Minggu, 01 Maret 2009

XII PK Dapat Bernapas Lega

Qurratul Aini, XII program Keagamaan
Akhirnya, siswa kelas XII PK bisa merampungkan karya tulis ilmiah yang berupa paper di awal bulan Maret. Jam istirahat kemarin (01/03) mereka harus rela berdesak-desakan antre di kantor PK agar paper mereka segera disahkan dengan pihak madrasah yang hanya tinggal distempel. Paper itu sudah ditanda-tangani oleh masing-maisng pembimbing, Wakamad. Bag. Keagamaan dan Kepala MAPi. "Paper ini sudah diinstruksikan jauh-jauh hari sebelumnya agar lebih siap dan tidak molor menyetorkannya seperti tahun-tahun sebelumnya," tutur Bapak Husnan selaku Wakamad. Bag. Keagamaan.
Paper kali ini berbeda denga tahun sebelumnya. Pasalnya tahun ini, paper adalah syarat untuk mengikuti UAN, bukan syarat kelulusan seperti tahun-tahun kemarin. Hal ini yang menjadikan siswa PK lebih rajin dan fokus untuk menyelesaikannya sesuai dengan deadline yang ditentukan. "Saya sudah terbiasa tidur di atas jam 12 malam. Kalau nggak gitu, saya takut tidak ikut UAN," kata Nur Imamah di sela-sela kesibukannya pada paper bahasa Arabnya.
Ketika kami meminta Aan, gadis kelahiran Pamekasan untuk bercerita tentang perjalanan papernya yang hanya dikerjakan selam 5 hari, dengan wajah yang cukup berbinar, dia menceritakan. Sebenarnya, dia telah menyetorkan judul 5 bulan sebelumnya. Namun, sudah 2 judul ditolak. Pasalnya, judulnya tidak menarik dikaji dan sudah umum ditulis. Pembimbing memintanya untuk benar-benar maksimal dalam pembahasan dan penyajian data sekalipun tanpa harus diterjemah ke dalam bahasa Inggris. Hal itu, cukup men"down"kannnya selama beberapa mingu. Namun, baru sejak tanggal 21 Pebruari lalu, dia bangkit kembali. Dia tetap mengerjakan papernya sekalipun dalam keadaan sakit hingga absen 3 hari di kelasnya.
Beda halnya dengan Thayyibah yang mendapatkan dispensasi perpanjangan waktu selama 1 minggu. Dispensasi itu harus perlu perjuangan yang tidak mudah. Dia harus mondar-mandir dari rumah Bapak Husnan dan K.Wadud, pembimbingnya. Menurutnya, dia telah cukup gigih memperjuangkannya. Dia bukannya tidak merampungkan papernya, namun masih belum ditashih oleh pembimbing. "Waktu yang diberikan pembimbing sangat terbatas karena harus mengoreksi milik 3 teman saya. Beliau juga sibuk," tandasnya. Sebenarnya, tidak hanya Thayyibah yang mendapatkan dispensasi, ada 4 siswa lain yang kasusnya hampir sama. Salah satu dari mereka, sebut saja Suaidah telah revisi beberapa kali. Dia juga sudah ganti 2 judul. Namun, karena banyaknya kesalahan dan kesulitan mengubahnya, akhirnya, dia harus ganti judul, bahasa dan juga pembimbing. "Cukup menguras pikiran dan tenaga".
"Paper adalah langkah awal menulis skripsi. Kadang menyebalkan, kadang menantang," papar Salamaniatun yang menjabat sebagai Redaksi Pelaksana dalam majalah Inspirasi.

MA 1 A PI SIAP BERSAING

School climate Challenge merupakan lomba lingkungan yang diselenggarakan oleh British Council yang bekerja sama dengan yayasan ashoka , pandu pertiwi, dan Nasional Geographic Indonesia. Lomba yang akan berlangsung selama 6 bulan ini (Pebruari -juni) merupakan lomba bertaraf nasional yang dikhususkan untuk sekolah-sekolah menengah atas (SMA/MA) sederajat yang ada di Indonesia yang bertujuan untuk mendorong siswa-siswa dan guru menggagas proyek yang inovativ, kreatif, berkesinambungan dan terutama berkontriubusi terhadap solusi perubahan iklim dan memiliki manfaat ekonomi baik bagi sekolah maupun komunitas.
Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Putri merupakan 1 dari sekolah yang ada di Madura yang mengikuti lomba proyek tersebut. Dengan mengutus 3 tim yaitu:
Tim pembudayaan Hemat kertas & pemanfaatan sampah kertas yang beranggotakan lailatul mukarramah, Athiroh Annufus,Rizka finur laila oktafiana dan Trimahta yudha
Tim composting yang beranggotakan Ulfatun Hasanah, Khalifah, Dewi Nur Hayati, dan Dewi Romlah Oktaviana
Tim Tanaman Obat yang beranggotakan Musyarrofah, Eliza Umami, Shatitin Nashihah dan Izzatul Kamelia. Proyek Tanaman Obat ini bernama
“ pengembangan kesehatan swadaya melalui pemanfaatan Tanaman Obat Madura”
Tim ini dibantu oleh tim pengarah yang terdiri dari Ny.Khatibah (Manager Herba Madura),K.Muzammil El-Muttaqin (BPM-Pondok Pesantren Annuqayah),K.Naqib Hasan S.sos (Kepala Madrasah) dan Ny.Shafiyah A.Win (Waka. Kesiswaan), serta tim pendukung yang diambil dari Club Pecinta Alam, Club jurnalistik, dan pengurus UKS
Sebenarnya tujuan utama kami dalam proyek ini adalah:
Mengembalikan kepercayaan masyarakat khususnya warga MA 1 Annuqayah Putri terhadap Herba Madura
“Teman-teman MA 1 Annuqayah Putri bisa menjaga dan mengatasi kesehatan dengan Tanaman Obat Madura “Ungkap Musyarrafah (Eva:Read) salah satu anggota tim inti Tanaman Obat.Dia (Eva:Read) mengungkapkan warga PP.Annuqayah khususnya siswa MA 1 Annuqayah Putri cenderung lebih suka mengkonsumsi dan lebih percaya terhadap hasiat obat-obtan kimia dari pada obat-obatan alami.Selain karena obat kimia lebih praktis ,reaksi obat-obatan kimia juga lebih cepat bagi tubuh.
Kepala Madarasah Aliyah 1 Annuqayah Putri tidgkungan dengan mengembangkan kesehatan swadaya melalui pemanfaatan Tanaman Obat, dan ak memprioritaskan proyek tersebut sebagai lomba yanh hanya akan berlangsung selama 6 bulan akan tetapi tujuan utamanya adalah agar siswa MA 1 Annuqayah Putri peduli terhadap linbeliau mengaharapkan proyek ini bisa ditindak lanjuti dengan usha-usaha yang efektif,misalnya pembuatan posko konsultasi kesehatan swadaya yang bekerja sama dengan Herba Madura.

MA 1 A PI SIAP BERSAING (English)

School Climate Challenge is environment competition that convene by British Council that cooperate with Ashoka fundation, Pandu Pertiwi, and National Geographic Indonesia. Competition that will occur for six months (pebruary-july) is a competition special for Senior High School in Indonesia that purposeful to motivate students and teachers to think out the innovative, creative, and continuo project.Especially contribute to make climate change solution and give economic benefit for school communities. Annuqayah Senior high School 1 “Ladies” (Madrasah aliyah 1 Annuqayah putri) is one of the follower school from Madura in this competition and delegated three teams there are:
Cultivation of thrifty papers & making useful of rubbish papers
(Pembudidayaan hemat kertas dan pemanfaatan sampah kertas) the member of this team are Lailatul Mukarramah, Atirah Annufus, Rizka finur laila oktafiana and Trimahta Yudha
Developing self-supporting healthy by making useful of Maduranis medicinal herbs (pengembangan kesehatan swadaya melalui pemanfaatan tanaman obat Madura) the member of this team are Musyarrafah, Eliza Umami, Shatitin Nashihah and Izzatul Kamilia
Cultivation Organic Fertilizer And It’s Utilizing In School Environment
(Budidaya pupuk organik dan pemanfaatannya disekitar sekolah) the member of this team are Ulfatun Hasanah, Dewi Nurhayati, Khalifah and Dewi Romlah Oktafia
This team helped by director team there are Khatibah A Win (Manager of Herba Madura) Muzammil el-Muttaqien (BPM-PPA) Naqib Hasan S.Sos (headmaster of MA 1 A pi) Shafiyah A.Win (Wakamad Bag Kesiswaan) and endorsement team from Club Pecinta Alam , Club Jurnalistik, and UKS committee.
Actually destination of TO project is:
1. To return society belief specially school communities in MA 1 A pi to traditional herb
2. Students of MA 1 A pi can save and exceed their healthy with traditional herbs Musyarrafah said that school communities in MA 1 A pi specially the students always use and believe more in chemistry medicinal quality than medicinal herbs. Because medicinal chemistry convenient and reaction of medicinal chemistry is fast to our body.

Headmaster of MA 1 A Pi not earmark that’s project as competition but the destination is students of MA 1 A pi care to their environment with open up expense healthy get by utilize medicinal herbs and he wants this project can take the next step on with effective effort, for example is make place for consultation expense healthy and cooperate with Herba Madura.

MA I A PI GO IN THE DIRECTION

To overcome Global Warming that threaten welfare this earth, British Countil in Jakarta take care of prestigious championship “School Climate Challenge” next June 2009.
This program is involve all of school of Indonesia especially for senior high school, include our school MA 1 Annuqayah Putri, that represent of Madura. In this prestigious championship, all of participant from MA 1 Annuqayah putri, devided to 3 team, they are Medicinal Herb’s team, Compsting’s team and our team are Recycle Papers’s team, that consist 4 people as main team.
In Recycle Papers’s team, we recycle the used paper to be new paper that be able to use it again.
“Theresn’t a spescial devide duty. In this team, we work all together” said Athirah An-Nufus one of main team from Recycle Papers’s team, while we asked about devide duty in this team.
For the sake of saved our earth a specially to make our school progress, we always making every effort to achieve a good product. But it’s can’t be denide we always find any difficulty. “It’s very difficult to seek and find the meduim to recycle the paper, how to product high quality paper especially we haven’t find a guide teacher yet that suitable. Whereas another team was find it”. She said. Nevertheless, all of it can’t to abridge our spirit to persisted for the sake of success this project.
Everything is visible at the instigation of participant while we implementing all of activity among to practice to recycle the paper everyday.
This project will persist for 6 mounth. It’s since Pebruary till next July by any activity. They are training, compaign for another school among SMA 3 Annuqayah, MTs 1 Putri Annuqayah and SMP Islam Baiturrahmah West Gadu, Ganding, introduce exchibition, public outcleach, it’s introduction to public about aor project’s purpose, visit to Kaliandra in Pasuruan to be acquainted with our earth and the latest is selling our product.
“We hope dwindle amount af rubbish paper, thrifty of paper in surroundings of school much, can make students more and more have an interest to creativity and make public and students shoved to use the used paper.“ Said Lailatul Mukarramah one of main team of Recycle Papers’s team, while we asked what their hope about this project.

Sabtu, 28 Februari 2009

MApi Bawa Pulang Piala

Qurratul Aini, XII program Kegamaan
Siang kemarin (28/02) saat kami temui Ibu Luthfiyah Syaf di Perpustakaan MApi, pendamping lomba Festivel Bahasa Se-Jawa Timur di PP. Nurul Jadid Paiton, wajahnya nampak begitu lelah. Dia yang sedang mengisi TTS sembari tersenyum saat kami wawancarai tentang lomba yang diadakan selama 5 hari itu."Acaranya cukup spektakuler. Hampir seluruh kabupatern di Jawa Timur mengirimkan delegasinya. Hanya dari kabupaten Sumenep yang menjadi delegasi Madura , itupun di MA Putri saja. Jadi, saingannya cukup ketat. Dan Al-hamdulillah kami pulang dengan membawa piala walaupun hanya harapan I," paparnya dengan santai sambil melanjutkan menggisi TTSnya yang bolong. Kemudian, dia juga menegaskan akan banyaknya kekecewaan dari beberapa kontingen terhadap lomba yang diadakan oleh Lembaga Pengembangan Bahasa Asing (LPBA) PP.Nurul Jadid. Pasalnya, teknis administrasi lomba cukup amburadul terutama dalam hal management waktu, ketentuan dan syarat lomba. "Peserta lomba dari beberapa lembaga dibatasi sedangkan untuk kalangan PP. Nurul Jadid sendiri tidak." Bahkan di akhir pelaksanaannya, ada sebagian lembaga yang angkat tangan dengan menuliskan surat pernyataan untuk tidak mengirimkan delegasi pada lomba berikutnya, termasuk juara umum lomba ini, PP. Darul Lughah Bangil. "Tapi, dari perlombaan ini kami (baca: pihak madrasah) perlu benahi diri agar benar-benar mematangkan persiapan lomba dengan lebih maksimal dan optima," tambahnya di akhir wawancara.
Ketika kami tanyai Siti Romlah, dia dengan antusias menceritakan pelakasanaan lomba yang diikutinya, Debat Bahasa Arab. Dia menuturkan bahwa lawan yang dihadapi bukan sembarangan orang. Dia dan teman-temannya harus mempertahankan argumennnya dengan berbagai dalil dengan tetap mempertahankan kefasihan. Awalnya, dia tidak menyangka jika harus masuk babak final dan akhirnya mendapatkan harapan I. "Ada salah satu teman kami yang tersendat-sendat ketika berargumen." Wajahnya tampak sedikit kecewa. Tapi, selang beberapa waktu, dia tampak bersemangat ketika bercerita cukup banyak peserta yang men-supportnya terutama ketua panitia pelaksanaan lomba ini.
"Lomba ini adalah media belajar. Saya harus semakin meningkatkan kemampuan saya. There are star above star," tutur Fatimatus Zahrah, peserta lomba Pidato Bahasa Inggris.

Rabu, 25 Februari 2009

Giat Istighasah; Pererat Persaudaraan

Qurratul Aini, XII program Keagamaan

Pagi ini (25/02) siswa kelas X dan XI program Keagamaan (PK) dan XI IPS-5 berboondong-bondong memasuki kelas XII PK dalam rangka istighasah, yang biasanya rutin dilaksanakan pada hari Kamis setelah bel tanda masuk berbunyi. Namun, sudah 3 hari berturut-turut istighasah ini dilaksanakan."Banyak teman kami yang mengikuti lomba di PP.Nurul Jadid Paiton. Setidaknya, istighasah ini adalah restu kami untuk mereka. Istighasah ini juga salah satu upaya memperat persaudaraan dengan adik-adik kelas dan doa untuk kelulusan seluruh siswa kelas XII," papar Jan, sapaan akrab ketua jurusan PK yang merupakan siswa kelas akhir.
Karena banyaknya siswa PK dan IPS-5, sedangkan aula PK tidak memungkinkan untuk dipenuhi dengan 150 orang, akhirnya sebagian mereka ada yang beristighasah di dalam aula dan serambi PK yang menghadap ke Timur. Sekalipun mereka harus bertarung dengan panasnya matahari, tak sedikitpun mengkedorkan semangat mereka untuk eksis beristighasah. Mereka tetap membaca amalan-amalan istighasah yang konon diberi Ustadz Waqid Yusuf walaupun dengan picingan mata dan kerutan dahi, menantang matahari.
"Kami akan membangun ukhuwah islamiyah dengan istighasah," komentar siswa kelas XI PK saat ditanyai manfaat istighasah setelah istighasah ini selesai.

Sabtu, 07 Februari 2009

TAK PEDULI JURUSAN, UTAMAKAN PROFESIONALITAS

Oleh: Muthmainnah Zaini, XII Prog. Keagamaan
Suatu hal yang selalu hangat diperbincangkan adalah tentang pendidikan. Baik secara metode, kualitas, fasilitas dari sekolah, dan lainnya.
Berkenaan dengan kualitas, bisa kita tinjau dari kualitas seorang guru. Karena kualitas guru yang baik akan melahirkan anak didik yang berkualitas baik pula. Menurut Bapak Muzayyin, ketika dilihat dari segi kualifikasi akademik seorang guru, kualitas guru di MA 1 Annuqayah putri ini masih banyak yang kurang baik. Yaitu ada beberapa guru yang mengajar tidak sesuai dengan jurusannya. Misalnya, seorang guru di jurusan Pendidikan Agama Islam mengajar matematika.
Tidak hanya karena itu semua, melainkan juga karena ada sebagian guru yang mengacuhkan training-training yang diprogramkan sekolah. Tapi sembilan dari sebelas guru MA 1 Annuqayah Putri mengakui bahwa guru di MA 1 Annuqayah Putri ini sudah cukup baik. Walaupun kenyataannya banyak yang mengajar tidak sesuai dengan jurusannya. Karena Madrasah merekrut guru dari segi profesionalitasnya, bukan karena jurusan. Sebab, tidak semua sarjana itu ahli di program study yang ia tempuh, melainkan sesuai bakat dan keahliannya masing-masing.
Di luar itu semua, kualitas guru yang lumayan bagus itu karena berulang-ulangnya guru mengajarkan suatu pelajaran. "Para guru itu sudah fasih dalam belajar karena satu pembahasan bisa disampaikan pada murid sampai enam kali." Tutur Bapak Miskola Karim, guru pengajar Ilmu Tafsir, di kediaman Beliau, kemaren. (zeet)