kubayangkan, membuat aku mulai tak yakin dengan kemampuanku. Namun, beliau berkata,”keahkan semua kemampuanmu, jika dengan semua itu kamu belum mampu, barulah kamu boleh meminta bantuan orang lain. Tapi, saya yakin kamu pasti bisa”
Aku mulai bangkit kembali. Tapi aku tetap merasa kelelahan dengan semua masalah yang beruntun menimpaku. Lalu, beliau menghiburku, “setiap orang pasti punya masalah, karena tanpa masalah kita takkan hidup”.
Kini aku mengerti, bahwa masalah adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah, karena dengan adanya masalah aku belajar menghargai hidup.
Lain waktu, aku melakukan kasalahan. Taukah kalian bagaimana tanggapan beliau? bukan menyesali kesalahan yang telah kulakukan, tapi beliau malah bertanya, “berapa kali kamu melakukan kesalahan?”.
Sejak saat itu, aku belajar menjaga kepercayaan orang lain kepadaku.
Begitu banyak hal berharga yang telah beliau ajarkan kepadaku. tentang hidup yang tak semudah ku bayangkan. Namun, juga tak sesulit yang kupikirkan.
Beliau mengajariku untuk hidup tak sekedar helaan nafas, mengarahkan mata dan hatiku untuk melihat dari segala sisi, mengajakku menikmati indahnya cahaya matahari, sebelum aku mengeluhkan teriknya.
Semuga beliau selalu diridhai-Nya
Bukit Bintang, 2 Nopember 2009
Senin, 19 Oktober 2009
Jeritan
Oleh: Tifani R. Ashaly
Kau torehkn putih dengan hitammu
Mungkin kau tak sadar
Tapi
Cukup membuat diri ini tak berarti dimatamu
Sekelam itukah kau melihatku?
Tahukah kau?
Tertatih-tatih kujaga sinar matamu
Agar ku dapat melihat senyummu
Kau torehkn putih dengan hitammu
Mungkin kau tak sadar
Tapi
Cukup membuat diri ini tak berarti dimatamu
Sekelam itukah kau melihatku?
Tahukah kau?
Tertatih-tatih kujaga sinar matamu
Agar ku dapat melihat senyummu
Senin, 28 September 2009
PEMBUKAAN CLUB OSIS
21 oktober 2008, sore itu tampak beberapa siswa berjas biru. Mereka adalah pengurus OSIS MA 1 Annuqayah Putri masa bakti 208-2009. Mereka sibuk mempersiapkan acara Pembukaan Aktifitas Club OSIS MA 1 Annuqayah putri. Acara ini dimaksudkan untuk meresmikan seluruh kegiatan yang telah diprogram oleh semua bidang OSIS MA 1 Annuqayah putri.
"Meski club ini telah resmi di buka, masih terdapat club yang belum bisa diaktifkan dikarenakan masih dalam tahap pencaharian pembinbing yang profesional di bidang tersebut". Demikiat tutur Musyarrafah, ketua OSIS MA 1 Annuqayah putri masa bakti 208-2009 dalam sambutannya. Dia juga berharap agar club-club yang ada bisa saling bekerja sama dengan baik agar kegiatan tersebut berjalan sesuai rencana.
Acara ini turut dihadiri oleh staf sekolah, wakamad. bagian Kegamaan, serta para delegasi kelas. Sedangkan kepala Madrasah dan wakamad. bagian kurikulum berhalangan hadir. Sambutan atas nama kepala sekolah disampaikan oleh wakamad. bagian Keagamaan, Bapak Husnan A nafi'. Dalam sambutannya, beliau mengatakan bahwa sekolah sangat apresiatif dan sanggup menfasilitasi segala kegiatan yang bersifat pengembangan intelektual siswa. Beliau juga berharap agar club ini menjadi barometer keberhasilan belajar siswa dan menjadi prospek bagi keberhasilan lain demi mewujudkan cita-cita MA I Annuqayah putri, yaitu meningkatkan kualitas madrasah dan anak didik menyongsong 2009 nanti. (red. Kru Inspirasi)
"Meski club ini telah resmi di buka, masih terdapat club yang belum bisa diaktifkan dikarenakan masih dalam tahap pencaharian pembinbing yang profesional di bidang tersebut". Demikiat tutur Musyarrafah, ketua OSIS MA 1 Annuqayah putri masa bakti 208-2009 dalam sambutannya. Dia juga berharap agar club-club yang ada bisa saling bekerja sama dengan baik agar kegiatan tersebut berjalan sesuai rencana.
Acara ini turut dihadiri oleh staf sekolah, wakamad. bagian Kegamaan, serta para delegasi kelas. Sedangkan kepala Madrasah dan wakamad. bagian kurikulum berhalangan hadir. Sambutan atas nama kepala sekolah disampaikan oleh wakamad. bagian Keagamaan, Bapak Husnan A nafi'. Dalam sambutannya, beliau mengatakan bahwa sekolah sangat apresiatif dan sanggup menfasilitasi segala kegiatan yang bersifat pengembangan intelektual siswa. Beliau juga berharap agar club ini menjadi barometer keberhasilan belajar siswa dan menjadi prospek bagi keberhasilan lain demi mewujudkan cita-cita MA I Annuqayah putri, yaitu meningkatkan kualitas madrasah dan anak didik menyongsong 2009 nanti. (red. Kru Inspirasi)
Jumat, 28 Agustus 2009
IKHLAS JALANI HIDUP
Oleh: Faiq Khairani Aisyah, XI IPA
Hari masih pagi, dinginpun masih terasa menyayat tulang. Rasa malas memang selalu hinggap, namun itu bukan alasan untuk membuatnya berdiam di rumah. Meski mentari belum sepenuhnya tampak, ia segera bergegas menuju MA 1 Annuqayah Putri yang tak jauh dari tempat diamana dia tinggal. Dengan berjalan kaki ia mengarungi sepanjang jalan dengan keyakinan masa depan. Pengalam hidup membuatnya semakin mantap dalam melangkah., Janji untuk tidak menyerah pada hidup telah dipahatnya sejak lama.
Pagi ini menunjukkan pukul 05.00 WIB, suasana di MA 1 A Pi masih sepi dan lengang. Hanya ada rumput-rumput yang memang sengaja ditanam di halaman sekolah dan bangunannya yang berbentuk huruf U menghadap utara. Belum algi sampah-sampah sisa kemarin sore dan daun-daun kering yang berguguran. Seolah tak ingin membuang waktu, tangannnya langsup hinggap pada sebuah sapu, mengayunkannya pada sampah-sampah yang berserakan di halaman. Langkahnya mengarahkan sampah-sampah itu ke tempat dimana mereka seharusnya berada, yaitu tempat sampah. Sesekali tangannya terulur, memungut sampah yang bandel tak mau mengikuti ayunan sapunya.
Ia memang tak sendirian dalam mengerjakan tugasnya, bersama teman seprofesinya ia mengerjakan segala tugasya mulai dari menyapu halam MA 1 A Pi, membuka pintu semua kelas dan sebagainya.. Sosok ini tidak akan asing bagi siswa-siswa MA 1 A Pi,ya dialah orang yang biasa disapa Pak Qasim, seseorang yang bisa disebut tukang kebun, bahkan tak dapat dipungkiri dia telah menjadi bagian dari dari kita, bagian dari sekolah ini. Karena dialah pahlawan kebersihan, ia selalu mengerjakan tugasnya dengan baik terutama membuat sekolah kita tetap bersih dari segala macam sampah.
Seorang yang berasal dari desa Payudan Daleman dusun Alinan, tinggal di daerah pesantren puluhan lamanya. Selama 23 tahun tinggal di daerah Lubangsa Selatan ikut membantu pekerjaan disana. Setelah itu, ia tinggal di sebuah rumah sederhana, di belakang STIKA Putri. Kemudian, ia diminta untuk bekerja di MA 1 Annuqayah Putri oleh K. Kurdi, Kepala MA 1 Annuqayah Putri sebelum K.Naqib hingga saat ini, Membuatnya belajar membiasakan hidup ikhlas dan apa adanya.
Hidup sederhana tidak membuatnya jenuh ataupun berontak pada keadaaan, justru itu membuatnya semakin mantap dalam menjalani hidupnya. Baginya hidup sepeti hujan,
”Semua akan kembali pada asalnya, jadi jalani saja seperti biasanya” tuturnya dengan senyuman yang begitu ramah. Baginya pekerjaan yang ia lakoni sekarang, bukan hanya sekedar kewajiabn.
”Ini sudah menjadi bagian dari hidup saya”ujarnya, ketik saya menanyakan kenapa dia begitu menikmati tugasnya. Mengingat semua orang pasti selalu menginginkan yang terbaik bagi hidupnya.
”Mungkin ini sudah menjadi suratan takdir dariYang Diatas”lanjutnya dikuti tawa yang lepas.
Hidup memang tak selamanya seperti yang kita inginkan, namun kesabaran merupakan patokan utama dalam menjalani hidup.
”Jangan hanya selalu mencari orang yang bagaimanapun dia bisa bermanfaat atau bisa dimanfaatkan, tapi usahakanlah bagaimana caranya kita bermanfaat bagi orang lain di sekitar kita” pesannya.
Hari masih pagi, dinginpun masih terasa menyayat tulang. Rasa malas memang selalu hinggap, namun itu bukan alasan untuk membuatnya berdiam di rumah. Meski mentari belum sepenuhnya tampak, ia segera bergegas menuju MA 1 Annuqayah Putri yang tak jauh dari tempat diamana dia tinggal. Dengan berjalan kaki ia mengarungi sepanjang jalan dengan keyakinan masa depan. Pengalam hidup membuatnya semakin mantap dalam melangkah., Janji untuk tidak menyerah pada hidup telah dipahatnya sejak lama.
Pagi ini menunjukkan pukul 05.00 WIB, suasana di MA 1 A Pi masih sepi dan lengang. Hanya ada rumput-rumput yang memang sengaja ditanam di halaman sekolah dan bangunannya yang berbentuk huruf U menghadap utara. Belum algi sampah-sampah sisa kemarin sore dan daun-daun kering yang berguguran. Seolah tak ingin membuang waktu, tangannnya langsup hinggap pada sebuah sapu, mengayunkannya pada sampah-sampah yang berserakan di halaman. Langkahnya mengarahkan sampah-sampah itu ke tempat dimana mereka seharusnya berada, yaitu tempat sampah. Sesekali tangannya terulur, memungut sampah yang bandel tak mau mengikuti ayunan sapunya.
Ia memang tak sendirian dalam mengerjakan tugasnya, bersama teman seprofesinya ia mengerjakan segala tugasya mulai dari menyapu halam MA 1 A Pi, membuka pintu semua kelas dan sebagainya.. Sosok ini tidak akan asing bagi siswa-siswa MA 1 A Pi,ya dialah orang yang biasa disapa Pak Qasim, seseorang yang bisa disebut tukang kebun, bahkan tak dapat dipungkiri dia telah menjadi bagian dari dari kita, bagian dari sekolah ini. Karena dialah pahlawan kebersihan, ia selalu mengerjakan tugasnya dengan baik terutama membuat sekolah kita tetap bersih dari segala macam sampah.
Seorang yang berasal dari desa Payudan Daleman dusun Alinan, tinggal di daerah pesantren puluhan lamanya. Selama 23 tahun tinggal di daerah Lubangsa Selatan ikut membantu pekerjaan disana. Setelah itu, ia tinggal di sebuah rumah sederhana, di belakang STIKA Putri. Kemudian, ia diminta untuk bekerja di MA 1 Annuqayah Putri oleh K. Kurdi, Kepala MA 1 Annuqayah Putri sebelum K.Naqib hingga saat ini, Membuatnya belajar membiasakan hidup ikhlas dan apa adanya.
Hidup sederhana tidak membuatnya jenuh ataupun berontak pada keadaaan, justru itu membuatnya semakin mantap dalam menjalani hidupnya. Baginya hidup sepeti hujan,
”Semua akan kembali pada asalnya, jadi jalani saja seperti biasanya” tuturnya dengan senyuman yang begitu ramah. Baginya pekerjaan yang ia lakoni sekarang, bukan hanya sekedar kewajiabn.
”Ini sudah menjadi bagian dari hidup saya”ujarnya, ketik saya menanyakan kenapa dia begitu menikmati tugasnya. Mengingat semua orang pasti selalu menginginkan yang terbaik bagi hidupnya.
”Mungkin ini sudah menjadi suratan takdir dariYang Diatas”lanjutnya dikuti tawa yang lepas.
Hidup memang tak selamanya seperti yang kita inginkan, namun kesabaran merupakan patokan utama dalam menjalani hidup.
”Jangan hanya selalu mencari orang yang bagaimanapun dia bisa bermanfaat atau bisa dimanfaatkan, tapi usahakanlah bagaimana caranya kita bermanfaat bagi orang lain di sekitar kita” pesannya.
Senin, 17 Agustus 2009
PASKA PERSIAPAN HUT, OSIS MA-MTs PERERAT UKHUWAH
Seperti tahun-tahun sebelumnya, siswi MA 1 Annuqayah Putri juga ikut memeriahkan HUT kemerdekaan RI dengan kegiatan upacara yang telah menjadi program tahunan Osis MA I Annuqayah Putri. Karena keterbatasan tempat, maka upacara kali ini ditempatkan di halaman MTs I Annuqayah Putri yang bekerja sama dengan Osis MTs 1 Annuqayah Putri. Eliza Umami, wakil sekretaris OSIS MA 1 Annuqayah Putri metuturkan, " siswi MA I Annuqayah Putri yang berjumlah kurang lebih 700 siswi, tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan upacara HUT kemerdekaan RI di halaman MA I Annuqayah Putri."
Dari penggabungan pelaksanaan ini, tidak hanya petugas upacara yang sibuk mempersiapkan upacara HUT kemerdekaan RI, tapi juga melibatkan seluruh siswi dalam kerjabakti di halaman MTs 1 Annuqayah Putri yang akan dijadikan tempat upacara HUT kemerdekaan RI 17 Agustus yang ke -63.
Dengan semangat 45, siswi MA 1 Annuqayah Putri membersihkan halaman MTs 1 Annuqayah Putri. "Saya tetap bersemangat melakukan bersih-bersih di sini. Karena dengan kerja bakti ini saya bisa merasakan kerjasama yang baik dan kekompakan seluruh siswi MA I Annuqayah Putri." Ungkap Wasilatur Aini, siswi kelas XI IPS-2. Tapi, tak jarang dari mereka mengaku letih dan gerah. Bahkan beberapa siswi terlihat hanya duduk-duduk. "Kami duduk karena sudah cape`. Sudah bekerja dari tadi". Tutur Fat R Lain lagi dengan yang diungkapkan oleh Mutiatul Khoiriyah. "Kerja baktinya mendadak. Jadi kami baru datang. Bukannya nggak mau bekerja".
Walaupun terdapat sebagian siswi dari MA 1 Annuqayah Putri yang hanya duduk-duduk, tidak turut berpartisipasi membersihkan halaman MTs 1 Annuqayah Putri, tapi dengan semangat yang tertanam dalam diri siswi MA 1 Annuqayah Putri akhirnya halaman MTs 1 Annuqayah Putri bersih dari sampah dan bebatuan yang mengganggu.
Sabtu, 15 Agustus 2009
SISWA MA 1 APi SAMBUT HUT DENGAN SEMANGAT BERKARYA
Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menyambut HUT RI ke-63 kemerdekaan. Salah satunya adalah yang lakukan oleh pengurus OSIS MA 1 Annuqayah Putri. mereka melenggarakan beberapa lomba, khususnya pada bidang kebersihan dan keindahan. Diantaranya adalah lomba hias kelas, kliping dan mading kelas.
Lomba-lomba tersebut banyak menyita waktu siswa MA 1 Annuqayah Putri. bahkan, pada jam pulang, banyak dari mereka, khususnya pengurus kelas, terlihat masih berada di sekolah untuk menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan lomba-lomba tersebut.
Selain itu, juga ada lomba yang lebih mengarah pada bakat personal sisiwi MA 1 Annuqayah Putri dalam karang-mengarang fiksi, khususnya cerpen. Lomba mengarang cerpen dengan tema Indonesia Dan Patriotisme Remaja ini diikuti oleh satu orang dari tiap kelas sebagai delegasi kelas masing-masing.
Lomba-lomba tersebut banyak menyita waktu siswa MA 1 Annuqayah Putri. bahkan, pada jam pulang, banyak dari mereka, khususnya pengurus kelas, terlihat masih berada di sekolah untuk menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan lomba-lomba tersebut.
Selain itu, juga ada lomba yang lebih mengarah pada bakat personal sisiwi MA 1 Annuqayah Putri dalam karang-mengarang fiksi, khususnya cerpen. Lomba mengarang cerpen dengan tema Indonesia Dan Patriotisme Remaja ini diikuti oleh satu orang dari tiap kelas sebagai delegasi kelas masing-masing.
Langganan:
Postingan (Atom)